Juru bicara (jubir) Universitas Gadjah Mada (UGM), I Made Andi Arsana, memiliki sederet strategi saat menghadapi polemik isu ijazah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).
Hal itu disampaikan Made Andi dalam Forum Kebijakan dan Bimbingan Teknis Komunikasi Strategis bertajuk Mengelola Krisis Perguruan Tinggi di Era Digital, di Jakarta pada Rabu (22/7/2026).
Pelajari secara Menyeluruh
Menurut Andi, pengelolaan komunikasi krisis tidak hanya menuntut kemampuan menyampaikan pesan, tetapi juga pemahaman yang utuh terhadap persoalan yang dihadapi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Saat dipercaya menjadi juru bicara UGM dalam menangani polemik ijazah Jokowi, Andi lebih dulu meminta waktu untuk mempelajari persoalan secara menyeluruh sebelum memberikan keterangan kepada media. Proses itu dilakukan melalui diskusi dengan pimpinan universitas, fakultas, sekretariat universitas, hingga tim humas
"Saya ingin memahami dulu apa yang sebenarnya terjadi. Kalau kita sudah yakin dengan kebenarannya, kita bisa menyampaikan pesan dengan lebih tenang," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima detikJogja, Kamis (23/7/2026).
Verifikasi Jadi Kunci
Andi mengatakan, pemahaman terhadap substansi persoalan menjadi modal utama agar juru bicara tidak mudah goyah menghadapi beragam opini yang berkembang di ruang publik. Maka itu, proses verifikasi penting dilakukan untuk membangun kepercayaan publik.
"Kalau kita sendiri masih ragu, akan sulit meyakinkan orang lain. Memahami fakta adalah langkah pertama yang tidak boleh dilewatkan," kata dia.
Pelajari Isu di Luar Bidang
Selain memastikan kebenaran informasi, Andi juga menekankan pentingnya seorang juru bicara untuk terus belajar, terutama ketika harus menangani isu di luar bidang keahlian.
Ia mengaku pernah mempelajari berbagai istilah medis, proses laboratorium, hingga hasil penelitian agar mampu menjelaskan persoalan secara tepat kepada masyarakat.
Diskusi dengan Ahli
Diskusi dengan para pakar juga menjadi bagian penting untuk memperkuat pemahaman sehingga informasi yang disampaikan tetap akurat.
"Tidak semua kasus sesuai dengan latar belakang keilmuan kita. Karena itu, jangan ragu belajar dan berdiskusi dengan ahlinya," tutur Andi.
Andi juga menekankan pentingnya menjaga batas antara identitas pribadi dan tanggung jawab profesional. Sebagai akademisi sekaligus kreator konten, ia harus bisa membedakan isu yang layak dibahas melalui akun pribadi dengan isu yang harus disampaikan sebagai representasi institusi.
"Kita harus bisa memilih mana yang layak disampaikan sebagai pribadi dan mana yang harus disampaikan sebagai representasi institusi," ungkapnya.
Diam Bukan Berarti Tak Bekerja
Di akhir paparannya, Andi mengingatkan bahwa komunikasi krisis tidak selalu berarti harus segera memberikan pernyataan kepada publik. Dalam kondisi tertentu, menahan diri justru menjadi strategi komunikasi yang lebih tepat selama proses penanganan masih berlangsung.
"Kadang diam bukan berarti tidak bekerja. Justru itu bisa menjadi pilihan paling bijaksana sampai kita benar-benar siap menyampaikan informasi kepada publik," pungkas dia.

Komentar Terbanyak
Bumil-Ibu Menyusui Ikut Jadi Korban Keracunan MBG di Wates
Awal Mula Terungkapnya Sultan HB X Jadi Korban Rekayasa AI
Harga Telur Naik Usai MBG Bergulir, Mendag: Sudah Bagus