Komunitas punk di Kalangan, Ngipak, Karangmojo, Gunungkidul mengembangkan pertanian tanpa menggunakan pupuk atau pestisida berbahan kimia. Komunitas yang tergabung dalam Petani Punk Gunungkidul ini ramai-ramai mengajak generasi muda di kampungnya menjadi petani.
Perwakilan Petani Punk Gunungkidul, SiBagz, mengungkapkan sempat merantau selama 11 tahun dan pulang ke Gunungkidul pada 2015. Awalnya dia dan teman-temannya sering duduk di pinggir sawah menertawakan petani yang masih bekerja meski berusia senja.
"Tapi saat pulang ke rumah kepikiran, bagaimana ya kalau petani tidak ada regenerasinya," ucap SiBagz kepada wartawan, Rabu (15/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
SiBagz akhirnya meminta izin ke orang tuanya untuk menggadaikan sertifikat tanah. Uang hasil gadai itu menjadi modalnya bertani.
"Dapat uang itu saya gunakan untuk bertani, memang saat itu belum begitu paham soal pertanian tapi yang penting niatnya dulu. Apalagi saya anak petani, jadi ya harus bisa bertani," ujarnya.
Setelahnya SiBagz mulai mendapat pinjaman lahan pertanian dari warga. Dia dan 15 teman-temannya sesama anak punk pun menggarap lahan pertanian seluas 1.500 meter persegi.
"Masih ingat saya saat itu, karena belum paham pertanian ada yang mematahkan semprotan karena belum mengetahui cara memakainya," katanya.
Salah satu lahan pertanian yang Petani Punk Gunungkidul garap di Kalangan, Ngipak, Karangmojo, Gunungkidul. Perwakilan Petani Punk Gunungkidul, SiBagz (bertopi paling depan) saat memberikan keterangan, Rabu (15/4/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja. |
SiBagz dan teman-temannya akhirnya mendapat pendampingan dari salah satu koleganya. Dari situ, SiBagz dan sesama anak punk dibantu memproduksi pupuk dan pestisida organik.
"Sebisa mungkin kami menghindari bahan-bahan kimia untuk bertani. Akhirnya membuat pupuk dan pestisida alami, bahannya dari urin kambing untuk kalsium hingga leri (air bekas mencuci) beras untuk protein, kalau pestisida pakai empon-empon," ujarnya.
Usaha itu pun akhirnya membuahkan hasil. Mereka berhasil memanen bawang merah dan hasilnya bisa untuk mengangsur utang gadai sertifikat tanah orang tuanya.
Dari sini komunitas Petani Punk Gunungkidul muncul. Saat ini jumlahnya semakin bertambah menjadi 40 orang, dengan 15 orang di antaranya merupakan orang Gunungkidul.
"Tahun 2022 saya inisiatif mengajak pemuda-pemuda di Kalangan untuk belajar menanam dan akhirnya mereka mau. Kenapa saya ajak karena mereka sebagian besar orang tuanya petani tapi tidak pernah ke ladang," ujarnya.
Dia lalu berkoordinasi dengan warga dan akhirnya mendapat izin untuk memanfaatkan lahan di sekitar tempat pemakaman di Kalangan. Dia lalu mengajak pemuda setempat menanam cabai menggunkana polybag.
"Saat itu ada sekitar 1.500 polybag isi tanaman cabai, mereka lalu dilatih menanam dan ternyata hasil panennya baik," katanya.
Dia pun senang karena semakin banyak anak muda di Kalangan yang mau bertani. Misinya regenerasi petani pun berhasil.
"Tujuan saya ada anak muda yang mengerti, mengenal pertanian agar ada regenerasi petani. Jangan sampai investor datang terus mereka hanya bekerja sebagai satpam atau pegawai lainnya," ujarnya.
Selama ini, hasil panen komunitas punk tersebut langsung diambil oleh pengepul. Anggota komunitas punk ini pun kemudian patungan untuk modal bercocok tanam.
Saat ini ada tiga lahan pertanian di Kalangan yang digarap komunitasnya. Ketiga lahan itu ditanami padi, dan sayur mayur.
"Tanah itu dipinjami warga, dan tidak ditarik biaya karena kan juga untuk pelatihan anak-anak muda di sini," jelasnya.
(ams/ams)













































Komentar Terbanyak
3 Kepala Daerah di Jatim Kena OTT KPK, Ini Kata Gubernur Khofifah
Sederet Fakta Penemuan Mayat Pria Dalam Mobil di Condongcatur Sleman
Cerita Azizah, Bocah TK di Jogja Rawat Bapak Sakit hingga Ikut Memulung