Wamenkes Temui Sultan HB X Bahas MBG hingga Tuberkulosis

Wamenkes Temui Sultan HB X Bahas MBG hingga Tuberkulosis

Adji G Rinepta - detikJogja
Kamis, 29 Jan 2026 16:48 WIB
Wamenkes Temui Sultan HB X Bahas MBG hingga Tuberkulosis
Wamenkes Benjamin Paulus Oktavianus dan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di kompleks Kepatihan Kota Jogja, Kamis (29/1/2026). (Foto: Adji G Rinepta/detikJogja)
Jogja -

Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Benjamin Paulus Oktavianus menemui Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, hari ini. Pertemuan keduanya membahas bermacam topik dari program makan bergizi gratis (MBG) hingga penanganan penyakit Tuberkulosis (TB).

"Yang pertama adalah mengatasi dengan disiapkannya makan bergizi gratis itu dengan Badan Gizi Nasional tujuannya untuk mengatasi stunting dan gizi buruk. Mulai dari sejak persiapan kelahiran sampai usia 18 tahun," papar Benjamin usai pertemuan di kompleks Kepatihan Kota Jogja, Kamis (29/1/2026).

"Program kedua adalah pemberantasan penyakit tuberkulosis. Karena kita tahu bahwa Indonesia adalah negara nomor dua di dunia status TB-nya tertinggi di dunia. Maka kita bersama-sama dengan pemerintah daerah berbagai wilayah sehingga mendapat dukungan langsung dari Gubernur DIY dengan seluruh perangkatnya untuk melakukan akselerasi," lanjutnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Benjamin memaparkan pemberantasan penyakit TB merupakan quick win dari pemerintah pusat, maka perlu dilakukan cara kerja yang extraordinary. Contohnya, pendataan dan cara kerja yang melibatkan lintas sektoral.

ADVERTISEMENT

Meski begitu, kata Benjamin, DIY bukan termasuk daerah dengan kasus TB yang tinggi seperti Jawa Barat, Banten, Jatim, Jabar, Sumatera Selatan, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan NTT. Namun, DIY dianggap sebagai jujukan wisata yang banyak dikunjungi.

"Maka Jogja harus kita awasi, karena ini kan penyakit infeksi itu menular dari orang ke orang. Di mana terjadi tempat pertukaran transportasi yang tinggi kita tahu Jogja kan sentral. Jadi kita membantu," ujarnya.

"Kalau kasus TB di Jogja rendah, tidak termasuk dengan daerah TB yang tinggi tidak termasuk, tetapi kita tetap Jogja ada kasusnya harus diselesaikan," lanjut Benjamin.

Benjamin memaparkan, di Indonesia terdapat rata-rata 384 kasus TB per 100 ribu penduduk. Sedangkan di Jogja, rata-rata hanya sekitar 200-an kasus per 200 ribu penduduknya.

"Di Jogja itu saya hitung cuma 6 ribu kasus. Jadi kalau 6 ribu dibagi jumlah penduduknya tadi itu Jogja nggak sampai 300, sekitar 200 kasus saja (per 100 ribu penduduk). Jadi Jogja bagus penanganan TB-nya," ungkapnya.

Sementara Sultan HB X mengatakan permasalahan penanganan kasus TB berada di fase penyembuhan pasien yang membutuhkan waktu lama dan tidak boleh putus obat. Untuk itu Sultan menyarankan agar melibatkan PKK untuk memfasilitasi pasien yang rumahnya jauh dari fasilitas kesehatan.

"Jadi saya minta bagaimana PKK itu bisa dijadikan kader, nanti kalau tinggal hanya minum obat, ya obat itu titipkan PKK aja yang ada di desa itu, jadi dia (pasien) tidak harus ke dokter atau rumah sakit yang mungkin jauh," ujarnya.

"Sehingga pengobatan itu tidak putus, selama ini kan putus terus karena mungkin jaraknya jauh (rumah dan rumah sakit), (pasien) males bolak balik," pungkas Sultan.




(aku/apl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads