- Teks Khutbah Jumat Isra Miraj 2026 1. Khutbah Jumat Isra Miraj 2026: Ujian dan Penghambaan hingga Anugerah Kemuliaan 2. Khutbah Jumat Isra Miraj 2026: Isra Miraj dan Pentingnya Masjid Al-Aqsa 3. Khutbah Jumat Isra Miraj 2026: Pelajaran Mulia dari Peristiwa Isra Miraj yang Agung 4. Khutbah Jumat Isra Miraj 2026: Isra Mi'raj, Momen yang Tepat Mengenalkan Shalat kepada Anak 5. Khutbah Jumat Isra Miraj 2026: Peringatan Isra Mi'raj sebagai Momentum Memperbaiki Kualitas Shalat 6. Khutbah Jumat Isra Miraj 2026: Isra M'raj dan Pelajaran Keimanan dari Abu Bakar 7. Khutbah Jumat Isra Miraj 2026: Memahami Peristiwa Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad 8. Khutbah Jumat Isra Miraj 2026: Shalat dan Kemaslahatan Sosial
Jumat, 16 Januari 2026, para khatib dapat membawakan materi seputar Isra Miraj. Mengingat, tanggal itu bertepatan dengan 27 Rajab 1447 H, waktu yang dipedomani mayoritas masyarakat Indonesia sebagai momen Isra Miraj.
Sebagaimana detikers ketahui, Isra Miraj adalah perjalanan magis yang dialami Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Dalam perjalanan itu, Rasulullah sholat di Masjidil Aqsa, bertemu para nabi yang telah mangkat mendahului di langit, dan menerima perintah sholat.
Sholat adalah amalan utama bagi seorang muslim yang akan dihisab pertama kali kelak. Diambil dari buku Pembinaan Ibadah Sholat untuk Anak TK & TPA dan Masyarakat oleh Endang Switri MPdI dkk, Nabi bersabda:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Amalan yang pertama kali dihisab seorang hamba pada hari kiamat adalah sholat." (HR Tirmidzi, an-Nasa'i, Ibnu Majah, Ahmad, dan ath-Thabrani)
Usai mengetahui urgensi sholat, peristiwa diperintahkannya ibadah ini jadi penting dipahami setiap muslim. Pengenalannya bisa dilakukan melalui khutbah Jumat. Nah, di bawah ini beberapa teks khutbah Jumat Isra Miraj 2026 sebagai referensi!
Teks Khutbah Jumat Isra Miraj 2026
1. Khutbah Jumat Isra Miraj 2026: Ujian dan Penghambaan hingga Anugerah Kemuliaan
(sumber: tulisan Ustadz Sunnatullah di laman NU Online)
Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Segala puji hanya milik Allah ta'ala, Zat Yang terus melimpahkan karunia-Nya kepada kita semua tanpa henti. Nikmat iman, kesehatan dan kedamaian yang senantiasa menyelimuti kita adalah bukti kasih sayang-Nya yang tiada tara. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, sang pembawa risalah kebenaran dan suri teladan sepanjang zaman.
Selanjutnya, sebagai khatib yang diberi amanah untuk menyampaikan khutbah di atas mimbar yang mulia ini, perkenankan saya untuk mengajak diri sendiri dan seluruh jamaah untuk senantiasa meningkatkan kualitas takwa kita kepada Allah SWT. Mari kita rawat dan tingkatkan ketakwaan itu dengan sebenar-benarnya takwa, yaitu dengan menjalankan seluruh perintah Allah dengan penuh keikhlasan serta menjauhi segala larangan-Nya dengan penuh kesadaran dan kehati-hatian.
Ketakwaan tidak hanya ucapan di lisan, tetapi juga harus tercermin dalam perilaku, pilihan, dan tanggung jawab kita sehari-hari. Dengan takwa, maka hati akan menjadi tenang, langkah hidup menjadi terarah, dan pertolongan Allah senantiasa dekat dalam setiap keadaan.
Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Pada kesempatan yang mulia ini, mari kita bersama-sama merenungkan salah satu peristiwa agung dalam sejarah Islam yang terjadi pada bulan Rajab, yaitu peristiwa Isra Mi'raj Nabi Muhammad. Peristiwa ini tidak hanya sebatas sejarah biasa, tetapi perjalanan spiritual yang penuh dengan hikmah dan pelajaran berharga bagi kita semua. Allah ta'ala berfirman dalam Al-Qur'an:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلاً مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ البَصِيرُ
Artinya, "Mahasuci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Isra': 1).
Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab Tafsir Al-Qur'anil Azhim, jilid 5, halaman 43, setiap ayat yang diawali dengan lafal tasbih (subahana) sebagaimana awal ayat ini, menjadi isyarat agung bahwa peristiwa yang akan diceritakan sesudahnya merupakan sesuatu yang sangat luar biasa dan melampaui nalar akal manusia.
