Sebuah rumah di Jeblog, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, dirusak rombongan debt collector (DC). Korban mengatakan perkara ini bermula dari ribut-ribut soal upaya penarikan mobil di rumah kakaknya di Gamping, Sleman.
Kabar ini awalnya diunggah di akun Instagram @jogja_guardian.
"Terkait peristiwa diduga keributan saat penarikan kendaraan pada tanggal 21 Juli 2026 sekitar pukul 22.30 WIB di daerah Dsn. Jeblog, Rt 03 Tirtonirmolo. Kasihan. Bantul telah dalam penanganan @humaspolsekkasihan @polresbantuldiy Jatanras @ditreskrimum_polda_diy. Petugas bersenjata laras panjang lengkap tidak lama setelah peristiwa diduga keributan tersebut terjadi, berhasil mengamankan situasi untuk selanjutnya meminta keterangan awal saksi-saksi dari peristiwa tersebut," tulis akun Instagram @jogja_guardian seperti dilihat detikJogja, Rabu (22/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ribut di Gamping Sleman
Saat ditemui wartawan di rumahnya, korban bernama Yusuf Wahyudi (37) menceritakan awalnya dia dihubungi kakaknya yang tinggal di Gamping, Sleman, pada Selasa (21/7) siang. Saat itu kakak Yusuf didatangi sejumlah orang yang hendak menarik mobil Toyota Rush.
"Awalnya itu di Gamping tempat mbak saya, bilang kalau ada orang datang ke rumah dan bentak-bentak. Lalu, namanya mbak digitukan, saya ke sana," kata Yusuf, Rabu (22/7/2026).
Yusuf mengaku tidak tahu jika ada masalah tunggakan kredit mobil. Kedatangan Yusuf ke rumah di Gamping, Sleman, itu semata-mata untuk melindungi kakaknya.
"Tapi saya tidak tahu urusan mobil itu telat berapa bulan. Yang penting kan saya datang karena kakak saya wanita kok dibentak-bentak, itu yang membuat saya jadi emosi," ujarnya.
Yusuf mengatakan, saat itu mobil kakaknya sudah dibawa saudaranya ke Godean, Sleman. Tujuannya agar mobil itu tidak ditarik pihak leasing.
"Maksudnya dibawa itu bukan dibawa lari, takutnya ditarik, wong besok sudah mau diurus, gitu. Apalagi mbak saya sudah DP (down payment) Rp 50 juta dan membayar angsuran 15 kali, jadi tidak mungkin mobilnya dibawa lari," ucap dia.
Penampakan etalase hingga kaca yang dirusak DC di Jeblog, Kasihan, Bantul, Selasa (21/7/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
Datangi Rumah Korban
Setelah negosiasi dengan rombongan penarik mobil itu selesai, Yusuf pulang ke rumahnya di Jeblog, Bantul. Kemudian, selepas maghrib, rombongan itu mendatangi rumah Yusuf.
"Sudah selesai lalu saya pulang ke sini (Jeblog), nah ternyata sampai rumah mereka datang ke sini. Saat itu sudah baik-baik dan ternyata tunggakannya jalan delapan bulan," kata dia.
Menurut Yusuf, saat itu perundingan dengan kelompok penarik mobil juga disaksikan rekan-rekannya. Momen perundingan berjalan lancar dan rombongan itu meminta menunggu satu orang lagi yang akan datang ke rumah Yusuf.
"Tapi 21.30 WIB itu ada satu (orang) yang tahu-tahu langsung nantang saya, dikira saya yang backup, dikira saya yang gimana-gimana," ujar dia.
"Dia langsung mengambil celurit, lalu saya lari melindungi diri, saya takut. Nah, saya lari ke dalam rumah, ibu saya nangis-nangis dan pingsan, anak saya pegang," sambungnya.
Sambil membawa anaknya, Yusuf lari lewat pintu belakang rumah. Saat itu Yusuf mendengar suara kaca pecah di rumahnya.
"Anak saya gendong lewat belakang, tapi saya dengar dar dor dar dor serta suara kaca pecah. Ternyata setelah dicek, kaca dua lemari pecah, etalase kaca pecah, dan banyak batu berukuran besar di dalam rumah," ungkapnya.
Keributan itu memancing perhatian warga sekitar. Akhirnya rombongan itu meninggalkan rumah Yusuf sekitar pukul 02.00 WIB, Rabu (22/7). Selanjutnya, polisi juga mendatangi rumah Yusuf.
"Polisi datangnya telat," kata Yusuf.
Ia mengaku tak ingat berapa orang yang mendatangi rumahnya. Namun, yang pertama kali datang dan berunding dengan dirinya ada lima orang.
"Kalau yang datang pertama lima orang dan tambah sampai empat mobil dan puluhan motor," ucap dia.
"Karena kejadian itu, anak saya trauma tidak mau berangkat sekolah, dia khawatir bapaknya mau dibunuh," imbuh dia.
Belum Lapor Polisi
Yusuf mengaku belum berencana melaporkan kejadian ini ke polisi. Yusuf masih menunggu iktikad baik dari rombongan tersebut.
"Saat ini menunggu iktikad baik dari mereka, kalau tidak ada iktikad baik baru menempuh jalur hukum," ucapnya.
Sementara itu Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto membenarkan ada kejadian tersebut. Namun, hingga kini korban belum melaporkan kejadian tersebut ke polisi.
"Belum ada laporan, tapi polisi sudah sejak malam mendatangi lokasi kejadian. Jika ada perkembangan nanti disampaikan," katanya.
Pantauan detikJogja, Rabu (22/7/2026), tampak pecahan kaca masih berserakan di depan rumah milik Yusuf Wahyudi (37). Tampak kaca pada etalase untuk jualan juga pecah dan bolong.
Di dalam etalase itu terdapat dua batu yang diduga digunakan sebagai sarana kerusakan. Masuk ke dalam rumah, tampak pula dua lemari yang ada di ruang tamu mengalami kerusakan berupa pecahnya kaca pada bagian depan.
Sedangkan di bagian dapur rumah tersebut juga tampak empat batu yang tergeletak di lantai. Di mana keempat batu itu memiliki ukuran yang cukup besar.


Komentar Terbanyak
Bumil-Ibu Menyusui Ikut Jadi Korban Keracunan MBG di Wates
Disdag Jogja Buka Suara soal Curhat Difabel Dilarang Jual Asongan di Ngasem
BGN Umumkan 5 Pejabat Baru, Ini Daftarnya