Sederet Pernyataan UGM soal Demo Mahasiswa Ricuh di Simpang Sudirman Jogja

Round-Up

Sederet Pernyataan UGM soal Demo Mahasiswa Ricuh di Simpang Sudirman Jogja

Tim detikJogja - detikJogja
Kamis, 03 Sep 2026 05:02 WIB
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM, Arie Sujito, Rabu (2/9/2026).
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM, Arie Sujito, Rabu (2/9/2026). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Sedikitnya enam mahasiswa terluka akibat pembubaran paksa aksi unjuk rasa mahasiswa di simpang Jendral Sudirman, Gondokusuman, oleh kelompok yang mengaku sebagai warga. Terkait kejadian tersebut, Universitas Gadjah Mada (UGM) pun mengecam keras tindakan tersebut.

Bahkan UGM menyebut, jika kejadian kekerasan terhadap mahasiswa seperti halnya membenturkan mahasiswa dengan warga. Berikut sederet pernyataan UGM.

Benturkan Mahasiswa dan Warga

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM, Arie Sujito, menegaskan tindakan kekerasan akan merugikan banyak pihak, terlebih di tengah situasi krisis ekonomi saat ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya rasa upaya membenturkan mahasiswa dengan kelompok-kelompok masyarakat itu bagian dari cara yang tidak boleh dilakukan, yang harus dilakukan sebetulnya adalah pemerintah merespons untuk memperbaiki kebijakan," kata Arie dalam jumpa pers di UGM, Rabu (2/9/2026).

"Saya khawatir ini akan menjadi model, kalau dibiarkan kekerasan ini bisa mengancam pada siapapun. Karena itu tidak ada toleransi untuk praktik-praktik kekerasan pada siapapun, pada mahasiswa, pada jurnalis, pada ormas apapun," sambung Arie.

ADVERTISEMENT


Kecam Aksi Kekerasan

Dalam kejadian pada Selasa (1/9) malam itu, enam mahasiswa dilaporkan terluka akibat penyerangan tersebut. Mereka juga sempat mendapat perawatan di Rumah Sakit Panti Rapih. Arie pun mengecam tindak kekerasan terhadap aksi penyampaian aspirasi tersebut.

"Sebetulnya tindakan kekerasan yang dilakukan, saya lihat itu baca beberapa kelompok orang pada mahasiswa itu sebetulnya semestinya bisa dicegah," ujar Arie.

"Di situ ada aparat kepolisian yang punya tanggung jawab untuk melindungi mahasiswa maupun masyarakat secara keseluruhan. Dan saya kira ini adalah juga bagian dari tanggung jawab dan memang secara hukum harus dilakukan," sambungnya.

Siap Tempuh Jalur Hukum

Dengan adanya kejadian ini, UGM pun berencana menempuh jalur hukum atas kekerasan yang menimpa sejumlah mahasiswanya.

"Jadi rencananya kayaknya begitu (menempuh jalur hukum), lagi nyiapin gitu ya. Tapi sekali lagi pesan terpentingnya itu. Siapapun melakukan kekerasan harus bertanggung jawab," ungkap Arie.

"Dan saya berharap kepolisian melindungi dan jangan sampai ada kekerasan berulang, itu aja. Ini teman-teman akan mempertimbangkan untuk proses supaya mengadvokasi ini dengan beberapa pihak," imbuhnya.

Arie juga mendorong kampus-kampus untuk melakukan upaya serupa sebagai upaya melindungi hak aspirasi mahasiswanya.

"Saya juga berharap pimpinan kampus itu untuk berkonsolidasi agar para mahasiswa sebagai bagian dari elemen intelektual yang menyampaikan aspirasi itu terus dilindungi," papar Arie.

"Bagaimanapun juga mahasiswa adalah kelompok intelektual, aktivis yang punya idealisme, punya kepekaan untuk merespon situasi. Karena itu saya berharap juga para pimpinan universitas untuk bersama-sama melindungi para mahasiswa ini," pungkasnya.

6 Mahasiswa Terluka

Enam mahasiswa dilaporkan terluka akibat pembubaran paksa aksi unjuk rasa mahasiswa di simpang Jendral Sudirman, Gondokusuman, oleh kelompok yang mengaku sebagai warga.

"Ada 6 mahasiswa ya, 5 mahasiswa dari UGM dan 1 mahasiswa UNY yang sempat dirawat di rumah sakit," jelas Direktur Kemahasiswaan UGM, Hempri Suyatna.

"Dan alhamdulillah sampe jam setengah satu sudah pulang kembali ke rumah masing-masing," sambungnya.

Enam mahasiswa itu yakni NA, MM, MT dan SK yang merupakan mahasiswi dari UGM. Mereka mengalami trauma, sesak nafas, hingga luka robek di kening dan bibir.

Kemudian ZF mahasiswa UGM yang mengalami luka memar di pelipis, perut, dan kepala belakang. Terakhir MZ, mahasiswa UNY yang mengalami luka memar di pelipis.

"Saya lihat memang ada luka akibat pukul ya, di pelipis gitu ada yang kena pukulan. Kemudian juga yang mungkin ketendang juga kena tangan dan kaki," papar Hempri.

"Ada di ini ada yang di mulut-mulut, kemudian ada yang di ini apa dijahit sini, ada yang dijahit, yang paling agak parah. Terus yang di sini kena hantaman, Sempat (berdarah), berdarah, robek di sini, ada yang dijahit," pungkasnya.



(apl/alg)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads