Sejarah Joxzin, Geng Legendaris dari Jogja

Sejarah Joxzin, Geng Legendaris dari Jogja

Jauh Hari Wawan S - detikJogja
Senin, 02 Mar 2026 16:40 WIB
Brigade Joxzin mendatangi Polres Bantul untuk menyampaikan surat terbuka ke Kapolres Bantul terkait kasus pembunuhan anggotanya di Sedayu.
Brigade Joxzin mendatangi Polres Bantul untuk menyampaikan surat terbuka ke Kapolres Bantul terkait kasus pembunuhan di Sedayu yang menewaskan salah satu anggotanya, Jumat (27/2/2026). Foto: Pradito Rida Pertana/detikJogja
Sleman -

Masyarakat Yogyakarta era 80 hingga 90-an tentu tidak asing dengan nama geng Joxzin. Kelompok ini bukan sekadar geng biasa, melainkan bagian dari sejarah panjang pergeseran budaya kekerasan dari era 'gali' hingga fenomena klitih saat ini.

Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Julianto Ibrahim menjelaskan bahwa fenomena geng di Jogja bermula dari munculnya istilah 'gali' atau gabungan anak liar pada tahun 1970-an. Menurutnya, gali saat itu banyak diisi oleh anak-anak orang kaya yang kurang perhatian orang tua di awal masa Orde Baru.

"Kan tahun 70-an mulai berkembang Orde Baru kemudian banyak investasi masuk. Orang tua banyak punya proyek anak tidak diurusi maka mereka kemudian mencari tempat-tempat yang nyaman bagi mereka ya. Di pinggir-pinggir jalan, di pasar ya. Maka kemudian berkembang komunitas gali," kata Julianto saat dihubungi detikJogja, Senin (2/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Keresahan akibat gali mencapai puncaknya pada tahun 1982 seorang anak komandan tentara di Jogja tewas terbunuh di Selokan Mataram. Peristiwa ini memicu pembersihan besar-besaran yang dikenal dengan Operasi Pemberantasan Terorisme atau Penembakan Misterius (Petrus) pada 1983-1984.

ADVERTISEMENT

"Nah, Petrus itu menyebabkan kemudian dunia bawah Jogja atau dunia gali, pergalian di Jogja itu kemudian menjadi tiarap. Orang banyak yang lari, banyak terbunuh dan lain-lain," katanya.

"Maka dunia bawah atau dunia kriminalitas itu kemudian lambat laun mulai diganti dengan dengan munculnya beberapa geng ya. Seperti misalnya adalah Joxzin," imbuhnya.

Joxzin sendiri memiliki akar sejarah yang unik dan muncul di wilayah Kauman. Awalnya, mereka adalah sekumpulan anak muda yang gemar bersepeda onthel hingga ke Bunderan UGM dengan nama Geng Cethul, sebelum akhirnya resmi mendirikan Joxzin pada tahun 1984.

"Kemudian tahun 1984 kelompok ini karena sudah dewasa, sudah besar tahun 84 mereka mendirikan mendirikan Joxzin. Itu ada tujuh orang yang mendirikan Joxzin," ucapnya.

Nama Joxzin ini memiliki kepanjangan Pojox Benzin sesuai dengan lokasi markas mereka. Namun, belakangan Joxzin merupakan akronim dari Joxo Zinting. Joko yang merupakan anak laki-laki yang belum menikah, sementara sinting berarti orang yang gemar berkelahi.

"Mereka awalnya markasnya di pojok dekat Kauman itu. Maka kadang-kadang nama Joxzin itu di diidentikkan dengan pojok bensin. Tapi sebenarnya Joxzin itu singkatan dari Joxo Zinting," ujarnya.

Dosen Ilmu Sejarah UGM itu menjelaskan basis massa Joxzin tersebar di wilayah Jogja selatan, meliputi Kauman, Karangkajen, hingga Kota Gede, dengan identitas warna hijau pupus.

Dominasi Joxzin di wilayah selatan ini mendapat tantangan dari geng QZRUH yang menguasai Jogja bagian utara. Dalam sejarahnya, kedua geng ini pernah bentrok pada 1987. Bentrok itu mengakibatkan tewasnya seorang wanita anak tentara yang kemudian memicu dibekukannya geng-geng yang ada di Jogja.

"Maka kemudian tahun 1988 itu ada edaran geng-geng ada di Jogja itu dibekukan semua. Tapi ini yang (geng) besar dibekukan tetapi sebenarnya sampai tahun 1995 itu masih aktif," jelasnya.

Pasca-pembekuan tersebut, banyak anggota geng yang mulai masuk ke ranah politik praktis menjelang tahun 1995. Anggota Joxzin banyak yang merapat ke Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

"Jadi pada saat (dibekukan) kemudian tahun 1995 itu geng-geng yang besar tadi itu sudah mulai tidak aktif. Kemudian banyak yang masuk ke partai-partai politik," katanya.

"Banyak yang kemudian dari beberapa dari Joxzin, kemudian kemudian banyak masuk ke PPP," lanjutnya.

Selain itu, anggota geng di Jogja kemudian mulai masuk ke sekolah-sekolah. Kemudian muncul berbagai macam geng sekolah yang terorganisir dan memiliki struktur kepengurusan. Bahkan sampai ada kaderisasi.

"Karena kemudian dari peristiwa 1988 dan kemudian 1995 yang kemudian menjadi dibekukan itu, maka anak-anak muda itu sudah tidak punya lagi geng yang bisa mewadahi mereka. Maka kemudian banyak yang masuk geng-geng itu ke sekolah," ujarnya.

Dari sinilah kemudian akar 'klitih' muncul. Awalnya, klitih adalah istilah untuk aktivitas konvoi motor santai berkeliling kota yang dilakukan dua-dua, namun sering kali berujung pada perkelahian saat melewati wilayah sekolah musuh.

"Nah, kemudian ada satu istilah yang namanya klitih. Itu sebenarnya istilah geng sekolah yaitu yang maksudnya adalah konvoi ya dari geng sekolah itu yang biasanya dua-dua gitu kemudian mereka memutari kota dan kadang-kadang dengan sengaja melewati sekolah musuh untuk mengajak berkelahi," katanya.

Secara historis, Julianto melanjutkan, Jogjakarta memiliki tradisi geng yang kuat. Hal itu lah yang membuat sampai saat ini masih banyak geng yang eksis di Kota Pelajar ini.

"Secara historis itu geng-geng itu mudah tumbuh di Yogyakarta. Karena di sana banyak pemuda-pemuda, orang Jogja atau luar Jogja. Kemudian anak-anak muda itu kan membutuhkan wadah, membutuhkan apresiasi, membutuhkan pengakuan dan lain-lain," ujarnya.

Menurutnya, pengakuan-pengakuan itu tidak semuanya bisa bergerak di ruang-ruang yang positif. Mereka kemudian membutuhkan wadah yang itu memungkinkan untuk mendapatkan perhatian.

"Maka geng-geng itu memang dibutuhkan ya, geng-geng itu memang mereka merasa membutuhkan itu untuk saluran dinamika dirinya. Nah, itulah maka kemudian geng masih masih bisa berkembang di di Yogyakarta," pungkasnya.




(afn/alg)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads