Makam milik ayahanda Bernadetta Petra, istri seniman Jogja mendiang Djaduk Ferianto, di permakaman umum Pekuncen, Kota Jogja, kini sudah diperbaiki seperti sediakala usai sempat sengaja dirusak juru kunci makam. Dua nisan yang sengaja dipatahkan kini telah terpasang.
Pantauan detikJogja, makam yang berada di kompleks pemakaman di sebelah barat Masjid Pekuncen itu kini tampak seperti makam normal pada umumnya. Tak terlihat bekas kerusakan pada nisan makam tersebut. Makam juga tampak bersih meski tak ada taburan bunga di atasnya.
Petra mengatakan, makam tersebut diperbaiki usai digelarnya mediasi antara ia dan si juru kunci yang ditengahi Polsek Wirobrajan, Rabu (12/8) lalu.
"Permintaan saya untuk memperbaiki kondisi makam sudah dipenuhi. Tapi saya belum ke makam lagi," jelas Petra saat dihubungi detikJogja, Jumat (14/8/2026).
Selain kesepakatan perbaikan, kata Petra, dalam mediasi itu juga ditemui titik temu ahli waris makam memberi sejumlah uang kepada juru kunci. Pasalnya, alasan juru kunci nekat merusak makam karena selama ini merasa tak pernah diberi 'uang kebersihan'.
"Saya tidak memperpanjang persoalan. Tentang tuduhan saya tidak pernah membayar, sudah saya 'lunasi utang' saya. Saya beri Rp 500 ribu karena saya nggak mau ribut sama juru kunci," jelas Petra.
"Dan sebetulnya itu (Rp 500 ribu) terlalu banyak. Anggap saja saya nyekar 10 kali, nggak ketemu orang, sehingga tidak membayar, dikalikan Rp 30 ribu untuk 3 tenaga bersih-bersih. Karena kadang saya nyekar ketemu orang di situ, ya pasti saya beri uang, tapi lebih sering tidak ada orang, dan belum tentu dalam 1 bulan saya ke makam," imbuhnya.
Sebelumnya diberitakan, makam milik ayah Petra sengaja dirusak juru kunci makam. Petra menceritakan, alasan si juru kunci berinisial S nekat merusak makam ayahnya ia dengar langsung saat Petra mendatangi rumah si juru kunci didampingi personel Polsek Wirobrajan.
Menurutnya, si juru kunci itu tersinggung tidak pernah diberi uang kebersihan saat Petra berziarah. Padahal, saat Petra sedang berziarah tidak pernah ada si juru kunci, namun Petra selalu memberikan uang kepada petugas kebersihan yang ada di makam saat itu.
"Saya kalau ke sana ya wis sak selone (sesenggangnya) saya gitu kan. Lah belakangan ini, saya kalau ke sana pagi. Nah ketika saya datang pagi itu, makam masih sepi, nggak ada orang ya kan. Tapi saya selalu pakai bunga, jadi orang tahu kalau ada sing niliki gitu lho," terang Petra saat dihubungi, Rabu (12/8).
"Ya kan ada bekasnya (taburan bunga), ada tandanya gitu. Nah ternyata ini tidak berkenan di tempatnya juru kuncinya, karena ada sing nyekar tapi kok ora ninggali apa-apa, gitu lho. Masalahnya itu," ungkap Petra.
Petra bilang, si juru kunci juga mengungkapkan secara gamblang alasannya merusak makam, yakni agar Petra datang menemuinya.
"Saya ke sana ketemu juru kuncine ibu-ibu, terus bilang begini, 'Niki nek mboten kula ngetenke jenengan rak mboten madosi kula toh?' gitu (ini kalau saya tidak merusak malam, anda tidak akan mencari saya kan?)," imbuh Petra menirukan ucapan si juru kunci.
Adapun kerusakan yang terjadi di makam ayahnya yakni patah dan hilangnya dua nisan. Petra pertama kali mendapati kerusakan itu saat sedang berziarah Selasa (11/8). Saat itu Petra mengaku kesusahan mencari makam ayahnya lantaran nisan sudah tidak ada.
(apu/apl)