1 Ramadan Berpotensi Berbeda, Ini Kata Muhammadiyah-PWNU DIY

1 Ramadan Berpotensi Berbeda, Ini Kata Muhammadiyah-PWNU DIY

Adji G Rinepta - detikJogja
Selasa, 17 Feb 2026 16:58 WIB
Penetapan masuknya bulan Ramadan 1447 Hijriyah berpotensi berbeda. Begini tanggapan PP Muhammadiyah dan PWNUDIY.
Pemantauan hilal atau rukyatul hilal untuk menetapkan 1 Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi di Kampus IAIN Sultan Amai Gorontalo. (Foto: Apris Nawu/detikcom)
Jogja -

Penetapan masuknya bulan Ramadan 1447 Hijriyah berpotensi berbeda. PP Muhammadiyah menetapkan awal puasa jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, sedangkan dari pemerintah masih akan mengadakan sidang isbat sore ini.

Kepala Bidang Penerangan Agama Islam, Zakat dan Wakaf (Penais Zawa) Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) DIY, Nurhuda, menerangkan sore ini baru akan dilakukan rukyatul hilal di seluruh Indonesia sebagai salah satu komponen Sidang Isbat.

"Jadi se-Indonesia, kalau di Yogyakarta nanti di Syekh Belabelu ya, POB, Pusat Observasi Bulan di Syekh Belabelu. Insyaallah nanti sore akan dilakukan rukyatul hilal untuk menentukan awal Ramadan," jelas Nurhuda saat dihubungi, Selasa (17/2/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Nurhada tak menampik jika ada potensi penentuan 1 Ramadan tahun ini mungkin akan berbeda. Untuk itu ia mengimbau agar masyarakat bisa bijaksana dan tetap saling menghormati meski ada perbedaan.

"Ada kemungkinan untuk terjadi perbedaan, sebagaimana yang sudah sama-sama kita ketahui Muhammadiyah sudah menetapkan awal Ramadan jatuh tanggal 18 Februari hari Rabu besok pagi. Sementara untuk pemerintah tentu menunggu rukyatul hilal yang kemudian nanti ditetapkan dalam sidang isbat penentuan awal Ramadan," ujarnya.

ADVERTISEMENT

Sementara, Badan Hisab Rukyat (BHR) DIY meyakini hilal belum akan terlihat hari ini. Ketua Badan Hisab Rukyat DIY Mutoha Arkanuddin mengatakan meski meyakini hilal belum terlihat, alasan tetap diadakannya pantauan adalah mekanisme formal untuk sidang Isbat.

"Ini kan sebetulnya simalakama nggih untuk rukyat hilal kali ini, kan karena memang dipastikan hilal tidak akan terlihat karena masih di bawah ufuk," jelas Mustofa saat dihubungi, hari ini.

Adapun secara kondisi astronomi saat ini, menurut Mustofa, di seluruh Indonesia hilal awal Ramadan posisinya masih berada di bawah ufuk pada saat matahari terbenam nanti sore.

"Jadi nggak ada yang di atas ufuk. Untuk Jogja sendiri di Syekh Belabelu itu ketinggian hilal itu minusnya 1,5. Jadi di bawah matahari iya 1,5 di bawah ufuk ketika matahari terbenam," papar Mustofa.

"Artinya nanti bulan terbenam lebih dulu. Bulan terbenam baru matahari yang terbenam. Jadi praktis kita nggak akan bisa menyaksikan hilal. Itu terjadi hingga Provinsi Aceh. Di Aceh juga sama posisinya relatif rendah dan di bawah ufuk sama," pungkasnya.

Pandangan PP Muhammadiyah

Terkait potensi waktu mengawali puasa Ramadan yang mungkin akan berbeda di Indonesia, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengatakan hal merupakan sesuatu yang biasa. Oleh karena itu, ia meminta umat Islam bisa menyikapinya dengan cerdas dan tasamuh di tengah perbedaan.

"Di situlah sebagai ruang ijtihad tentu tak perlu saling menyalahkan satu sama lain, dan satu sama lain juga tidak merasa paling benar sendiri," jelas Haedar dalam keterangan tertulis yang diterima detikJogja, hari ini.

Alih-alih memperdebatkan perbedaan, Haedar berpesan supaya puasa Ramadan 1447 H dapat dijalankan umat Islam dengan tenang, damai, penuh kematangan, dan tidak terganggu oleh hiruk pikuk kehidupan termasuk perbedaan awal Ramadan.

"Dalam konteks yang lebih luas, Ramadan diharapkan kita menjadi umat yang terbaik. Baik dalam kerohanian senantiasa beriman dan bertakwa kepada Allah, maupun dalam hal keilmuan yang kian tinggi dan mrnebar segala kebaikan yang makin luas," pesan Haedar.

Pandangan PWNU DIY

Ketua Pimpinan Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DIY, Zuhdi Muhdlor, menjelaskan bagi NU penentuan awal dan akhir Ramadan adalah dengan menggunakan metode rukyat atau melihat langsung posisi bulan. Jika bulan tidak bisa dilihat, maka sempurnakan bulan sebelumnya menjadi 30 hari.

"Jika untuk melihat itu (bulan) terhalang mendung, maka sempurnakanlah bulan Syaban menjadi 30 hari. Karena itu bagi NU melihat bulan (rukyah) untuk menentukan awal dan akhir Ramadan adalah ibadah," jelas Zuhdi saat dihubungi, hari ini.

"Selain menunggu hasil rukyat, NU juga mempercayakan kepada ulil amri (pemerintah) dalam hal penentuan awal dan akhir Ramadan sebagaimana di negara-negara lain," sambungnya.

Terkait potensi perbedaan penentuan 1 Ramadan, Zuhdi meminta umat islam untuk tetap saling menghormati dan lebih fokus pada ibadah.

"Untuk awal Ramadan berpotensi beda, tetapi untuk Lebaran ada kemungkinan bareng," terang Zuhdi.

"Kita tetap jaga persatuan agar kita bisa fokus pada ibadah. Tidak perlu dibincangkan perbedaan. Yang maha tahu hakikat kebenaran hanya Allah SWT. Kita jangan melebihi kewenangan Allah untuk mengklaim kebenaran tunggal," pesannya.




(apl/apl)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads