Pakistan Minta AS-Israel Tak Bunuh Menlu dan Ketua Parlemen Iran

Internasional

Pakistan Minta AS-Israel Tak Bunuh Menlu dan Ketua Parlemen Iran

Novi Christiastuti - detikJogja
Jumat, 27 Mar 2026 16:30 WIB
Dalam foto yang diberikan oleh Kantor Berita Majelis Permusyawaratan Islam (ICANA), Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, mengenakan seragam IRGC, memimpin sidang di Teheran pada 1 Februari 2026. Iran telah menyatakan tentara negara-negara Eropa sebagai kelompok teroris, kata ketua parlemen pada 1 Februari, menyusul keputusan Uni Eropa untuk menerapkan sebutan yang sama kepada Korps Garda Revolusi Islam.
Mohammad Bagher Ghalibaf. Foto: (AFP / HO/MAJELIS PERMUSYARATAN ISLAM (ICANA)
Jogja -

Pakistan meminta Amerika Serikat (AS) dan Israel tidak menargetkan serangan kepada Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi dan ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Menanggapi permintaan tersebut, Israel disebut telah mencoret dua nama pejabat tinggi Iran tersebut dari daftar target serangan.

Dilansir Reuters dan Al Arabiya, sebagaimana dikutip dari detikNews, Jumat (27/3/2026), permintaan itu diajukan oleh Pakistan yang kini menjadi salah satu mediator untuk Washington dan Teheran dalam upaya negosiasi untuk mengakhiri perang yang berkecamuk sejak akhir Februari lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Israel memiliki koordinat mereka dan ingin melenyapkan mereka, kami memberitahu AS bahwa jika mereka juga dieliminasi, maka tidak ada lagi yang bisa diajak berunding, oleh karena itu, AS meminta Israel untuk mundur," ungkap seorang sumber Pakistan, yang mengetahui diskusi persoalan tersebut, kepada Reuters.

ADVERTISEMENT

Hingga saat ini, militer dan Kementerian Luar Negeri Pakistan belum memberikan tanggapan resmi atas laporan tersebut.

Adapun informasi ini pertama kali dilaporkan oleh Wall Street Journal (WSJ), yang menyebutkan kedua pejabat tinggi Iran tersebut telah dihapus sementara dari daftar pejabat yang akan diserang.

WSJ mengutip dari sejumlah pejabat AS yang tidak disebut namanya, melaporkan kedua pejabat tinggi Iran itu tidak menjadi target serangan hingga empat atau lima hari. Laporan WSJ tidak menyebutkan peran Pakistan dalam hal ini.

Sebagaimana diketahui, Pakistan bersama Mesir, dan Turki, kini berperan sebagai mediator antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang.

Islamabad hingga kini telah mempertahankan kontak langsung dengan Washington dan Teheran ketika saluran komunikasi dibekukan untuk sebagian besar negara lainnya. Pakistan juga dipandang sebagai tempat yang mungkin jika perundingan damai digelar nantinya.

Iran sedang mengkaji proposal gencatan senjata berisi 15 poin dari pemerintahan Presiden AS Donald Trump, yang dikirimkan melalui Pakistan, untuk menghentikan pertempuran yang berkelanjutan.

Proposal gencatan senjata dari AS itu, menurut sumber kabinet Israel yang mengetahui isinya, menyerukan penghapusan stok uranium yang diperkaya tinggi milik Iran, penghentian pengayaan uranium, pembatasan program rudal balistik, hingga pemutusan pendanaan untuk sekutu-sekutu regional Teheran.

Dalam beberapa waktu lalu, Trump mengklaim Iran sangat ingin mencapai kesepakatan dengan AS. Sementara itu, Araghchi menegaskan Teheran sedang mengkaji proposal AS, tetapi tidak ada niat untuk melakukan pembicaraan untuk mengakhiri perang.



(par/ams)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads