BRIN Sebut Tinggi Gelombang Tunggal di Pantai DIY Capai 6 meter

BRIN Sebut Tinggi Gelombang Tunggal di Pantai DIY Capai 6 meter

Bonauli - detikJogja
Kamis, 13 Agu 2026 20:16 WIB
Penampakan Pantai Pandansimo Bantul porak-poranda usai dihantam gelombang tinggi, Rabu (12/8/2026).
Penampakan Pantai Pandansimo Bantul porak-poranda usai dihantam gelombang tinggi, Rabu (12/8/2026). Foto: dok. detikJogja
Jogja -

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Widodo Pranowo, mengatakan bahwa tinggi gelombang tunggal di pantai-pantai DIY belakangan ini mencapai 6 meter, hampir dua kali angka peringatan yang diumumkan.

Seperti diketahui, di Instagram berseliweran video pantai-pantai di DIY dihantam oleh gelombang tinggi. Mulai dari Pantai Baron, Gesing, sampai Pantai Glagah menyiarkan hal yang sama, gelombang tinggi melewati garis pasang surut sejak Senin (10/8).

Kepada detikTravel, Widodo Pranowo mengatakan, melalui metode analisis perubahan periode gelombang, prakiraan tinggi gelombang sudah dapat dikenali empat hari sebelumnya. Ia menggunakan analisis dengan data model gelombang global dari Copernicus Marine Service milik Uni Eropa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Analisis menunjukkan tinggi gelombang di perairan selatan Gunungkidul mulai melewati ambang bahaya 2,5 meter pada Senin (10/8/2026) pukul 13.00 WIB dan mengalami puncak ketinggian pada Selasa (11/8/2026) pukul 01.00 WIB, dengan tinggi gelombang signifikan 3,32 meter," kata dia, dikutip dari detikTravel pada Kamis (13/8/2026).

Adjunct Professor Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) itu mengatakan bahwa kondisi demikian bertahan hingga 39 jam. Sebenarnya, angka 3,32 meter masih berada dalam rentang peringatan resmi yaitu 2,5-4 meter. Model analisis yang dilakukannya telah telah menghitung gelombang tunggal tertinggi mencapai 6,00 meter atau 1,81 kali lipat.

ADVERTISEMENT

"Saya coba melakukan perhitungan pembanding dengan metode statistik Rayleigh, memberikan tinggi gelombang maksimum 6,16 meter, atau selisih sekitar 2,7 persen saja dari data model global," ujar Advisory Board member Korea-Indonesia Marine Technology Cooperation and Research Center (MTCRC) itu.

Dia menjelaskan, tinggi gelombang signifikan adalah rata-rata sepertiga gelombang tertinggi dalam suatu selang waktu, ini bukanlah tinggi ombak terbesar.

"Karena itu angka peringatan resmi BMKG sebenarnya tidak keliru, tetapi mudah disalahpahami oleh orang awam/nelayan, sebagai batas atas," jelasnya.

Analisis tersebut juga menunjukkan periode gelombang di lokasi sudah melewati 13 detik sejak Kamis (6/8/2026) pukul 13.00 WIB selama 96 jam sebelum tinggi gelombang naik, padahal tinggi gelombang saat itu masih 2,20 meter.

"Perpanjangan periode merupakan penanda datangnya alun (swell) dari Samudra Hindia bagian selatan," terangnya.

Data partisi gelombang memperlihatkan 99 persen energi gelombang saat puncak berasal dari alun, bukan angin setempat. Periode puncak mencapai 21,0 detik dengan panjang gelombang di laut dalam hingga 687 meter, kata peneliti tersebut.

Widodo juga menjelaskan soal kerusakan perahu yang dialami para nelayan. Hal ini disebabkan oleh tinggi gelombang yang mencapai 5,09 meter saat pecah, atau 3,8 kali lebar lambung dan 9,3 kali tinggi lambung bebas perahu motor tempel 1-3 GT.

Kemudian, jangkauan sapuan air mencapai 3,86 meter di atas muka laut rata-rata, yang mana melampaui elevasi gundukan pasir tempat perahu diparkir, sekitar 2,5 meter.

Analisis pada domain yang lebih luas menunjukkan kenaikan gelombang terjadi hampir bersamaan di sepanjang pesisir selatan Jawa hingga Bali, dari perairan Ujung Kulon sampai Nusa Penida. Gelombang tinggi akan mengalami beda waktu puncak barat-timur sekitar enam jam.

Sepanjang 1 Juli hingga 20 Agustus 2026 tercatat 6 episode gelombang tinggi di perairan Baron dengan pengulangan tiap tiga sampai sepuluh hari. Satu episode diprakirakan masih berlangsung ketika deret data berakhir pada 20 Agustus.

Widodo mengimbau agar nelayan memantau peringatan dari BMKG. Dalam rangka menyajikan informasi yang sangat diperlukan untuk keselamatan beroperasi kapal-kapal nelayan, Widodo merekomendasikan tiga langkah dalam peringatan untuk nelayan.

"Pertama, menyajikan angka gelombang maksimum selain angka tinggi gelombang signifikan yang biasanya disajikan selama ini," ungkap advisory board FPIK Universitas Padjadjaran itu.

Langkah kedua, menjadikan periode gelombang di atas 13 detik sebagai pemicu siaga tersendiri. Kemudian terakhir, BMKG sebaiknya, menetapkan garis aman penambatan perahu pada elevasi minimal, misalkan 4,9 meter di atas muka laut rata-rata atau mundur 65 meter dari garis air surut.

"Untuk hal ini perlu dilakukan pengamatan, pengukuran dan riset lebih detil," kata dia.

Diberitakan sebelumnya, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah memperingatkan potensi gelombang 2,5-4 meter di perairan selatan DIY. Badan tersebut juga mengatakan bahwa kondisi gelombang tinggi berpeluang berulang hingga September.

Secara analisis klimatologis, puncak musim alun Samudra Hindia untuk pantai selatan Jawa memang diperkirakan berlangsung dari Juni hingga September.



(dil/apu)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads