Sosok Mohammad Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran yang Dirumorkan Nego dengan AS

Sosok Mohammad Ghalibaf, Ketua Parlemen Iran yang Dirumorkan Nego dengan AS

Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy - detikJogja
Rabu, 25 Mar 2026 14:12 WIB
Profil Mohammad Bagher Ghalibaf.
Mohammad Bagher Ghalibaf Foto: (AFP / HO/MAJELIS PERMUSYARATAN ISLAM (ICANA)
Jogja -

Rumor mengenai adanya komunikasi antara Iran dan Amerika Serikat mengemuka di tengah konflik yang terus memanas di Timur Tengah. Nama Mohammad Bagher Ghalibaf ikut terseret setelah sejumlah laporan menyebut dirinya sebagai figur penting yang diduga menjadi penghubung tidak langsung dengan Washington.

Laporan Al Jazeera menyebut beberapa media di Amerika Serikat dan Israel mengklaim utusan Presiden Donald Trump, yakni Steve Witkoff dan Jared Kushner, telah menjalin kontak dengan Ghalibaf. Bahkan, pada Senin, 17 Maret 2026 di Washington DC, Trump menyatakan bahwa telah terjadi "percakapan yang sangat baik dan produktif" terkait upaya penyelesaian konflik di Timur Tengah, dan memerintahkan penundaan serangan terhadap fasilitas Iran selama lima hari.

Jika benar terjadi, komunikasi semacam ini akan menjadi langkah besar mengingat hubungan Iran-AS selama ini berada dalam kondisi permusuhan terbuka. Terlebih, konflik yang sedang berlangsung telah menyeret kepentingan global, terutama terkait jalur energi dan stabilitas kawasan Teluk. Namun, klaim tersebut langsung dibantah oleh Iran. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut pernyataan itu sebagai upaya meredam gejolak pasar energi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ghalibaf sendiri melalui akun X resminya, @mb_ghalibaf, menegaskan:

"Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan Amerika Serikat, dan berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta keluar dari kebuntuan yang dihadapi AS dan Israel," ungkapnya pada Senin, 17 Maret 2026 lalu.

ADVERTISEMENT

Pernyataan ini memperlihatkan bahwa Iran tidak hanya membantah, tetapi juga menilai rumor tersebut sebagai bagian dari strategi informasi. Dalam sistem politik Iran, negosiasi dengan Amerika Serikat bukan keputusan personal-melainkan harus melalui persetujuan pemimpin tertinggi dan Dewan Keamanan Nasional. Artinya, secara struktural, kecil kemungkinan pembicaraan resmi dilakukan tanpa koordinasi tingkat tertinggi negara.

Lalu, siapa sebenarnya Mohammad Bagher Ghalibaf itu? Baca sosoknya melalui uraian di bawah ini, yuk!

Isu Negosiasi di Tengah Panasnya Kondisi Iran-AS

Isu negosiasi antara Ghalibaf dengan Washington muncul di tengah eskalasi kondisi hubungan Iran-AS. Pada Sabtu, 15 Maret 2026, Donald Trump mengeluarkan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz yang merupakan salah satu jalur energi paling vital di dunia atau menghadapi serangan terhadap fasilitas listriknya.

Langkah ini langsung meningkatkan ketegangan global. Iran merespons dengan ancaman balasan terhadap fasilitas energi dan air di Israel serta kawasan Teluk, yang berpotensi memicu krisis energi lebih luas.

Dalam situasi sedemikian rupa, Ghalibaf ikut bersuara keras, bahkan memperingatkan pihak-pihak yang dianggap mendukung AS, termasuk sektor finansial global.

Dua hari kemudian, pada Senin, 17 Maret 2026, Trump kembali mengklaim bahwa komunikasi telah berlangsung. Ia bahkan mengatakan kepada wartawan bahwa pihaknya sedang "berurusan dengan seorang tokoh yang sangat dihormati-bukan pemimpin tertinggi," tanpa menyebut nama. Media seperti Axios dan Politico kemudian mengaitkan pernyataan itu dengan Ghalibaf.

Namun lagi-lagi, klaim tersebut dibantah oleh Teheran. Situasi ini memperlihatkan adanya perang narasi antara Washington dan Iran yang mana satu pihak mengklaim adanya jalur komunikasi, sementara pihak lain menegaskan tidak ada negosiasi sama sekali.

Jejak Karier Ghalibaf: Dari Medan Perang ke Pusat Kekuasaan

Mohammad Bagher Ghalibaf adalah figur yang terbentuk dari kombinasi kuat antara pengalaman militer dan politik. Ia lahir pada 23 Agustus 1961 di Torqabeh, dekat Mashhad, wilayah yang memiliki peran penting dalam sejarah Revolusi Iran 1979.

Saat Perang Iran-Irak pecah pada 1980, ia bergabung dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), yang saat itu masih merupakan milisi revolusioner. Ia dengan cepat naik menjadi komandan pada 1982, menjadikannya bagian dari generasi awal elite militer Iran.

Pengalaman ini bukan hanya membentuk kariernya, tetapi juga membangun jaringan kekuasaan yang kuat, termasuk kedekatannya dengan Ali Khamenei.

Setelah perang, ia menempati berbagai posisi penting, seperti:

  • Komandan Angkatan Udara IRGC (1997-2000)
  • Kepala Kepolisian Nasional (2000-2005)
  • Wali Kota Teheran (2005-2017)

Sebagai wali kota, ia dikenal mendorong modernisasi kota, membangun infrastruktur, dan melebarkan ruang publik. Namun di sisi lain, gaya kepemimpinannya yang top-down juga mencerminkan latar belakang militernya.

Pada 2020, ia menjadi Ketua Parlemen Iran menggantikan Ali Larijani, posisi strategis yang membuatnya terlibat langsung dalam pengambilan keputusan nasional, termasuk isu keamanan dan ekonomi. Berdasarkan informasi dari The Hill, sepeninggal Larijani, Ghalibaf mengambil alih tanggung jawab sebagai pengambil keputusan strategis.

Nama Ghalibaf juga tercatat mengikuti beberapa kali kontestasi kursi kepresidenan sejak 2005 lalu, lapor The Jerusalem Post. Namun, hasilnya nihil. 'Prestasi' terbaik Ghalibaf adalah posisi 2 di pemilihan 2013.

Menurut Encyclopedia Britannica, kombinasi peran militer dan politik ini menjadikan Ghalibaf salah satu figur paling berpengaruh di Iran, terutama di tengah kekosongan kepemimpinan akibat konflik terbaru.

Kontroversi Ghalibaf dan Retorika Anti AS-nya

Karier Ghalibaf juga dibayangi kontroversi panjang. Ia diketahui terlibat dalam penanganan demonstrasi mahasiswa pada 1999 dan 2003, yang menjadi salah satu momen penting dalam sejarah represi politik di Iran.

Dalam beberapa pernyataan, ia bahkan mengakui keterlibatannya dalam tindakan keras terhadap demonstran, meski dalam kesempatan lain ia menyatakan menolak perintah tertentu, seperti penggunaan tembakan langsung.

Selain itu, laporan United Against Nuclear Iran menyoroti dugaan korupsi yang melibatkan dirinya, terutama selama menjabat sebagai Wali Kota Teheran. Kasus-kasus tersebut mencakup penyalahgunaan aset publik hingga skema properti yang kontroversial.

Di tengah konflik 2026, Ghalibaf tampil sebagai salah satu tokoh paling agresif dalam retorika anti-AS dan anti-Israel. Pada Jumat, 14 Maret 2026, ia mengejek klaim kemenangan AS atas Iran.

Kemudian pada Minggu, 16 Maret 2026, ia menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak akan kembali ke kondisi sebelum perang dengan sebuah pernyataan yang memiliki implikasi besar bagi pasar energi global.

Pernyataan paling tajam disampaikan melalui akun X resminya, @mb_ghalibaf, pada Minggu, 16 Maret 2026. Ia menulis:

"Obligasi pemerintah AS berlumuran darah rakyat Iran. Membelinya berarti Anda membeli serangan terhadap kantor pusat dan aset Anda sendiri."

Sehari kemudian, pada Senin, 17 Maret 2026, ia kembali menegaskan:

"Rakyat Iran menuntut hukuman penuh dan penyesalan dari para agresor. Semua pejabat Iran berdiri teguh bersama pemimpin tertinggi dan rakyat hingga tujuan ini tercapai."

Adakah Kemungkinan Negosiasi Iran-AS?

Terlepas dari sosok Mohammad Ghalibaf, pertanyaan mengenai kapan berakhirnya konflik Timur Tengah terus diperbincangkan. Adakah kemungkinan negosiasi dilaksanakan?

Di tengah kondisi ketel Timur Tengah yang semakin mendidih, peluang negosiasi tetap dinilai ada. Dalam wawancara dengan Al Jazeera di Doha pada 18 Maret 2026, ekonom Iran-Amerika Nader Habibi menyatakan:

"Saya memperkirakan peluang terjadinya pembicaraan sekitar 60 persen karena berbagai alasan."

Menurutnya, tekanan perang kini dirasakan semua pihak. Amerika Serikat menghadapi tekanan global untuk menjaga stabilitas energi dan ekonomi, sedangkan Iran berada dalam kondisi tertekan akibat ancaman terhadap infrastruktur vitalnya.

"Kepemimpinan Iran yang tersisa berada di bawah tekanan besar dan khawatir terhadap serangan pada fasilitas energi dan pembangkit listrik utama," tambah Nader Habibi.

Habibi menjelaskan bahwa jalur komunikasi tidak langsung mulai terbentuk melalui negara-negara seperti Mesir, Arab Saudi, Pakistan, dan Turki. Selain itu, China juga berperan mendorong Iran untuk membuka ruang negosiasi. Namun, ia menegaskan bahwasanya sulit memprediksi akankah pembicaraan, jika benar terjadi, bakal membuahkan hasil.

Nah, itulah sekilas mengenai Mohammad Bagher Ghalibaf, speaker Parlemen Iran yang beberapa waktu lalu dirumorkan membuka negosiasi dengan AS.

Artikel ini ditulis oleh Shakti Brammaditto Widya Fachrezzy peserta Program MagangHub Bersertifikat dari Kemnaker di detikcom




(num/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads