2 Pekan Perang Lawan Iran, AS Habiskan Rp 203 Triliun

Internasional

2 Pekan Perang Lawan Iran, AS Habiskan Rp 203 Triliun

Novi Christiastuti - detikJogja
Senin, 16 Mar 2026 13:28 WIB
Aircraft attached to Carrier Air Wing (CVW) 9 sit on the flight deck of the U.S. Navy Nimitz-class aircraft carrier USS Abraham Lincoln in support of the Operation Epic Fury attack on Iran, February 28, 2026.  U.S. Navy/Handout via REUTERS THIS IMAGE HAS BEEN SUPPLIED BY A THIRD PARTY
Kapal Induk AS Luncurkan Jet tempur untuk Serang Iran Foto: via REUTERS/US Navy
Jogja -

Sudah dua pekan berlalu sejak Amerika Serikat (AS) bersama sekutunya, Israel, membombardir Iran pada 28 Februari 2026. Dilaporkan, Negeri Paman Sam menghabiskan USD 12 miliar atau sekitar Rp 203,8 triliun.

Perang yang sudah berkecamuk selama 17 hari terakhir ini dikhawatirkan bisa berdampak secara domestik di AS. Sebab, Timur Tengah membara buntut Iran melancarkan serangan balasan ke negara-negara Teluk yang menampung militer AS.

Penasihat ekonomi utama Presiden Donald Trump, Kevin Hassett, dalam wawancara dengan CBS "Face the Nation" yang ditayangkan pada Minggu (15/3) dilansir Al Jazeera (16/3/2026), mengungkap biaya yang harus AS keluarkan dalam perang ini sangatlah besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hassett, awalnya memaparkan angka itu sebagai proyeksi total untuk keseluruhan perang.

ADVERTISEMENT

Namun, di tengah wawancara dengan CBS, Direktur Dewan Ekonomi Nasional Gedung Putih ini mengklarifikasi dan menyebut biaya USD 12 miliar atau Rp 203,8 triliun tersebut adalah angka terbaru yang dia terima sejauh ini.

Wartawan CBS, Margaret Brennan, menyebutkan lebih dari USD 5 miliar (Rp 84,9 triliun) dihabiskan oleh AS hanya untuk amunisi pada minggu pertama perang. Hassett tidak menanggapi secara langsung data tersebut.

Tepis Ancaman Ekonomi

Hassett menepis ancaman ekonomi sebagai dampak dari perang yang dilakukan AS. Ia menjelaskan pasar keuangan yang menetapkan harga kontrak energi masa depan sudah mengantisipasi penyelesaian yang cepat dan harga energi yang lebih rendah, bertentangan dengan kekhawatiran konsumen AS atas kenaikan biaya bahan bakar di SPBU.

Ia mengklaim melonjaknya harga minyak dunia, yang diakibatkan penutupan Selat Hormuz yang dilakukan Iran, lebih berdampak pada negara-negara yang bergantung pada minyak di sana daripada Washington.

"Amerika tidak akan mengalami kerugian ekonomi akibat tindakan Iran. Kita memiliki banyak sekali minyak," ucapnya dikutip dari detikNews, sembari menambahkan bahwa situasinya tidak akan seperti tahun 1970-an silam.

Sementara itu, dengan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth baru-baru ini memperingatkan pengeboman terhadap Iran "akan meningkat secara dramatis". Hal ini menunjukkan bahwa biaya yang harus dikeluarkan AS dalam perang akan semakin bertambah.



(apu/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads