Malioboro Full Pedestrian Bakal Dimulai November, Begini Skemanya

Tim detikJogja - detikJogja
Kamis, 02 Jul 2026 11:58 WIB
Suasana Malioboro saat uji coba bebas kendaraan atau Malioboro Full Pedestrian, Senin (1/12/2025). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Pemberlakuan full pedestrian di kawasan Malioboro Jogja bakal dimulai November 2026. Begini bocoran skemanya.

Diketahui, pemerintah telah melakukan beberapa kali uji coba full pedestrian di Malioboro. Kini, seluruh urusan teknis tengah digodok berdasarkan hasil evaluasi dari beberapa uji coba sebelumnya.

Sekretaris Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Ni Made Dwi Panti Indrayanti mengatakan, pekerjaan yang masih terus dimatangkan dari hasil evaluasi uji coba sebelumnya di antaranya soal pengaturan pada jalan sirip-sirip Malioboro.

"Ya (full pedestrian mulai November), kita melihat lah kalau full pedestrian itu karena kita mau tunda sampai kapan lagi," kata Made saat ditemui di Kompleks Kepatihan Kota Jogja, Rabu (1/7/2026).

"Hanya saja memang perlu, kita kan ini kolaborasi tidak dengan Pemda DIY semata, ada Pemerintah Kota Jogja. Salah satunya adalah yang menjadi PR adalah pengaturan di sirip-sirip," imbuh dia.

Dari uji coba full pedestrian sebelumnya, seperti pada saat HUT Kota Jogja tahun ini, hasil evaluasinya ialah mengatur sirip-sirip jalan dan pengaturan kendaraan tradisional.

"Ya, kita coba, kita coba. Kan mulai bulan Juni itu desainnya itu kan masing-masing sirip itu dikasih portal," ujar Made.

"Ya kita lihat juga kan. Ya full itu bukan berarti terus kemudian sepi tanpa ada yang bisa (lewat), kan ada exception-nya, ada pengecualiannya, kendaraan khusus tertentu, ambulans, pemadam kebakaran kalau ada sesuatu. atau tamu negara," sambungnya.

Pemda DIY juga tengah menggodok skema drop off wisatawan yang menggunakan bus pariwisata. Rencananya, akan ada tempat khusus untuk bus pariwisata menurunkan penumpangnya.

"Ya itu sedang kita desain juga. Jadi untuk simulasi sebenarnya juga perlu kita lakukan untuk ini bus-bus pariwisata, ya drop off ya. Harapan kita itu ada tempat atau lokasi, tapi masih ada kajian juga nanti dari kota untuk itu, begitu," ucap Made.

Made menambahkan, masyarakat diharapkan bisa memahami kebijakan ini. Karena selain Malioboro menjadi kawasan low emition zone, beban kendaraan di Malioboro juga dianggap sudah terlalu berat hingga kerap terjadi penumpukan kendaraan.

"Kita sebenarnya melakukan penataan ini untuk apa? Ya bukan kita tidak suka ada kunjungannya ya, tapi kita ingin membuat kenyamanan. Karena itu yang bicara masalah sustain atau keberlanjutan suatu kawasan itu ketika memang kita atur," kata Made.

"Kalau (volume kendaraan besar), itu akan lama-lama akan berdampak negatif juga bagi kawasan itu. Karena itu tadi, daya dukung daya tampungnya akan sangat terpengaruh oleh itu kalau kita tidak mengatur. Apalagi kan juga ada banyak bangunan heritage yang mungkin juga lambat laun juga akan terganggu dengan ya gangguan-gangguan eksternal, ya getaran dan lain-lain," terangnya.



Simak Video "Begini Euforia di Jogja Financial Festival & Run D-City 2026"

(dil/ahr)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork