Warga Filipina Terpaksa Jalan Kaki gegara Krisis BBM, Lalin Kini Sepi

Internasional

Warga Filipina Terpaksa Jalan Kaki gegara Krisis BBM, Lalin Kini Sepi

Ignacio Geordi Oswaldo - detikJogja
Jumat, 27 Mar 2026 13:23 WIB
Jeepney drivers stage a rally during their 2-day strike to protest over rising fuel prices amid the U.S.-Israeli conflict with Iran, in Quezon City, Philippines, March 26, 2026. REUTERS/Eloisa Lopez
Warga Filipina terpaksa jalan kaki imbas krisis BBM. (Foto: REUTERS/Eloisa Lopez)
Jogja -

Krisis bahan bakar imbas konflik perang di Timur Tengah mulai terasa dampaknya di Filipina. Para pekerja Filipina kini terpaksa jalan kaki ke tempat kerja karena transportasi tidak beroperasi akibat kelangkaan bahan bakar.

Hal ini ramai dibagikan warga setempat di media sosial X, dan menjadi perbincangan publik.

"BREAKING: Akibat kelangkaan gas, orang-orang kini berjalan kaki ke tempat kerja di Filipina," tulis salah seorang pengguna media sosial X sembari membagikan video banyak warga yang sedang berjalan kaki di tengah-tengah jalan raya tanpa ada kendaraan yang melintas, dikutip detikFinance, Jumat (27/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara itu, Al Jazeera melaporkan krisis energi yang melanda tetangga Indonesia itu telah mengurangi kemacetan lalu lintas, terutama di ibu kota Manila. Misalnya, perjalanan sejauh 26 km dari Bandara Manila ke Balai Kota Quezon City yang biasanya ditempuh dalam waktu 2 jam, kini hanya membutuhkan waktu 45 menit karena jalan sepi.

ADVERTISEMENT

Kemudian karena jumlah kendaraan pribadi, bus, jeepney, dan ojek online yang beroperasi di jalanan semakin sedikit, jumlah pekerja yang menggunakan jaringan kereta api di Manila semakin meningkat. Hal ini mengakibatkan kepadatan selama jam sibuk di stasiun.

Sejak Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan operasi militer gabungan terhadap Iran, harga bahan bakar di negara yang mengandalkan impor minyak itu melonjak tajam. Kondisi ini memaksa Presiden Ferdinand Marcos Jr menetapkan deklarasi darurat energi nasional selama setahun pada 25 Maret lalu.

Namun yang menjadi perhatian kini, krisis energi tersebut berpotensi menimbulkan masalah yang lebih besar bagi warga Filipina karena adanya kekhawatiran akan kenaikan harga barang kebutuhan pokok dan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal secara tiba-tiba bagi ribuan pekerja.

Kondisi ini tentu dapat menyebabkan perekonomian stagnan. Padahal, tepat sebelum perang Iran dimulai, produk domestik bruto (PDB) negara itu diprediksi akan tumbuh sebesar 5%. Namun kini hal itu menjadi semakin tidak mungkin.




(ams/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads