Ada Upacara Peringatan Kenaikan Takhta Sultan HB X Besok, Keraton Tutup Sehari

Ada Upacara Peringatan Kenaikan Takhta Sultan HB X Besok, Keraton Tutup Sehari

Serly Putri Jumbadi - detikJogja
Sabtu, 17 Jan 2026 15:04 WIB
Ada Upacara Peringatan Kenaikan Takhta Sultan HB X Besok, Keraton Tutup Sehari
Keraton Jogja tampak dari Alun-alun Utara, Selasa (19/9/2023). Foto: Adji G Rinepta/detikJogja
Jogja -

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat akan menggelar Upacara Sugengan dalam rangka peringatan Kenaikan Takhta Sri Sultan Hamengku Buwono X atau Tingalan Jumenengan Dalem besok. Seiring pelaksanaan upacara tersebut, Keraton ditutup untuk kunjungan wisata selama satu hari.

Penghageng II Kawedanan Reksa Suyasa, KRT Kusumonegoro, mengatakan penutupan Keraton merupakan agenda rutin setiap peringatan Tingalan Jumenengan Dalem.

"Kalau untuk pariwisata, besok sama seperti tahun-tahun sebelumnya, satu hari libur," kata KRT Kusumonegoro saat dihubungi detikJogja, Sabtu (17/1/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kanjeng Kusumo menjelaskan rangkaian Upacara Sugengan tidak mengalami perubahan. Para abdi dalem ditimbali sowan marak ke Tratag Bangsal Kencana sekitar pukul 10.00 WIB untuk mengikuti doa bersama.

ADVERTISEMENT

"Pengageng Carik dan Hartoko di masing-masing Kawedanan sowan di Tratag Bangsal Kencana. Doa dipimpin oleh Kiai Penghulu atau yang mewakili," ujarnya.

Doa dalam upacara tersebut dipimpin oleh salah satu menantu Ngarsa Dalem yang ditunjuk. Prosesi Sugengan berlangsung singkat dan biasanya tidak lebih dari dua jam.

"Doanya sederhana, memohon keselamatan, umur panjang, dan kesejahteraan Sultan, keluarga, serta masyarakat Yogyakarta," jelasnya.

Dalam rangkaian Sugengan, Keraton juga menyiapkan ubarampe pusaka, salah satunya panjenengan berupa tiga logam berwarna kuning, putih, dan merah yang panjangnya menyesuaikan tinggi Sri Sultan yang bertakhta.

"Kalau sekarang Sri Sultan itu tingginya Kanjeng Sinuwun itu tingginya 180 (cm), maka masing-masing logam itu panjangnya ya sekitar itulah 180-an," katanya.

"Panjenengan itu tidak dilabuh, hanya didoakan," lanjut Kanjeng Kusumo.

Sementara ubarampe lain seperti bekas pakaian Sultan HB X, potongan rambut dan kuku, serta bunga pusaka akan dilabuh pada rangkaian labuhan yang digelar keesokan harinya pada Senin (19/1).

Kanjeng Kusumo menambahkan peringatan Tingalan Jumenengan Dalem tahun ini bertepatan dengan Tahun Dal dalam penanggalan Jawa yang dianggap sebagai tahun besar. Karena itu, rangkaian Labuhan dilakukan di satu lokasi tambahan, yakni Dlepih Kayangan, Wonogiri, Jawa Tengah.

"Tahun Dal dianggap besar, sehingga ada tambahan tempat labuhan. Jadi itu Sri Sultan itu kan menapaktilasi, melestarikan apa yang pernah dilakukan oleh pendiri Mataram Panembahan Senopati, lalu Sultan Hamengkubuwono I dan seterusnya itu juga dulu melakukan khalwat atau kemudian apa ya ritual-ritual tertentu mendekatkan diri pada Tuhan mencari tempat yang sunyi itu, salah satunya di Dlepih itu, selain Parangkusumo nggih," tuturnya.

"Jadi di sana juga Panembahan Senopati juga ada di sana masih sampai sekarang masih digunakan untuk apa ya sebagai tempat berziarah bagi banyak warga," pungkasnya.




(apu/ams)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads