Lurah, Pamong, dan Lembaga Kemasyarakatan Kelurahan (LKK) se-DIY akan menggelar kirab memperingati hari ulang tahun ke-80 Raja Keraton Jogja Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X pada 2 April 2026. Rekayasa lalu lintas disiapkan di ruas jalan di pusat kota Jogja.
Kirab hasil bumi itu diprediksi akan diikuti hingga belasan ribu orang. Lokasi kumpul tiap rombongan terpisah per kabupaten, sehingga beberapa ruas jalan tentu akan menjadi padat.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIY, Chrestina Erni Widyastuti, mengatakan pihaknya telah menyiapkan rekayasa lalu lintas dengan menutup beberapa jalan. Penutupan jalan akan dimulai Kamis (2/4) pukul 06.00 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Meskipun titik kumpul di Titik Nol tapi sudah ditutup dari utara. Arus lalu lintas dari sisi utara itu nanti akan kita tutup dari Teteg sampai ke selatan. Tentunya sirip-sirip juga kami tutup," papar Erni dalam jumpa pers di kantor Nayantaka, Senin (30/3/2026).
"Dari timur titik Nol, dari Jalan Senopati kita tutup, dari sisi barat dari RS PKU kita tutup. Kemudian di jalan Ibu Ruswo itu nanti kita tutup tetapi ada di pertigaan, posisi yang di Plengkungnya itu masih bisa untuk arus lalu lintas," lanjutnya.
Sementara, Ketua Umum Paguyuban Lurah dan Pamong Kalurahan Nayantaka DIY, Gandang Hardjanata menjelaskan kirab akan digelar dari titik Nol Kilometer kota Jogja ke Pagelaran Keraton Jogja.
"Tiap kelurahan perkirakan ada 20-30 orang, kita hitung kasar itu total ada 10-12 ribu," jelas Gandang.
"Kita terbuka untuk masyarakat umum, yang mau ikut monggo. Tapi karena kita melihat kesiapan kantong parkir jadi memang kita batasi. Agar tidak terlalu lama menggunakan fasilitas umum sehingga mengganggu kenyamanan," imbuhnya.
Gandang menyebut kirab direncakan dimulai pukul 07.00 WIB. Nantinya, rombongan akan dibagi per kabupaten yang dipisah tempat berkumpulnya.
"Titik kumpulnya kalau yang Kota (Jogja) itu di Malioboro, kalau yang DPRD dan Kepatihan untuk Sleman dan Gunungkidul. Kulon Progo itu di Ahmad Dahlan, yang jalan Senopati khusus untuk Bantul," terang Gandang.
"Urutannya, rombongan pertama dari Kota, dilanjutkan Sleman, setelah itu Bantul, Kulon Progo, terakhir Gunungkidul. Gunungkidul terakhir karena toleransi perjalanan," urainya.
Dalam kirab nanti, lanjut Gandang, Lurah dan Pamong desa akan mengenakan pakaian ada Jawa. Sementara masyarakat yang turut ikut akan mengenakan batik.
Selain itu, dalam kirab nanti masing-masing kalurahan akan membawa buah tangan yang disebut Gelondong Pangarem-arem. Buah tangan ini berupa hasil bumi yang dihasilkan tiap kalurahan.
"Berdasarkan potensi di daerah masing-masing, kalau Kulon Progo punya duren ya bawa duren, yang dekat pesisir bawa kelapa ya monggo, yang penting tidak memberatkan," paparnya.
"Mungkin dari temen-temen Gunungkidul bawa tela, ya nggak apa-apa, apa yang dipunya, nggak harus semua sama," sambungnya.
Gandang menyatakan pihaknya tidak mewajibkan Gelondong Pangarem-arem khusus untuk dibawa. Semua bergantung pada potensi daerah masing-masing.
"Ucapan terima kasih karena selama ini Kalurahan sudah bisa menggunakan tanah miliknya Keraton, yang juga merupakan PAD tiap Kalurahan. Nah dari situ kami ingin menghaturkan sebagian kecil hasil dari tanah-tanah itu," pungkasnya.

Komentar Terbanyak
Mahasiswa UGM Terancam Sanksi Buntut Hina Pasien BPJS Yurizal
Pelukis Jogja Nasirun Tutup Usia
Ancaman Sanksi Pemasang Pelang Jalan Malioboro Ilegal