Bolehkah Puasa Nisfu Syaban Jika Masih Punya Utang Puasa Ramadhan?

Bolehkah Puasa Nisfu Syaban Jika Masih Punya Utang Puasa Ramadhan?

Nur Umar Akashi - detikJogja
Minggu, 01 Feb 2026 16:01 WIB
Ilustrasi Puasa 2026
Ilustrasi puasa nisfu syaban. Foto: Freepik
Jogja -

Syaban adalah kesempatan terakhir umat Islam untuk menuntaskan utang puasa Ramadhan. Pun, bila Ramadhan tiba dan utang belum selesai, kewajiban itu tidak akan otomatis terhapus. Bahkan, sebagian ulama mewajibkan tambahan pembayaran fidyah.

Dilansir buku Fiqih Sunnah 2 oleh Sayyid Sabiq, kewajiban puasa Qadha Ramadhan ini difirmankan langsung oleh-Nya:

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗوَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗوَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Artinya: "(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, (yaitu) memberi makan seorang miskin. Siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, itu lebih baik baginya dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (QS al-Baqarah: 184)

Lantas, bagaimana jika ingin mengerjakan puasa Nisfu Syaban dalam kondisi utang puasa Ramadhan masih ada? Berikut pembahasan seputar hukumnya.

ADVERTISEMENT

Poin Utamanya:

  • Tidak ada anjuran khusus untuk berpuasa Nisfu Syaban. Namun, puasa ini boleh dikerjakan karena termasuk keumuman hari Syaban yang padanya Nabi SAW banyak berpuasa.
  • Lebih utama mengerjakan puasa Qadha Ramadhan sampai tuntas, baru mengerjakan puasa-puasa sunnah.
  • Ada ulama yang membolehkan puasa Qadha Ramadhan digabung dengan puasa sunnah. Ada juga yang melarang.

Bolehkah Puasa Nisfu Syaban Saat Punya Utang Puasa Ramadhan?

Pertama-tama, perlu dipahami bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam tidak secara khusus menganjurkan puasa Nisfu Syaban. Hadits-hadits shahih hanya menunjukkan bahwa Nabi SAW berpuasa pada mayoritas hari Syaban, tanpa pengkhususan hari.

Diambil dari buku Catatan Fikih Puasa Sunnah oleh Hari Ahadi, Aisyah radhiyallahu anha berkata:

كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ : لا يُفْطِرُ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لا يَصُومُ، فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Artinya: "Terkadang jika Nabi SAW berpuasa sunnah kami sampai mengatakan, 'Beliau selalu berpuasa.' Dan terkadang saat beliau tidak berpuasa, kami sampai mengatakan, 'Beliau sama sekali tidak melakukan puasa sunnah (di bulan tersebut).' Dan saya tidak pernah melihat Nabi SAW berpuasa sebulan penuh kecuali di bulan Ramadhan, saya juga tidak melihat beliau berpuasa sunnah yang lebih sering melebihi ketika di bulan Syaban." (HR Bukhari no 1969 dan Muslim no 1156)

Meski begitu, berpuasa pada Nisfu Syaban alias tanggal 15 bulan Syaban sah-sah saja. Asalkan, tanpa meyakini adanya keutamaan atau kekhususan tertentu.

Kembali ke topik awal, apakah boleh puasa sunnah, dalam hal ini puasa pada Nisfu Syaban, saat utang puasa Ramadhan masih ada?

Yang pasti, lebih utama mengerjakan utang puasa Ramadhan terlebih dahulu ketimbang puasa sunnah. Salah satu dasarnya adalah atsar:

"Saya memiliki utang puasa Ramadhan beberapa hari. Apakah saya boleh berpuasa sunnah di 10 hari pertama Dzulhijjah? Abu Hurairah berkata, 'Jangan'. Orang itu kembali bertanya, 'Mengapa?' Abu Hurairah menjawab, 'Mulailah dengan menunaikan hak Allah kemudian berpuasa sunnah-lah sesuai keinginanmu.'" (Diriwayatkan oleh Abdurrozzaq dalam al-Mushannaf, 7715)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin berkata:

التطوع بالصيام قبل قضاء رمضان لا شك أنه خلاف الأولى؛ لأن العقل يقتضى أن الواجب قبل التفل .. وهذا متفق عليه أن الأولى أن يبدأ بالقضاء قبل التطوع

Artinya: "Tidak diragukan, bahwa berpuasa sunnah sebelum melunasi hutang puasa wajib menyelisihi amalan yang lebih utama, sebab secara akal amalan yang wajib lebih diprioritaskan daripada yang sunnah... Dan hal ini disepakati (oleh seluruh ulama), bahwa yang paling baik ialah menyelesaikan hutang puasa lebih dulu baru kemudian menjalankan yang sunnah." (Ad-Durus al-Fiqhiyyah, II/84)

Dengan demikian, yang terbaik adalah memprioritaskan puasa Qadha Ramadhan. Mengingat, tidak adanya juga kekhususan puasa tanggal 15 Syaban. Wallahu a'lam bish-shawab.

Bagaimana Jika Puasa Nisfu Syaban Digabung Qadha Ramadhan?

Menurut penjelasan Dr Makmur Dongoran di buku Ensiklopedia Islam, ulama berbeda pendapat. Ada yang membolehkan, ada pula yang melarang.

Salah satu ulama yang membolehkan adalah Imam ar-Ramli. Ia berkata, "Kalau seseorang mengqadha puasa di bulan Syawal atau mengqadha di hari Asyura, maka ia mendapatkan pahala puasa sunnahnya." (Nihayatul Muhtaj 3/208).

Sementara itu, di antara ulama yang menganggap tidak bisanya penggabungan puasa Qadha Ramadhan dengan puasa sunnah adalah Syaikh bin Baz dan Syaikh Dr Abdurrahman Ali al-Askar. Menurut mereka, jika digabung, maka yang sah adalah puasa Qadha Ramadhan.

Pendapat ini didasarkan atas kaidah fikih, "Sesungguhnya niat apabila digabungkan, maka yang besar akan mengalahkan yang kecil." Maksud kaidah ini adalah niat fardhu (besar) digabung dengan niat sunnah (kecil), maka yang dianggap berlaku adalah niat fardhu.

Wallahu a'lam bish-shawab.

Demikian sekilas mengenai hukum mengerjakan puasa Nisfu Syaban saat masih memiliki utang puasa Ramadhan. Semoga menjawab pertanyaan detikers, ya!



(par/par)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads