Perajin tatah sungging wayang kulit di Gendeng, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul ternyata keberadaannya semakin tergerus. Hal tersebut membuat salah satu perajin wayang kulit kawakan mengajari anak-anak untuk mempelajari tatah sungging wayang, bahkan hingga memberi uang saku.
Pantauan detikJogja, tampak pria lansia sibuk menata wayang kulit di rumahnya. Sesekali pria tersebut menyungging wayang atau memberikan warna pada permukaan wayang menggunakan aneka warna.
Adalah Subandi Giyanto (68) yang sudah menekuni pembuatan wayang kulit sejak 1965. Semua itu karena kerap memperhatikan ayahnya yang merupakan perajin wayang kulit.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya belajar tatah dan sungging dari bapak, karena bapak saya itu tukang wayang. Jadi bisa dikatakan turun temurun," kata Subandi kepada wartawan di kediamannya, Gendeng, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Selasa (14/7/2026).
Subandi biasa menggunakan kulit kerbau untuk membuat wayang. Namun, untuk kualitas yang terbaik, Subandi menggunakan kulit kambing.
"Untuk kulitnya, saya pakai kulit kerbau. Tapi untuk workshop-workshop dari luar negeri saya gunakan kulit kambing, karena kalau dia saya kasih kulit yang kerbau itu nanti akan patah tatahannya," ujarnya.
Sedangkan untuk proses pembuatannya, Subandi mengaku memakan waktu sekitar satu pekan. Adapun untuk harga jual wayangnya saat ini mencapai jutaan rupiah.
"Wayang itu harganya tidak bisa dijual seperti melukis, walaupun tingkat kesulitannya membuat wayang kulit itu tinggi. Seperti satu tokoh pewayangan Arjuna ini Rp 1,5 juta, kalau lukisan wayang bisa paling murah Rp 7,5 juta," ucapnya.
Meski begitu, Subandi tetap menekuni tatah sungging wayang kulit hingga saat ini. Pria murah senyum ini mengaku ingin menjaga eksistensi perajin wayang kulit di Gendeng.
"Karena di Gendeng itu ada pusat wayang, dulu tahun 90-an ketika saya mengadakan musyawarah besar tentang pewayangan di Gendeng, itu ada sekitar 340 perajin. Tapi sekarang tinggal sekitar 30 orang yang bisa tatah sungging wayang," katanya.
Subandi menilai tergerusnya jumlah perajin wayang di kampungnya karena faktor ekonomi. Subandi mengingat tahun 1998, tepatnya saat krisis ekonomi, banyak perajin wayang kulit gulung tikar.
"Lalu gempa 2006 itu tambah hancur lagi, apalagi pandemi itu, wah semakin hancur lagi. Makanya sekarang tinggal sedikit perajin wayang kulitnya," ujarnya..
Wayang kulit buatan Subandi perajin asal Gendeng, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja |
Bikin Kelas Tatah-Sungging Tiap Sabtu
Oleh sebab itu, Subandi berupaya menciptakan regenerasi dengan mengajak anak-anak di sekitar rumahnya untuk belajar menjadi perajin wayang kulit. Menurutnya, saat ini sudah ada 11 anak yang setiap hari Sabtu datang ke rumahnya untuk belajar menatah dan menyungging wayang.
"Terus biar mereka semangat saya kasih insentif, pakai uang pribadi. Jadi kalau ada wayang dan lukisan saya yang laku uangnya saya sisihkan untuk memberi uang saku. Mereka itu sepekan sekali saya kasih uang saku paling tidak Rp 20 ribu per orang dan makan siang," ucapnya.
Subandi mengaku tidak merasa rugi melakukan hal tersebut. Bahkan, semua itu telah Subandi lakukan sejak masih melajang.
"Saya masih bujang sudah gitu karena saya sejak kecil sudah bisa cari duit. Jadi walaupun saya tidak kaya tapi saya bisa cari duit, dan duitnya sebagian buat pelestarian tatah sungging wayang kulit," katanya.
Sementara itu, Lurah Bangunjiwo, Parja mengatakan saat ini di Gendeng memang mengalami krisis regenerasi perajin wayang kulit. Padahal, Gendeng dulu terkenal sebagai desa perajin wayang kulit.
"Sekarang tinggal 10 orang yang menekuni tatah sungging wayang kulit di Gendeng. Padahal dulunya di Gendeng mayoritas semuanya adalah perajin tatah sungging wayang," ujar Parja.
Parja juga mengungkapkan Subandi merupakan salah satu tokoh dari Padukuhan Gendeng yang sejak kecil sudah menekuni kerajinan tatah sungging wayang kulit. Parja juga membenarkan jika sampai saat ini Subandi masih bisa bertahan dan membuka peluang untuk anak-anak yang tertarik menjadi perajin wayang kulit.
"Pelestarian tatah sungging wayang kulit ini bukan hanya merambah anak-anak dari Bangunjiwo sendiri, tapi pak Subandi juga buka pelatihan ini untuk masyarakat umum. Harapannya nanti anak-anak kita ini ada yang berminat menekuni tatah sungging wayang dan membuka peluang untuk masa depan," ucapnya.

