Setelah menjalani ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh, umat Islam dianjurkan untuk melanjutkan amalan dengan puasa sunnah di bulan Syawal. Puasa Syawal yang dikerjakan selama enam hari memiliki keutamaan besar, bahkan disebut setara dengan pahala berpuasa sepanjang tahun. Karena itu, banyak orang berusaha tidak melewatkan amalan ini setelah Idul Fitri.
Di sisi lain, tidak sedikit pula yang masih memiliki hutang puasa Ramadan yang harus diganti (qadha). Kondisi ini sering dialami oleh mereka yang berhalangan puasa, seperti karena sakit, haid, atau alasan lainnya. Akibatnya, muncul pertanyaan, apakah puasa Syawal bisa digabung dengan puasa qadha dalam satu niat?
Atas permasalahan tersebut, detikJogja akan memberikan penjelasan apakah kedua puasa tersebut boleh dilakukan sekaligus atau tidak. Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Puasa Syawal?
Sebelum membahas hukum menggabungkan puasa Syawal dan qadha, penting untuk memahami makna dari kedua puasa tersebut terlebih dahulu. Puasa Syawal adalah ibadah puasa yang dilakukan pada bulan Syawal, setelah bulan Ramadan.
Dikutip dari buku Fikih Madrasah Tsanawiyah tulisan H. Ahmad Ahyar dan Ahmad Najibullah, puasa Syawal adalah puasa enam hari pada bulan Syawal. Puasa sunnah ini memiliki keutamaan yang besar bagi umat Islam yang menjalankannya, salah satunya adalah mendapatkan pahala seperti puasa sepanjang masa.
Tata cara melaksanakan puasa Syawal sama seperti melakukan puasa wajib. Hal yang membedakan adalah niatnya. Adapun bacaan niat untuk puasa Syawal adalah:
ΩΩΩΩΩΩΨͺΩ Ψ΅ΩΩΩΩ Ω ΨΊΩΨ―Ω ΩΩΩ Ψ΄ΩΩΩΨ±Ω Ψ§ΩΨ΄ΩΩΩΩΨ§ΩΩ Ψ³ΩΩΩΨ©Ω ΩΩΩΩΩΩΩ ΨͺΩΨΉΩΨ§ΩΩΩ
Latin: Nawaitu shauma ghadin fii syahri Syawwaali sunnatan lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Aku berniat puasa sunnah esok hari di bulan Syawal karena Allah Ta'ala."
Apabila lupa berniat pada malam hari, detikers masih diperbolehkan untuk membaca niat puasa Syawal di pagi hari hingga waktu zuhur tiba, asalkan belum makan dan minum sebelumnya. Ketika sudah berniat, maka puasa telah dimulai hingga waktu maghrib tiba.
Apa Itu Puasa Qadha?
Dikutip dari buku Panduan Muslim Kaffah Sehari-hari karya Muh. Hambali, berbeda dengan puasa Syawal, puasa qadha adalah puasa yang dilakukan oleh seseorang untuk mengganti puasa Ramadan yang ditinggalkan karena berbagai alasan, seperti sakit, musafir, wanita yang sedang haid, dan lain-lain.
Puasa qadha wajib untuk dilaksanakan, karena hukumnya sama dengan hutang yang wajib untuk dibayarkan. Seseorang yang memiliki hutang puasa, dianjurkan untuk mempercepat qadha puasa, yaitu sejak setelah Ramadan sampai akhir bulan Syaban.
Adapun niat puasa qadha adalah sebagai berikut.
ΩΩΩΩΩΩΨͺΩ Ψ΅ΩΩΩΩ Ω ΨΊΩΨ―Ω ΨΉΩΩΩ ΩΩΨΆΩΨ§Ψ‘Ω ΩΩΨ±ΩΨΆΩ Ψ±ΩΩ ΩΨΆΩΨ§ΩΩ ΩΩΩΩΩΩΩ ΨͺΩΨΉΩΨ§ΩΩΩ
Latin: Nawaitu shauma ghadin 'an qadhaai fardhi Ramadhaana lillaahi ta'aalaa.
Artinya: "Aku berniat puasa esok hari untuk mengganti (qadha) puasa wajib Ramadan karena Allah Ta'ala."
Tata cara puasa qadha sama seperti puasa Ramadan. Pelaksanaannya bisa dilakukan berturut-turut atau selang-seling sesuai kemampuan.
Bolehkah Menggabung Puasa Syawal dan Qadha?
Dirangkum dari laman NU Online dan MUI, sejumlah ulama menjelaskan bahwa menggabungkan puasa Syawal dan puasa qadha pada dasarnya diperbolehkan. Imam al-Syarqawi dalam Hasyiyah al-Syarqawi menyebutkan bahwa seseorang yang berpuasa di bulan Syawal dengan niat qadha atau puasa lainnya tetap bisa mendapatkan pahala puasa Syawal, karena telah menjalankan puasa di bulan tersebut. Berikut rincian pendapatnya:
"Bila seseorang berpuasa pada Syawal dengan niat qadha, atau selainnya seperti nadzar atau puasa sunnah lain, orang tersebut tetap mendapatkan pahala puasa sunnah Syawal. Sebab substansi puasa enam hari di bulan Syawal telah dilaksanakan. Tetapi, dia tidak mendapatkan pahalanya dengan sempurna sesuai kriteria yang dituntut. Bila ingin mendapat pahala puasa Syawal dengan sempurna, maka harus dilakukan dengan niat khusus puasa enam hari Syawal (tidak digabung dengan yang lain)."
Pendapat serupa juga disampaikan oleh al-Ramli dalam Nihayatul Muhtaj. Ia menjelaskan bahwa orang yang mengqadha puasa di bulan Syawal tetap memperoleh pahala sunnah Syawal, meskipun tidak secara sempurna sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis.
Namun demikian, sebagian ulama lain menekankan bahwa keutamaan puasa Syawal yang dijanjikan tidak sepenuhnya didapat jika niatnya digabung. Hal ini karena puasa tersebut tidak memenuhi kriteria khusus, yaitu dilakukan dengan niat tersendiri sebagai puasa enam hari di bulan Syawal.
Mana yang Lebih Utama, Digabung atau Dipisah?
Meskipun menggabungkan puasa qadha dan Syawal diperbolehkan, para ulama umumnya sepakat bahwa yang lebih utama adalah memisahkan keduanya. Artinya, seseorang dianjurkan untuk menyelesaikan terlebih dahulu hutang puasa Ramadan, baru kemudian melaksanakan puasa sunnah Syawal.
Hal ini juga sejalan dengan anjuran untuk segera menunaikan kewajiban qadha bagi yang memiliki hutang puasa, baik karena sakit, dalam perjalanan, haid, atau alasan lainnya. Dengan mendahulukan qadha, seseorang dinilai telah menunaikan kewajiban utamanya sebelum menjalankan ibadah sunnah.
Selain itu, dengan memisahkan niat, seseorang bisa mendapatkan pahala puasa Syawal secara sempurna, sebagaimana disebutkan dalam hadis tentang keutamaan puasa enam hari di bulan Syawal. Sebaliknya, jika puasa digabung, pahala tetap ada, tetapi tidak maksimal. Bahkan, dalam kondisi tertentu, seperti menunda qadha tanpa alasan yang dibenarkan, mendahulukan puasa sunnah Syawal bisa dihukumi makruh.
Dengan demikian, pilihan terbaik adalah mengqadha puasa terlebih dahulu, karena hitungannya adalah mengganti puasa wajib, kemudian melanjutkannya dengan puasa sunnah Syawal selama enam hari agar memperoleh keutamaan secara utuh.
Keutamaan Puasa Syawal
Mengutip buku Manajemen Diri untuk Kebahagiaan Dunia Akhirat karya Tobari, berikut beberapa keutamaan dari puasa enam hari di bulan Syawal:
1. Tanda Diterimanya Amalan Puasa Ramadan
Salah satu keutamaan puasa Syawal adalah sebagai tanda diterimanya amalan puasa Ramadan. Dalam ajaran Islam, disebutkan bahwa jika Allah SWT menerima suatu amal, maka Dia akan memberikan taufik kepada hamba-Nya untuk melanjutkan dengan amal kebaikan lainnya.
Artinya, ketika seseorang mampu melanjutkan ibadah dengan puasa Syawal setelah Ramadan, hal itu bisa menjadi pertanda bahwa ibadah puasanya selama Ramadan diterima. Puasa Syawal pun menjadi bentuk kesinambungan dalam menjaga kualitas ibadah, bukan berhenti setelah Idul Fitri.
2. Mendapatkan Ganjaran 10 Kali Lipat
Keutamaan lain dari puasa Syawal adalah pahala yang berlipat ganda. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Ayyub, Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang berpuasa Ramadan kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal seolah-olah telah berpuasa selama satu tahun penuh. Rasulullah SAW bersabda:
ΨΉΩΩΩ Ψ£ΩΨ¨ΩΩ Ψ£ΩΩΩΩΩΨ¨Ω Ψ§ΩΩΨ£ΩΩΩΨ΅ΩΨ§Ψ±ΩΩΩΩ Ψ±ΩΨΆΩΩΩ Ψ§ΩΩΩΩ ΨΉΩΩΩΩΩ ΩΩΨ§ΩΩ Ψ£ΩΩΩΩ Ψ±ΩΨ³ΩΩΩΩ Ψ§ΩΩΩΩΩΩ Ψ΅ΩΩΩΩΩ Ψ§ΩΩΩΩΩΩ ΨΉΩΩΩΩΩΩΩ ΩΩΨ³ΩΩΩΩΩ Ω ΩΩΨ§ΩΩ Ω ΩΩΩ Ψ΅ΩΨ§Ω Ω Ψ±ΩΩ ΩΨΆΩΨ§ΩΩ Ψ«ΩΩ ΩΩ Ψ£ΩΨͺΩΨ¨ΩΨΉΩΩΩ Ψ³ΩΩΩΨ§ Ω ΩΩΩ Ψ΄ΩΩΩΩΨ§ΩΩ ΩΩΨ§ΩΩ ΩΩΨ΅ΩΩΩΨ§Ω Ω Ψ§ΩΨ―ΩΩΩΩΨ±Ω
Artinya: "Barang siapa mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal selepas Idul Fitri berarti ia telah menyempurnakan puasa setahun penuh. Dan setiap kebaikan diganjar sepuluh kali lipat."
3. Mendapatkan Pertolongan Rasulullah SAW
Puasa Syawal juga menjadi salah satu bentuk menghidupkan sunnah Rasulullah SAW. Orang yang mengamalkan sunnah dengan penuh keikhlasan diharapkan mendapatkan syafaat atau pertolongan dari Rasulullah SAW di akhirat kelak.
Dengan menjalankan puasa Syawal, seorang muslim menunjukkan kecintaannya kepada ajaran Rasulullah SAW sekaligus berusaha mengikuti jejak beliau. Hal inilah yang menjadi sebab seseorang berpeluang mendapatkan pertolongan di hari kiamat nanti.
Demikianlah penjelasan mengenai hukum menggabung puasa Syawal dan qadha. Semoga artikel ini bermanfaat ya!
Artikel ini ditulis oleh Sri Wahyuni Oktafia peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom.
(sto/alg)

Komentar Terbanyak
Awal Mula Ide Mbah Suhan Bikin 'Sawah Rongsok' di Gunungkidul
14 Orang Jadi Tersangka Baru Kasus Penyiksaan Anak Daycare Little Aresha Jogja
MBG Libur, Harga Ayam Hidup di Gunungkidul Anjlok Jadi Rp 17 Ribu/Kg