- Kumpulan Khutbah Jumat Maulid Nabi SAW Khutbah Jumat Maulid #1: Maulid Nabi, Kelahiran Sang Pembawa Rahmat Khutbah Jumat Maulid #2: Maulid Nabi dan 4 Sifat Teladan Rasulullah bagi Para Pemimpin Khutbah Jumat Maulid #3: Maulid Nabi Tiba, Jaga Akhlak Generasi Muda Khutbah Jumat Maulid #4: Maulid Nabi Muhammad SAW, Anugerah Terbesar dalam Sejarah Umat Manusia Khutbah Jumat Maulid #5: Meneladani Jejak Hidup Nabi Khutbah Jumat Maulid #6: 3 Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW Khutbah Jumat Maulid #7: Mengapa Kita Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW? Khutbah Jumat Maulid #8: Maulid Nabi
Maulid Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam alias momen lahirnya sang Khatamul Anbiya' selalu disambut penuh khidmat di Indonesia. Dekat-dekat momentumnya, para ustadz mengangkat tema tersebut untuk mengingatkan kembali umat Islam akan sosok sang suri tauladan.
Di samping ceramah atau kajian umum, tema Maulid Nabi SAW juga bisa diangkat dalam khutbah Jumat. Terlebih, pada waktu ibadah wajib mingguan tersebut, umat Islam berkumpul dan fokusnya hanyalah bersujud kepada Allah SWT.
Khutbah Jumat Maulid Nabi SAW tidak perlu panjang bertele-tele. Singkat pun tak mengapa. Yang terpenting, intinya tersampaikan secara apik kepada jemaah. Adanya dalil penguat menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Butuh khutbahnya? Berikut detikJogja himpunkan deretan teks khutbah Jumat terbaru seputar Maulid Nabi SAW. Baca sampai tuntas, ya!
Kumpulan Khutbah Jumat Maulid Nabi SAW
Sebagai catatan, di antara khutbah-khutbah di bawah ini ada yang diperuntukkan untuk Maulid Nabi SAW tahun-tahun lalu. Alhasil, isinya perlu disesuaikan.
Khutbah Jumat Maulid #1: Maulid Nabi, Kelahiran Sang Pembawa Rahmat
(sumber: Laman resmi Kementerian Agama)
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.
Pada hari yang mulia ini, khatib menyeru kepada jamaah sekalian untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan semaksimal mungkin, yakni takwa dalam artian menjauhi segala larangan yang ditetapkan Allah subhanahu wa ta'ala dan menjalankan perintah-Nya.
Karena dengan takwa, kita akan diberi solusi oleh Allah di setiap problematika hidup yang kita alami, juga akan ada rezeki melimpah yang datang kepada kita tanpa kita sangka-sangka.
Bulan ini adalah bulan Rabiul Awal, bulan mulia di mana penutup para nabi dan rasul dilahirkan ke dunia ini. Ya, beliaulah Baginda Besar Nabi Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam. Nabi akhir zaman, tidak ada lagi nabi-nabi setelahnya.
Jamaah yang dirahmati Allah subhanahu wa ta'ala,
Di bulan Maulid ini, seyogianya bagi kita untuk banyak-banyak bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala karena telah mengutus seorang nabi yang menjadi suri teladan yang mulia. Nabi diutus ke muka bumi ini tak lain adalah sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana Allah subhanahu wa ta'ala berfirman dalam surah al-Anbiya ayat 107:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
Imam al-Baidhawi dalam kitab tafsirnya menyebutkan sebab disebutnya pengutusan Nabi Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam sebagai rahmat dan kasih sayang bagi seluruh alam ialah karena diutusnya Nabi ke seluruh dunia di muka bumi ini menjadi sumber kebahagiaan dan kebaikan bagi kehidupan mereka di dunia maupun di akhirat kelak.
Imam Ibnu 'Abbas menyebutkan dalam tafsirnya, siapa yang menerima ajaran kasih sayang yang dibawa Nabi dan mensyukurinya, maka ia akan bahagia hidupnya. Sebaliknya, siapa yang menolak dan menentangnya, maka merugilah hidupnya.
Kasih sayang yang ditebarkan Nabi shallallahu 'alahi wa sallam bukanlah hanya ucapan semata, akan tetapi dalam hidup keseharian beliau praktikkan dan implementasikan dengan nyata.
Kasih sayang ini bentuknya universal kepada seluruh makhluk ciptaan Tuhan. Bahkan kepada orang musyrik pun Nabi Saw berlaku santun dan mengasihi.
Tidakkah kita mengingat bagaimana dahulu Nabi shallallahu 'alahi wa sallam ketika hijrah ke Thaif untuk menghindari permusuhan dari kaumnya, namun ternyata di sana malah mendapat perlakuan yang kasar dan permusuhan yang lebih parah hingga Nabi dilempari batu.
Kala itu, malaikat penjaga gunung menawarkan kepada Nabi, apabila dibolehkan maka ia akan membenturkan kedua gunung di antara kota Thaif, sehingga orang yang tinggal di sana akan wafat semua.
Namun apa sikap Nabi shallallahu 'alahi wa sallam? Nabi berucap andai mereka saat ini tidak menerima Islam, semoga anak cucu mereka adalah orang yang menyembah-Mu ya Allah! Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang tidak tahu...
Dikisahkan juga dalam hadis riwayat Shahīh Muslim, pada suatu hari, datang seorang sahabat berkata kepada Nabi, "Wahai Nabi! Doakanlah keburukan atau laknat bagi orang-orang musyrik. Kemudian Nabi menjawab, "Sungguh, aku tidaklah diutus sebagai seorang pelaknat, akan tetapi aku diutus sebagai rahmat!"
Ma'asyiral muslimin rahimakumullah.
Di antara sifat mulia Rasulullah shallallahu 'alahi wa sallam yang perlu kita teladani juga adalah sifat pemaafnya. Ingatlah kisah ketika Nabi shallallahu 'alahi wa sallam perang Uhud bersama kaum Muslimin, kala itu pamannya, Hamzah bin Abdul Muthallib ikut berperang.
Di tengah peperangan, pamannya terbunuh oleh Wahsyi, seorang budak berkulit hitam. Wahsyi tidak hanya membunuhnya dengan menghunuskan pedang begitu saja dan selesai, namun ia mencabik-cabik isi perutnya juga.
Hal ini membuat Nabi shallallahu 'alahi wa sallam sangat sedih, sakit hati dan marah. Bayangkan! Paman yang begitu dicintainya wafat dengan cara mengenaskan seperti itu.
Akan tetapi, ketika Wahsyi menyatakan diri di hadapan Nabi untuk masuk Islam, Nabi pun memaafkannya, meski beliau tidak mau melihat wajah Wahsyi lagi sebab akan terus mengingatkannya kepada peristiwa terbunuhnya pamannya.
Jamaah salat Jumat yang dirahmati Allah subhanahu wa ta'ala,
Mengenai sifat memaafkan, sungguh Allah telah berfirman dalam surat Al-A'raf Ayat 199:
خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ
"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh."
Apabila kita menjadi pribadi yang memiliki sifat pemaaf, maka dapat kita rasakan lingkungan sosial di tengah-tengah masyarakat menjadi damai, tidak ada dendam yang terjadi di antara manusia. Itulah kasih sayang yang dicontohkan oleh Nabi kita Muhammad shallallahu 'alahi wa sallam.
Semoga di bulan Maulid ini kita dapat meneladani sifat dan akhlak mulia Rasulullah, yang mana dalam mencontoh dan menerapkan akhlaknya terdapat kemaslahatan yang akan kita dapatkan, baik di dunia maupun di akhirat.
Khutbah Jumat Maulid #2: Maulid Nabi dan 4 Sifat Teladan Rasulullah bagi Para Pemimpin
(sumber: Tulisan H Muhammad Faizin di laman NU Online)
Ma'asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah,
Wasiat takwa menjadi hal penting dan harus disampaikan oleh para khatib dalam khutbahnya. Selain sebagai rukun dalam khutbah Jumat, wasiat takwa juga menjadi pengingat agar kita senantiasa berada dalam jalan yang tepat yang diridhai oleh Allah. Oleh karena itu mari kuatkan takwa kita dalam wujud senantiasa menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Semoga dengan kuatnya takwa dalam diri kita akan menjadi wasilah dibukakannya pintu-pintu solusi bagi setiap permasalahan yang kita hadapi dalam kehidupan di dunia ini. Allah berfirman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ
Artinya: "Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya." (QS At-Thalaq: 2).
Perintah takwa juga sudah diingatkan oleh Rasulullah dalam haditsnya:
اتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
Artinya: "Betakwalah kalian di mana pun kalian berada. Iringilah keburukan dengan kebaikan yang mana itu bisa menghapusnya, dan pergaulilah orang-orang dengan akhlak yang baik," (HR Imam At-Turmudzi)
Ma'asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah,
Pada kesempatan mulia ini, khatib akan menyampaikan materi khutbah yang mengangkat tema tentang pentingnya para pemimpin untuk meneladani 5 sifat Nabi Muhammad yang termaktub dalam Al-Qur'an surat At-Taubah ayat 128:
لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: "Sungguh, benar-benar telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri. Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, dan (bersikap) penyantun dan penyayang terhadap orang-orang mukmin."
Meneladani sifat-sifat Nabi ini sangat penting, terlebih saat ini kita berada di bulan kelahiran Nabi Muhammad yakni bulan Rabiul Awwal. Kelahiran Nabi bisa menjadi momentum tepat untuk meneladani banyak sisi kehidupan beliau untuk dijadikan pedoman dalam hidup setiap umat Islam, khususnya terkait dengan kepribadian dan kepemimpinan nabi.
Hal ini juga sangat penting bagi kita untuk menjadi renungan karena akhir-akhir ini kita rasakan semakin sulit menemukan dan memiliki pemimpin yang bisa dijadikan teladan serta benar-benar menyatu spiritnya dengan yang dipimpinnya.
Ma'asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah,
Bagi umat Islam, kepemimpinan adalah amanah besar yang menyangkut urusan umat. Seorang pemimpin bukan hanya mengatur dan mengarahkan, tetapi juga membawa nilai, visi, dan aspirasi dari yang dipimpinnya. Dalam Surat At-Taubah ayat 128 ini, Allah SWT menegaskan sifat-sifat agung Nabi Muhammad SAW yang patut dijadikan pedoman oleh setiap pemimpin.
Pertama adalah عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ (Berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami). Dalam ayat ini bisa dipahami bahwa Nabi Muhammad memiliki sifat mampu merasakan penderitaan rakyat. Hal ini sangat penting dicontoh para pemimpin.
Pemimpin sejati tidak tega melihat rakyatnya menderita. Pemimpin sejati ikut merasakan beban ketika rakyat kesulitan, baik dalam urusan ekonomi, sosial,dan sebagainya. Dengan empati yang mendalam, pemimpin akan terdorong untuk mencari solusi nyata, bukan hanya memberikan janji yang tak kunjung terealisasi.
Kedua adalah حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ (sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu). Rasulullah saw selalu mengharapkan kebaikan dan keselamatan bagi umatnya. Demikian pula seorang pemimpin.
Ia harus memiliki tekad kuat agar rakyatnya hidup dalam kesejahteraan, kedamaian, dan terhindar dari kebinasaan. Seorang pemimpin tidak boleh hanya memikirkan kepentingan pribadi atau kelompok, melainkan keselamatan bangsa secara menyeluruh.
Dalam kaidah fiqih, disebutkan:
تَصَرُّفُ اْلإمَام عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصْلَحَةِ
Artinya: "Tindakan penguasa terhadap rakyat harus terarah untuk mencapai kemaslahatan."
Ketiga adalah lemah lembut رَءُوْفٌ (penyantun). Kelembutan adalah kekuatan moral seorang pemimpin. Dengan sikap santun, pemimpin bisa menenangkan kegelisahan rakyat dan meredam konflik. Kelembutan tidak berarti lemah, melainkan menunjukkan kebijaksanaan dalam bertindak.
Pemimpin yang santun senantiasa mampu memberikan pernyataan dengan diksi dan kata yang tepat. Pemimpin yang santun bukan hanya bisa memberi mauidzah hasanah namun juga mampu memberi uswatun hasanah.
Keempat adalah رَّحِيْمٌ (Penuh kasih sayang). Kasih sayang adalah dasar bagi setiap kebijakan. Pemimpin yang penuh kasih dan sayang akan memutuskan sesuatu dengan memperhatikan dampaknya bagi rakyat kecil, kaum lemah, dan mereka yang membutuhkan perlindungan. Kasih sayang mencegah seorang pemimpin berlaku zalim, sekaligus menjadikan kepemimpinannya dirasakan sebagai rahmat.
Ma'asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah,
Dalam Islam, kepemimpinan bukan sekadar jabatan, tetapi amanah yang harus dijalankan dengan empati, kasih sayang, dan keberpihakan pada rakyat. Rasulullah saw adalah teladan utama seorang pemimpin karena dekat dengan umat, peduli terhadap penderitaan mereka, mengharapkan keselamatan mereka, serta memimpin dengan kelembutan dan kasih sayang.
Jika sifat-sifat ini dihidupkan oleh para pemimpin hari ini, maka kepemimpinan tidak hanya menjadi alat kekuasaan, melainkan jalan menghadirkan keadilan, kesejahteraan, kemakmuran, dan kedamaian bagi seluruh rakyat.
Surat At-Taubah ayat 128 memberikan gambaran kepada kita bahwa Rasulullah adalah pribadi dan pemimpin yang ideal dan sangat menyayangi umatnya. Hal ini juga dibuktikan dengan riwayat yang menyebutkan bahwa di akhir hayatnya, yang terucap dari lisan Rasulullah adalah kalimat "Umatku, umatku!...". Inilah wujud cintanya beliau kepada kita semua.
Ma'asyiral Muslimin, jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah,
Mengakhiri khutbah ini, pada momentum Maulid Nabi ini mari kita senantiasa meneladani sifat-sifat beliau dalam hal kepemimpinan. Kita perlu sadari juga bahwa setiap kita adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban dari kepemimpinan kita. Rasulullah bersabda:
أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
Artinya: "Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin." (HR al-Bukhari).
Khutbah Jumat Maulid #3: Maulid Nabi Tiba, Jaga Akhlak Generasi Muda
(sumber: Laman Kementerian Agama)
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah swt. Shalawat dan salam senantiasa kita haturkan kepada Rasulullah saw. Semoga kita senantiasa termasuk golongan hamba yang pandai bersyukur dan mendapatkan syafaat dari Nabi Agung Muhammad saw di hari kiamat. Amin.
Saat ini, kitasedangberadadibulan Rabiul Awwal yang di Indonesia lebih sering disebut sebagai bulan Maulid. Disebut demikian memang karena dalam bulan ini terjadi sebuah kejadian agung yakni kelahiran Nabi Muhammad saw. Sosok paling mulia di dunia, sosok yang kita diperintahkan untuk senantiasa bershalawat untuk meraih syafaatnya. Bukan hanya kita saja yang bershalawat, Malaikat dan Allah swt pun bershalawat kepada beliau. Hal ini termaktub dalam Al-Qur'an surat Al-Ahzab ayat 56:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,
Kehadiran Nabi Muhammad ke dunia ini membawa sebuah misi penting di antaranya adalah memperbaiki akhlak manusia. Misi ini menandakan bahwa akhlak menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia karena itulah yang akan membawa perdamaian dan ketentraman dalam setiap interaksi manusia dengan lingkungan sekitar. Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari, Baihaqi, dan Hakim:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخَلاقِ
"Sungguh aku diutus menjadi Rasul untuk menyempurnakan akhlak yang mulia."
Akhlak menjadi bagian utama dalam bangunan kepribadian seorang muslim sehingga para ulama menyebut bahwa "Al-Adabu fauqal ilmi'. Bahwa adab, tatakrama, akhlak, di atas ilmu yang dalam artian harus didahulukan untuk dimasukkan dalam diri setiap muslim.
Dalam pendidikan pun sudah seharusnya mengedepankan aspek afektif (sikap dan karakter) dibanding aspek kognitif (kepintaran otak). Maka itu fungsi guru dan orang tua yang paling utama adalah mendidik agar generasi muda menjadik baik. Bukan hanya mengajar untuk menjadikan generasi muda menjadi pintar.
Pendidikan karakter dan akhlak generasi muda di era saat ini menjadi sangat dan sangat penting. Hal ini karena tantangan dan godaan zaman di tengah perkembangan teknologi semakin menjadi-jadi. Akibat perkembangan teknologi dan informasi saat ini, ancaman terhadap degradasi moral sangat terlihat di depan mata. Kita lihat bagaimana saat ini akhlak para pemuda sudah mulai tereduksi akibat gaya hidup digital di zaman modern.
Kejadian tindakan kriminal, asusila, kurangnya kepedulian sosial dan menurunnya rasa sosial-kemanusiaan yang dilakukan dan dimiliki generasi muda mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Saat ini kita rasakan mereka lebih asik bermain di dunia maya dengan ponselnya dari pada bersosialisasi di dunia nyata.
Kebiasaan berkomentar di media sosial yang tak melihat dengan siapa ia berbicara, terbawa dalam kehidupan nyata. Sehingga bisa dirasakan mereka menyamakan antara berbicara dengan teman dan berbicara dengan orang tua.
Gampangnya berkomunikasi, berinteraksi, dan mencari informasi juga sedikit demi sedikit menjadikan para generasi muda menggampangkan berbagai hal. Ini berdampak kepada sikap malas dan mudah menyerah pada tantangan permasalahan yang dihadapi. Mereka terdidik dengan hasil yang instan tanpa perjuangan berat dan menghilangkan etos perjuangan serta sikap tak kenal menyerah.
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,
Fenomena-fenomena ini patut direnungi oleh kita dan para orang tua pada umumnya. Momentum Maulid Nabi Muhammad saw menjadi saat yang tepat untuk kembali memperkuat penjagaan pada akhlak generasi penerus. Perlu dipantau aktivitas mereka saat memegang handphone agar akhlak bisa benar-benar terjaga.
Akhlak menjadi barometer apakah seseorang menjadi insan terbaik atau tidak. Bukan kepintaran yang menjadi barometer!. Rasulullah bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Thabrani dari Ibnu Umar:
خَيْرُ النَّاسِ أحْسَنُهُمْ خُلُقًا
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik akhlaknya."
Sudah saatnya di bulan Maulid ini kita kembali meneladani akhlak Nabi yang merupakan suri tauladan terbaik sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an surat Al-ahzab ayat 21:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
"Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah."
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,
Selain menjadikan Maulid sebagai momentum menjaga akhlak generasi muda, mari jadikan bulan Maulid ini sebagai kesempatan meningkatkan kuantitas dan kualitas shalawat dan cinta kita kepada Nabi Muhammad. Perbanyak shalawat, insyaallah hidup menjadi nikmat karena mendapat syafaat di hari kiamat.
Syafaat dari Nabi Muhammad menjadi hal yang sangat penting untuk kita raih. Karena kita tidak tahu ibadah mana yang akan diterima di sisi Allah. Menurut kita kuantitas dan kualitas ibadah sudah maksimal, namun belum tentu di sisi Allah swt. Sehingga kita perlu senantiasa berdoa untuk meraih rahmat dari Allah serta perbanyak bershalawat kepada Nabi untuk meraih syafaatnya.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, disebutkan ada seorang sahabat yang mengadu kepada Nabi. Ia merasa tidak rajin dalam menjalankan ibadah namun punya modal kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Jawaban Nabi pun sangat menggembirakan. Nabi mengatakan sahabat tersebut akan dikumpulkan bersama Nabi di hari kiamat.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَتَى السَّاعَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
"Dari sahabat Anas, sesungguhnya seorang laki-laki bertanya kepada Nabi, kapan hari kiamat terjadi ya Rasul? Nabi bertanya balik, apa yang telah engkau persiapkan? Ia menjawab, aku tidak mempersiapkan untuk hari kiamat dengan memperbanyak shalat, puasa dan sedekah. Hanya aku mencintai Allah dan Rasul-Nya. Nabi berkata, engkau kelak dikumpulkan bersama orang yang engkau cintai. (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Maasyiral Muslimin rahimakumullah,
Semoga kita bisa meneruskan dan mewujudkan misi Nabi kepada para generasi muda yakni menjadikan akhlak mulia sebagai sendi-sendi peradaban kehidupan manusia. Semoga kita senantiasa bisa meneladani akhlak Nabi dan kita akan menjadi umatnya yang mendapatkan syafaatnya dan masuk dalam surganya Allah swt. Amin.
Khutbah Jumat Maulid #4: Maulid Nabi Muhammad SAW, Anugerah Terbesar dalam Sejarah Umat Manusia
(sumber: Laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Digital)
"Katakanlah (Muhammad), "Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."
Jamaah shalat Jumat yang berbahagia...
Mensyukuri nikmat Allah SWT dengan cara mendayagunakan setiap nikmat itu dalam rangka beribadah kepada-Nya merupakan suatu keniscayaan yang harus dilakukan oleh setiap hamba Allah, jika ingin agar nikmat-nikmat tersebut menjadi bertambah.
Shalawat teriring salam semoga selalu tercurah kepada manusia sempurna nan agung dan tiada manusia yang bisa memberikan suri teladan yang terbaik untuk ummat seluruh dunia kecuali dia, Nabi Muhammad SAW dan kepada keluarganya, sahabatnya dan setiap umat yang setia mengikutinya.
Dalam kesempatan ini khatib ingin berwasiat, khususnya diri khotib dan umumnya kita semua untuk selalu berusaha semaksimal mungkin meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT dengan melaksanakan setiap perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya. Semoga dengan demikian Allah mencatat kita sebagai bagian hamba-hamba yang bertakwa sampai kita dipanggil oleh-Nya.
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah...
Bulan Rabiul Awal merupakan bulan yang akan selalu dikenang oleh umat Islam di seluruh dunia. Dalam bulan tersebut lahir manusia paripurna, kekasih dan menjadi Nabi dan Rosul Allah SWT. Kelahiran Nabi merupakan anugerah terbesar sepanjang sejarah bagi umat Islam.
Dialah yang telah diberikan kemampuan oleh Allah SWT mengubah dari jalan kegelapan menuju jalan yang terang benderang. Beliau telah membawa risalah yang telah memberikan pencerahan bagi umat yang asal mula tidak mengenal Allah, bahkan tidak percaya kepada-Nya, menjadi umat yang tidak sekadar beriman kepada Allah tetapi juga menjalankan setiap perintah-perintah Allah dan Rasul-Nya.
Nabi Muhammad sebagai utusan Allah terakhir dengan risalah yang dibawanya merupakan perwujudan nyata dari sifat Rahman dan Rahim Allah SWT terhadap para hamba-Nya. Proses dakwah yang dilakukan oleh Nabi selalu menggunakan pendekatan kasih sayang dengan diiringi perilaku yang baik.
Karena itulah maka kehadirannya di muka bumi ini menjadi rahmat bagi seluruh alam. Hal ini sesuai apa yang telah difirmankan Allah dalam surat Al-Anbiya, 107 :
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
"Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."
Ayat di atas memberikan pengertian kepada kita, bahwa Nabi Muhammad adalah sosok manusia paripurna yang di dalam dirinya terdapat untaian mutiara hikmah sebagai obor penerang dalam hidup dan kehidupan bagi sekalian penghuni alam. Kehadirannya sebagai juru selamat yang mengantarkan kebahagiaan lahir dan batin, dunia dan akhirat.
Kelahiran beliau harus kita syukuri dan kita sambut dengan kegembiraan yang mendalam sebagai starting point bagi umat manusia dalam konteks peningkatan pengabdian dan ketaatan kepada Khaliq sebagai Zat yang telah menyempurnakan kenikmatan-Nya. Allah SWT berfirman dalam surat Yunus ayat 58 :
قُلْ بِفَضْلِ اللّٰهِ وَبِرَحْمَتِهٖ فَبِذٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوْاۗ هُوَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ
Katakanlah: "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan".
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah...
Merupakan suatu keniscayaan bagi seluruh umat Nabi Muhammad SAW mengekspresikan syukur dan kegembiraan mereka atas kelahirannya untuk mengadakan peringatan maulid dalam rangka meneladani sosok manusia yang membawa rahmah bagi seluruh alam.
Dalam pada itu umat juga mengadakan kegiatan social kemasyarakatan yang kemanfaatannya bisa dinikmati oleh masyarakat sebagai bentuk manifestasi dari mencontoh Rasul yang selalu menolong kepada sesama.
Dalam sejarah telah dicatat, bahwa kehadiran Nabi di dunia ini membawa kebenaran dan sekaligus membawa kabar gembira bagi umat yang mengikutinya dengan setia. Beliau juga memberikan peringatan kepada umat manusia untuk tidak mengingkari Allah dan Rasul-Nya agar tidak celaka di kelak kemudian hari. Dalam hal ini Allah SWT berfirman dalam surat al-Fathir, ayat 24:
اِنَّآ اَرْسَلْنٰكَ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا ۗوَاِنْ مِّنْ اُمَّةٍ اِلَّا خَلَا فِيْهَا نَذِيْرٌ
"Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan."
Berdasarkan ayat di atas, kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa seandainya Allah SWT tidak mengutus Nabi Muhammad SAW, bisa jadi masyarakat pada masa itu semakin rusak dan tertimbun malapetaka kejahilan, kesesatan, kemusyrikan, kemunafikan dan kemungkaran.
Keberadaan Nabi Muhammad SAW dengan membawa syariat yang benar, dapat mengubah masyarakat yang kafir, selalu berbuat kemungkaran dan kesesatan menjadi sebagian masyarakat yang beriman, berbudaya dan mejauhkan mereka dari kesesatan serta kemungkaran.
Beliau juga sebagai sosok pribadi yang mampu menyatukan umat manusia, khususnya bangsa Arab pada waktu itu dalam satu wadah dan panji kebenaran, yaitu Islam. Pada saat yang sama beliau juga dalam waktu yang tidak lama mampu mengubah masyarakat yang bejat, tidak bermoral, yang kuat menindas yang lemah dan merusak tatanan sosial menjadi masyarakat yang berbudaya, beretika, bermoral dan beradab, hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW :
اِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ
"Sesungguhnya aku diutus (sebagai Rasul) untuk menyempurnakan akhlak" (HR. Bukhari)
Hadirin sidang Jumat rahimakumullah...
Peran Nabi Muhammad SAW dalam mengubah tatanan sosial secara revolusioner dari kegelapan menjadi terang benderang, dari ketidak teraturan menjadi teratur, tertib, saling menghargai dan hukum menjadi rujukan utama yang berkeadilan untuk seluruh umat. Sejarah telah mencatat betapa Nabi Muhammad pemimpin yang tiada banding dalam membawa umatnya dari kemaksiatan menjadi ketaatan.
Nabi pembawa risalah dan sekaligus menjadi perwujudan rahman dan rahimnya Allah SWT, sehingga setiap umat yang mentaatinya berarti mereka mentaati Allah SWT dan terpelihara dari kesesatan. Allah berfirman dalam surat An-Nisa, ayat 80 :
مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَاعَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَآ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا ۗ
"Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling dari (ketentuan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka."
Demikian juga jika manusia mentaati, mencintai dan mengikuti Rasul, maka mereka tergolong manusia akan dicintai oleh Allah SWT, sebagaimana Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 31. :
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ ...
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah' ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu."
Dalam momentum hari kelahiran Nabi, mari kita sebagai umatnya selalu mengenang bukan hanya sosok pribadi Nabi tapi yang lebih penting adalah bagaimana kita mengamalkan ajaran-ajaran beliau dalam kehidupan sehari-hari, baik ucapan, perbuatan dan ketetapan-ketetapan beliau.
Ajaran-ajaran beliau menjadi rujukan kedua setelah Alquran, baik dalam hukum halal haram, muamalah, jual beli, nikah dan lain-lain. Karena itu, maka barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasulnya akan benar-benar menjadi orang-orang yang sangat beruntung sebagaimana firman Allah dalam surat al-Ahzab ayat 71:
..... وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
"Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar."
Di akhir khutbah ini, khatib ingin mengutip sebuah ungkapan yang indah dari Abdullah bin Abas yang mengatakan bahwa :
اِنَّ الْفَضْلَ الْعِلْمَ وَالرَّحْمَةَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
"Sesungguhnya karunia, baik berupa ilmu dan rahmah (kasih sayang) adalah Nabi Muhamad SAW." (Syekh Al-Alusi, Tafsir Ruhul Ma'ani, juz 8/41)
Khutbah Jumat Maulid #5: Meneladani Jejak Hidup Nabi
(sumber: Tulisan Cristoffer Veron P di laman Suara Muhammadiyah)
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Alhamdulillah, pertama-tama marilah kita senantiasa memancarkan rasa syukur kehadirat Allah SwT. Tuhan Yang Maha Kasih lagi Pengasih, Sang Pencipta Pemberi anugerah hidup ini. Dialah yang telah memberikan kesempatan kita hidup untuk kesekian kalinya dengan merasakan nikmat sehat, sehingga dapat menjalani aktivitas dalam kondisi sehat tanpa adanya kekurangan suatu apapun.
Shalawat dan salam semoga dilimpahkan Allah SwT kepada Nabi Besar Muhammad Saw. Nabi akhir zaman yang dihadirkan Allah SwT untuk menyampaikan risalah Islamiyah sebagai petunjuk dan pedoman hidup bagi seluruh umat manusia. Sosok manusia agung yang memberikan secercah nur keteladanan laik dijadikan pengajaran bagi kita. Dengan demikian, hidup ini makin bermakna dan berwarna kini dan di masa mendatang.
Ma'asyiral Muslimin Rahimakumullah
Tanggal 28 September 2023 bertepatan 12 Rabiul Awal 1445 H umat Islam mengenang kelahiran Nabi Muhammad Saw. Adalah sosok adiluhung di muka bumi dilahirkan di Makkah dan wafat di Madinah kota peradaban. Umat Islam terpinga-pinga mendengar kisah hidup bertabur tarbiyah lewat shirah nabawiyah (historis Nabi). Hidupnya sarat dengan keteladanan yang sangat laik dipetik pelajarannya.
لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِي رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٞ لِّمَن كَانَ يَرۡجُواْ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡأٓخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرٗا
Artinya: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah". (Qs al-Ahzab [33] ayat 21).
Lewat redaksi surat ini, Tuhan menunjukkan eksistensi kepribadian Nabi memiliki keteladanan yang tepat dijadikan patron bagi umat Islam. Hal tersebut berorientasi agar memperoleh kebahagiaan hakiki dunia dan akhirat.
Dalam kesehariannya, Nabi memancarkan kemuliaan perilaku. Di sini ada satu keteladanan yang bisa diejawantahkan, yakni meniru perilakunya. Berbicara perilaku Nabi, tidak perlu dinafikan karena demikianlah Tuhan sendiri mengatakan,
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ
Artinya: "Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung". (Qs al-Qalam [68] ayat 4).
Ma'asyiral Muslimin Rahmikamullah
Kemuliaan perilakunya seperti kasih sayang, cinta perdamaian, lapang hati, menahan amarah, dan masih banyak lagi. Karena itu, dalam memperingati Maulid Nabi, penting untuk berkontemplasi apakah kita sudah memiliki kemuliaan perilaku sebagaimana Nabi teladankan?
Melongok abad kontemporer, masyarakat cenderung subversif dalam menjalani kehidupan. Hal itu terbukti dengan begitu masifnya tragedi kemanusiaan di sekitar kita. Yakni manusia saling menghujat, memfitnah, bahkan melakukan pembunuhan antarsesama manusia.
Semua itu sampai sekarang masih terus terjadi dengan spektrum makin luas. Terlebih pesatnya kemajuan digital dengan serba kemudahannya, menjadi wahana empuk bagi para pelaku perusak keharmonian hidup berbangsa. Melihat realitas di atas, masih banyak yang perlu diperbaiki dalam diri kita bersama.
Selain itu, keteladanan lain dari Nabi yakni berdakwah. Nabi berdakwah selama tempo 23 tahun mampu mentransformasikan peradaban Jahiliyah menjadi tercerahkan. Dakwahnya sangat damai tak pernah menebar kebencian dan permusuhan.
Metode dakwahnya hikmah dan kebajikan (Qs al-Nahl [16] ayat 125), hatta Islam dapat pahami secara rasional tak pelak sampai saat ini ada sekitar 2 miliar manusia di dunia memeluk Islam.
Ma'asyiral Muslimin Rahmikamullah
Maka kalau ingin menyemai ajaran Islam, berdakwahlah dengan santun. Jangan jadikan dakwah ajang merendahkan, menista, bahkan mendiskriminasikan hanya karena perbedaan. Berdakwah harus bisa mendamaikan dan menyatukan lintas perbedaan. Jadikan dakwah pintu utama untuk membangun kehidupan kebangsaan harmoni lagi mencerahkan di jagat semesta raya.
Nabi telah memberikan keteladanan luar biasa. Kini giliran kita untuk mengcopy-paste aneka keteladanannya. Mudah-mudahan hidup kita makin berwarna dengan meneladani jejak hidup Nabi akhir zaman tersebut.
Khutbah Jumat Maulid #6: 3 Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW
(sumber: Tulisan Ustadz Yoyon Syukron Amin di laman NU Cirebon)
Hadirin Jama'ah Jumat Rahimakumullah...
Dalam kesempatan yang baik ini, saya berwasiat kepada diri saya sendiri dan hadirin kaum Muslimin semua untuk selalu meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Swt.
Hadirin Jama'ah Jumat Rahimakumullah...
Bulan Rabi'ul Awal adalah bulan kelahiran manusia terpilih, yaitu Rasulullah Saw. Maka sebagai umatnya, wajib kiranya kita mengungkapkan syukur yang tak terhingga. Sebab kelahiran baginda Rasulullah Saw adalah termasuk nikmat yang agung.
Tentu bukan hanya sekadar merayakannya tetapi ada proses perenungan dan refleksi diri didalam pelaksanaannya. Maka dalam perayaan Maulid setidaknya ada 3 hikmah yang mesti kita ambil.
Yang pertama, perayaan maulid bisa menambahkan kecintaan kita kepada baginda Muhammad Saw.
Dalam perayaan maulid dengan membacakan Riwayat beliau baik dalam maulid Barzanji, Dziba'i atau Simtuduror dengan mengartikan setiap bacaannya akan menumbuhkan rasa kagum yang luar biasa pada Rasulullah manusia yang memiliki kesempurnaan.
Hal ini dapat menumbuhkan kecintaan yang mendalam kepada beliau, sehingga kita benar-benar berterima kasih kepada Allah Swt yang telah mengutus beliau sebagai rahmatan lil alamin. Seperti yang dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-Anbiya Ayat 107
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
Artinya, "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam."
Yang kedua: memahami sejarah perjuangan Baginda Muhammad Saw.
Di dalam memperjuangkan Islam, Rasulullah begitu mengalami banyak kesulitan, masalah, dan bahkan ancaman pembunuhan. Harta benda, tenaga, pikiran, bahkan nyawa menjadi taruhannya dalam mensyiarkan agama Allah.
Di dalam berjihad Rasulullah bukan sekadar mengajak dan memerintah para sahabatnya saja, melainkan beliau juga langsung turun ke medan perang. Beliau ikut dalam perang Badar, Uhud, dan khandak.
Maka kita yang menjadi umatnya tidak akan mungkin sanggup mengikuti Rasulullah dan para sahabat di dalam li il I kalimatillah (menegakkan kalimat lailahaillah). Sehingga bagi kita cukuplah memperjuangkan Islam sesuai kemampuan kita dan kesesuaian era masyarakat modern saat ini. Salah satunya adalah berbahagia dan merayakan maulid Nabi besar Muhammad Saw.
Hadirin Jama'ah Jumat Rahimakumullah...
Yang ketiga: Perayaan Maulid Nabi Muhammad Saw diharapkan bisa menjadi cerminan kita untuk mengikuti dan meniru akhlak Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah (suri tauladan yang baik).
Allah Swt berfirman dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 21:
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا
Artinya: "Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah."
Ayat tersebut menjadi pokok/dasar di dalam meneladani Rasulullah Saw dalam segala perkataan, perbuatan, maupun perilaku beliau.
Hadirin Jama'ah Jumat Rahimakumullah...
Marilah kita jadikan kehadiran Rasulullah di bulan maulid ini sebagai rahmat bagi kita semua. Rahmat karena kita memiliki peluang untuk membuktikan cinta kita dengan mengamalkan tiga hikmah yang terkandung dalam memperingati kelahiran Baginda Muhammad Saw.
Khutbah Jumat Maulid #7: Mengapa Kita Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW?
(sumber: Tulisan KH Nur Rohmad di laman MUI Digital)
Ma'âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allâh SWT satu-satunya Tuhan yang wajib dan berhak disembah, Pencipta segala sesuatu, yang menakdirkan terjadinya segala sesuatu, Mahakuasa atas segala sesuatu, tidak membutuhkan kepada segala sesuatu dan berbeda dengan segala sesuatu, yang tidak membutuhkan kepada tempat dan arah serta Mahasuci dari bentuk dan ukuran.
Kaum Muslimin yang berbahagia...
Hari ini kita telah berada pada hari ke-9 bulan Rabi'ul Awwal. Bulan maulid Nabi. Bulan kelahiran Nabi. Pada bulan Rabi'ul Awwal, dari tahun ke tahun, sejak pertama kali perayaan maulid dilakukan pada awal abad ketujuh hijriah, umat Islam di berbagai belahan dunia selalu merayakannya dengan penuh kegembiraan dan suka cita.
Ma'âsyiral Muslimîn rahimakumullâh...
Mengapa kita merayakan maulid? Karena kelahiran Nabi Muhammad SAW ke muka bumi ini adalah nikmat dan rahmat teragung yang Allâh anugerahkan kepada kita. Perayaan maulid adalah bentuk syukur kita kepada Allah SWT atas nikmat yang sangat agung ini.
Dengan sebab beliau, kita mengenal Allah, satu-satunya Tuhan yang berhak dan wajib disembah. Tuhan Pencipta segala sesuatu. Tuhan yang tidak menyerupai segala sesuatu. Tuhan yang tidak membutuhkan kepada segala sesuatu. Dengan sebab beliau, kita mengenal Islam, satu-satunya agama yang benar. Satu-satunya agama yang diridlai Allah SWT. Agama yang dibawa dan diajarkan oleh seluruh nabi dan rasul. Agama yang dengannya, kita akan selamat di kehidupan akhirat.
Perayaan maulid adalah bentuk kecintaan kita kepada insan yang paling mulia dan makhluk yang paling utama, Baginda Rasulullah SAW. Melalui perayaan maulid, kita diingatkan untuk terus mencintai Baginda Nabi. Melalui perayaan maulid, kita tanamkan pada diri umat Islam kecintaan kepada Nabi mereka, Nabi agung Muhammad SAW. Nabi yang cintanya kepada umat melebihi cinta mereka kepadanya.
Salah satu bukti cinta baginda kepada umatnya adalah sabda beliau:
لِكُلّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ، فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِيْ شَفَاعَةً لِأُمَّتِيْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ (رَوَاهُ مُسْلِمٌ)
Maknanya: "Setiap nabi memiliki kesempatan berdoa yang dikabulkan, maka semua nabi meminta segera dengan doanya, dan aku simpan doaku sebagai syafa'at untuk ummatku di hari kiamat" (HR. Muslim)
Pada hari kiamat kelak, dikatakan kepada Baginda:
يَا مُحَمَّدُ سَلْ تُعْطَ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ
"Wahai Muhammad, mintalah maka engkau akan diberi, berilah syafa'at maka syafa'atmu akan diterima."
Baginda menjawab:
أَيْ رَبِّ أُمَّتِيْ أُمَّتِيْ (رَوَاهُ النَّسَائِيُّ)
"Wahai Tuhanku, umatku umatku." (HR an-Nasa'i)
Ma'âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Perayaan maulid di bulan Rabi'ul Awwal mengingatkan kita akan keagungan baginda, keutamaannya, akhlaknya, perjuangannya, gambaran ketampanan dan keindahan jasad mulianya. Ketika dilantunkan puji-pujian kepadanya dan jamaah maulid mulai menyebut-nyebut namanya, biasanya kita akan terbawa suasana haru. Dalam hati kita berucap, "Andai saja aku mendapat kemuliaan bertemu dengan baginda, meskipun dalam mimpi."
Seorang mukmin sejati pasti merindukan baginda Nabi. Seorang mukmin sejati pasti-lah sangat ingin bertemu dengan baginda walaupun sekejap pandangan mata dalam mimpi.
Hadirin jamaah shalat Jumat rahimakumullah
Suatu ketika, sahabat Bilâl al-Habasyi melihat dalam mimpi wajah baginda Nabi yang memancarkan cahaya. Begitu terbangun, rasa rindu yang membuncah dan gelora cinta yang menyala-nyala memandunya untuk memacu hewan tunggangannya melewati gurun-gurun pasir yang tandus. Ia percepat perjalanannya di malam dan pagi hari, agar dapat segera sampai ke Madinah.
Sesampainya di Madinah, ia lantas berdiri di dekat peraduan baginda, di dekat makamnya. Air mata pun mengalir deras dari kedua matanya. Ia tumpahkan air mata agar dapat meringankan kerinduan yang bergejolak di hati. Akan tetapi mana mungkin kerinduan itu terobati? Bilâl-lah yang sebelum meninggal, melontarkan perkataan:wa
غَدًا نَلْقَى الْأَحِبَّةْ مُحَمَّدًا وَصَحْبَهْ
"Besok di akhirat aku akan menemui orang-orang yang aku kasihi, yaitu Muhammad dan para sahabatnya."
Ma'âsyiral Muslimîn rahimakumullâh...
Mengapa kita merayakan maulid? Karena perayaan maulid adalah salah satu bentuk syukur kita kepada Allâh SWT atas kelahiran Nabi yang kita cintai.
Bahkan Rasulullah SAW sendiri yang mengajarkan kepada kita untuk mensyukuri hari kelahirannya. Ketika ditanya tentang puasa sunnah hari senin, beliau menjawab:
ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَأُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ (رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالْبَيْهَقِيُّ فِي الدَّلَائِلِ)
Maknanya: "Itu adalah hari di mana aku dilahirkan dan diturunkan wahyu pertama kepadaku" (HR Ahmad dan al-Baihaqi dalam Dalâ'il an-Nubuwwah)
Ma'âsyiral Muslimîn rahimakumullâh...
Mengapa kita merayakan maulid? Karena perayaan maulid adalah bentuk pengamalan terhadap hadits:
لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ)
Maknanya: "Tidak sempurna iman salah seorang di antara kalian, hingga aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia." (HR al-Bukhâri)
Peringatan maulid adalah salah satu sarana untuk menanamkan dan menebarkan cinta terhadap Rasulullah kepada lintas generasi, agar mereka terpaut hati dengannya. Bahkan peringatan maulid termasuk salah satu amal yang paling utama karena menuntun kita menuju cinta yang mulia ini. Yaitu cinta kepada insan pilihan yang telah datang menyelamatkan umat manusia dari kesesatan, kezhaliman, kejahiliahan, kemusyrikan dan kekufuran.
Melalui peringatan maulid, kita belajar, mengajarkan dan saling mengingatkan bahwa Rasûlullâh SAW adalah manusia yang paling mulia.
Dengan mengetahui ketinggian derajat dan kemuliaannya, in syâ-a Allâh cinta dan pengagungan kita kepadanya semakin menguat dan mendalam. Cinta inilah yang akan mendorong kita untuk menjalankan perintahnya dan mengikuti ajaran-ajarannya.
Ma'âsyiral Muslimîn rahimakumullâh...
Mengapa kita merayakan maulid? Karena dalam peringatan maulid, kita belajar dan mengajarkan tentang ciri-ciri fisik mulia Rasulullah SAW. Barang siapa yang melihatnya dalam mimpi, sungguh ia akan melihatnya dalam keadaan jaga sebagaimana sabda Baginda:
مَنْ رَءََانِيْ فِيْ الْمَنَامِ فَسَيَرَانِيْ فِيْ الْيَقَظَةِ (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ)
Maknanya: "Barang siapa melihatku dalam mimpi, maka ia akan melihatku dalam keadaan jaga" (HR al-Bukhari dan Muslim)
Dalam peringatan maulid, dibacakan sirah nabawiyyah (sejarah hidup Nabi SAW). Diceritakan bahwa Nabi SAW tumbuh dalam keadaan yatim. Maka keyatiman seseorang jangan sampai menghalanginya untuk berakhlak dengan akhlak-akhlak Nabi SAW dan beradab dengan adab-adabnya.
Dengan mengkaji sejarah hidup Nabi SAW , kita belajar kejujuran dari aktivitas dagangnya. Betapa beliau adalah orang yang sangat jujur dalam berniaga sehingga keberkahan begitu tampak pada hartanya. Dengan membaca dan mendengarkan sejarah hidup beliau disampaikan dalam peringatan maulid, para dai belajar berbagai metode dakwah dari baginda.
Beliau memulai dakwah sendirian, menyeru dan mengajak kepada Islam hingga agama yang mulia ini menyebar ke seluruh penjuru jazirah arab. Estafet dakwah sepeninggal beliau dilanjutkan oleh para sahabatnya.
Hingga Islam menyebar ke berbagai belahan dunia. Dalam pembacaan terhadap sejarah hidupnya, terdapat pelajaran bagi umat untuk berakhlak dengan akhlak yang mulia. Nabi SAW bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الْأَخْلَاقِ (رَوَاهُ الْبَزَّارُ وَالْبَيْهَقِيُّ)
Maknanya: "Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia." (HR al-Bazzar dan al-Baihaqi)
Dalam rangkaian acara peringatan maulid Nabi, banyak sekali perbuatan baik yang dianjurkan oleh syariat, seperti pembacaan ayat al-Qur'ân, sedekah makanan, doa bersama dan menjadi ajang shilaturrahim serta mengokohkan simpul-simpul tali persaudaraan antarsesama umat Islam. Dan tentu saja menjadi sebuah kegiatan untuk memperbanyak bacaan shalawât sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا
Maknanya: "Bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam kepadanya" (QS. Al-Ahzâb: 56)
Ma'âsyiral Muslimîn rahimakumullâh..
Demikian khutbah singkat pada siang hari yang penuh keberkahan ini. Semoga semakin menambah kecintaan kita kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Amin.
Khutbah Jumat Maulid #8: Maulid Nabi
(sumber: Laman resmi Pondok Pesantren Lirboyo)
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Pada kesempatan ini, khotib berwasiat khususnya kepada diri khotib sendiri dan umumnya kepada para jamaah sekalian untuk kita tingkatkan iman dan takwa kita kepada Allah subhanahu wa ta'ala.
Iman dalam pengertian
التَّصْدِيْقُ الجَازِمُ بِمَا جَاءَ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Yaitu pembenaran hati kita secara mantap terhadap seluruh ajaran yang dibawa oleh Baginda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.
Dan takwa dalam pengertian
امْتِثَالُ أَوَامِرِ اللهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ سِرًّا وَعَلَانِيَّةً ظَاهِرًا وَبَاطِنًا
Kita melaksanakan segala perintah Allah subhanahu wa ta'ala dan kita menjauhi segala larangan-Nya. Sirran wa alâniyatan. Baik sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Dhâhiran wa bâtinan. Lahir maupun batin.
Dilihat maupun tidak dilihat orang. Dipuji maupun tidak dipuji orang. Kita tetap melaksanakan apa yang diwajibkan Allah subhanahu wa ta'ala kepada kita.
Wasiat ini bukanlah sekadar wasiat rutin yang disampaikan para khotib di mimbar Jumat, namun menurut Imam al Haddad, dalam kitab an-Nashaih ad-Diniyyah, wasiat takwa adalah:
وَصِيَّةُ اللهُ رَبُّ الْعَالمَين لِلأَوَّلِيْنَ وَالأخِرِيْن وَالسَّابِقِيْنَ وَاللَّاحِقِيْنَ
Wasiat Allah subhanahu wa ta'ala Tuhan semesta alam bagi orang-orang dahulu, sekarang maupun yang akan datang. Semoga Allah Ta'al a menerima ketakwaan kita baik yang wajib maupun yng sunnah. Amin ya Robbal Alamin.
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Dalam buku berjudul Cahaya karya al Imam al Habib Abu Bakar bin Hasan Al Athas Azzabidi, menjelaskan pernah terjadi percakapan antara Allah ta'ala dengan Nabiyullah Dawud Alaihissalam. Yaitu Nabiyulloh Dawud Alaihissalam bertanya kepada Allah ta'ala: "Ya Allah, nikmat apakah yang kecil pada sisi-Mu?".
Allah ta'ala menjawab, "Napas yang kamu hirup sehari-hari adalah nikmat yang kecil pada sisi-Ku". Bayangkan, napas yang kita hirup sehari-hari, yang menjadi oksigen bagi kita, bagi Allah ta'ala adalah nikmat terkecil. "Lalu nikmat apakah yang paling terbesar pada sisi-Mu?" Tanya Nabi Daud lagi. "Diciptakannya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam" jawab Allah ta'ala.
Tak heran, jika dalam hadist Qudsi dikatakan:
لَوْلَاكَ لَوْلَاكَ يَا مُحَمّد لما خَلَقْتَ الأَفْلَاك
Artinya: Jika bukan karena engkau wahai Muhammad, tidak akan aku ciptakan alam semesta ini.
Kelahiran Nabi Muhammad shalllallahu alaihi wasallam, memang anugerah dan kado terindah bagi umat manusia dari Allah yang wajib kita syukuri.
Allah ta'ala berfirman:
قَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا
Artinya: "Sungguh-sungguh Allah ta'ala telah memberikan karunia bagi orang-orang beriman tatkala Ia mengutus bagi mereka seorang Rasul". (QS Ali Imran: 164)
Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tahun berganti kita tahun, tak terasa kita sudah memasuki bulan Rabi'ul Awwal, bulan kelahiran Baginda Rasulullah Sallallahu alaihi wasallam. Seorang Rasul yang diutus untuk membawa rahmat dan kasih sayang bagi manusia dan semesta alam. Rahmatan lil 'alamîn.
Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam menyeru kepada seluruh umat manusia ke jalan Allah subhanahu wa ta'ala, tentang jalan kebenaran (as-Sirotul mustaqim). Yaitu jalan orang-orang yang telah Allah ta'ala kasih nikmat, dari para Nabi dan Rasul, dan orang-orang terdahulu yang solih. Yaitu, jalan Islam.
Semua Nabi dan Rasul terdahulu, aqidahnya sama tidak boleh kita beda-bedakan.
لَا نُفَرِّقُ بَيْنَهُمْ أَيْ فِي اْلعَقِيْدَة
Sejak Nabiyullah Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW, mereka menyerukan kalimat Tauhid untuk mengesakan Allah SWT. La Ilaha Illallah. Kemudian datangnya syariat Nabi Muhammad SAW datang untuk menyempurnakannya. Yang berat menjadi ringan. Yang susah menjadi mudah. Itulah ciri khas syariat Nabi Muhammad SAW.
Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam membawa agama Islam. Yaitu agama yang Allah subhanahu wa ta'ala ridha kepada agamja tersebut.
Allah subhanahu wa ta'ala berfirman:
إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ
Artinya: "Sesungguhnya agama yang Allah subhanahu wa ta'ala adalah al Islam." (QS Ali Imran: 19)
Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah
Syekh Nawawi Banten, dalam Tafsirnya, Marah Labid fi Tafsiril Qur'anil Majid (Juz 1 halaman 91) mengatakan bahwa pengertian ayat tersebut adalah bahwa tidak ada agama yang diridhai oleh Allah subhanahu wa ta'ala kecuali Islam.
Yaitu agama tauhid dan syariat yang mulia para Rasul terdahulu. Turunnya ayat ini karena ada klaim agama-agama lain, yaitu Yahudi dan Nasrani, yang merasa lebih baik, lebih benar, dan lebih utama daripada Islam.
Semoga Allah subhanahu wa ta'ala memberikan kekuatan dan istiqomah dalam mengikuti ajaran Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam. Meneladani jejak kehidupannya yang penuh cahaya ilmu dan hikmah.
Banyak bershalawat kepadanya. Dalam diri Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam sungguh terdapat suri teladan yang baik dan pantas untuk kita tiru. Kecuali kekhususan-kekhususan yang melekat pada beliau.
Sebagaimana ungkapan Syekh Abdul Hamid Hakim dalam kitab ushul fiqih Mabadi Awwaliyah:
الأَصْلُ فِي أَفْعَالِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الاِقْتِدَاءُ إِلَّا مَا دَلَّ الدَّلِيْلُ عَلَى اخْتِصَاصِهِ
"Hukum asal segala perbuatan Nabi adalah untuk diikuti kecuali ada dalil yang mengkhususkannya."
Nah, itulah 8 khutbah Jumat terbaru tentang Maulid Nabi SAW yang bisa detikers jadikan referensi. Semoga membantu, ya!