Selain itu, Allah menyebut Nabi Muhammad dalam ayat ini dengan sebutan "abdihi" (hamba-Nya), bukan rasul-Nya atau nabi-Nya. Ini karena derajat penghambaan lebih tinggi dan lebih mulia daripada derajat kerasulan. Sebab, status penghambaan itu muncul dari seorang hamba kepada Allah ta'ala, sementara status rasul muncul dari Allah dan ditunjukkan kepada hamba-Nya. Ibnu Katsir berkata:
مَقَامُ الْعُبُودِيَّةِ أَشْرَفُ مِنْ مَقَامِ الرِّسَالَةِ لِكَوْنِ الْعِبَادَةِ تَصْدُرُ مِنَ الْخَلْقِ إِلَى الْحَقِّ وَالرِّسَالَةِ مِنَ الْحَقِّ إِلَى الْخَلْقِ
Artinya, "Derajat penghambaan (ubudiyah) itu lebih mulia daripada derajat kerasulan (risalah), karena ibadah muncul dari makhluk kepada Allah (Al-Haq), sedangkan risalah itu dari Allah kepada makhluk."
Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Peristiwa Isra Mi'raj merupakan perjalanan spiritual yang penuh hikmah di dalamnya. Namun mari kita renungkan bersama, bahwa sebelum Allah memperjalankan rasul-Nya ini, terdapat berbagai bentuk ujian dan penderitaan yang sangat berat dari kaum Quraisy yang datang menghampiri Rasulullah.
Cacian, penolakan, dan kekerasan terus ada dalam perjalanan dakwahnya. Bahkan, salah satu ujian yang paling menyakitkan adalah ketika beliau pergi ke Thaif dengan harapan akan mendapatkan sambutan dan dukungan, namun justru diusir dan dilempari batu, hingga tubuhnya terluka dan berdarah.
Tidak hanya itu, kesedihan Rasulullah semakin bertambah ketika pamannya yang bernama Abu Thalib yang senantiasa mendukung dan melindunginya dari gangguan kaum Quraisy wafat. Selang dua bulan kemudian, istri tercintanya yang bernama Khadijah juga berpulang ke Rahmatullah.
Dalam kondisi yang sangat lemah itu, Rasulullah kemudian menampakkan puncak penghambaan dirinya kepada Allah, dengan berdoa penuh kerendahan hati, mengadukan kelemahan dirinya, memohon pertolongan, dan menyerahkan sepenuhnya keadaan beliau kepada Allah SWT. Dan seketika itu, datanglah penghormatan agung dari Allah swt melalui peristiwa Isra dan Mi'raj.
Penjelasan ini sebagaimana disampaikan oleh Syekh Muhammad Said Ramadhan al-Buthi, dalam kitab Fiqhus Sirah an-Nabawiyyah Ma'a Mujizin li Tarikhil Khilafah ar-Rasyidah, halaman 13, ia mengatakan:
فَجَاءَتْ ضِيَافَةُ الْإِسْرَاءِ وَالْمِعْرَاجِ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ تَكْرِيمًا مِنَ اللَّهِ لَهُ وَتَجْدِيدًا لِعَزِيمَتِهِ وَثَبَاتِهِ، ثُمَّ جَاءَتْ دَلِيلًا عَلَى أَنَّ هَذَا الَّذِي يُلَاقِيهِ عَلَيْهِ مِنْ قَوْمِهِ لَيْسَ بِسَبَبِ أَنَّ اللَّهَ قَدْ تَخَلَّى عَنْهُ، أَوْ أَنَّهُ قَدْ غَضِبَ عَلَيْهِ، وَإِنَّمَا هِيَ سُنَّةُ اللَّهِ مَعَ مُحِبِّيهِ وَمَحْبُوبِيهِ. وَهِيَ سُنَّةُ الدَّعْوَةِ الْإِسْلَامِيَّةِ فِي كُلِّ عَصْرٍ وَزَمَانٍ
Artinya, "Maka datanglah undangan Isra dan Mi'raj setelah itu sebagai penghormatan dari Allah kepadanya, dan sebagai pembaharuan bagi tekad dan keteguhannya. Kemudian datanglah sebagai bukti bahwa apa yang dialami olehnya (Nabi Muhammad) dari kaumnya bukanlah karena Allah telah meninggalkannya, atau karena Allah telah murka kepadanya, tetapi sesungguhnya itu adalah sunnatullah yang berlaku bagi orang-orang yang mencintai dan dicintai-Nya. Dan itu adalah sunnah dakwah Islam di setiap zaman dan waktu."
Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah
Dari peristiwa agung ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa jalan penghambaan dan dakwah tidak pernah lepas dari ujian. Justru, semakin tinggi kedudukan seseorang di sisi Allah, semakin berat pula ujian yang harus ia lalui. Rasulullah telah memberi teladan nyata bahwa segala ujian hidup bukanlah tanda kebencian Allah, melainkan sering kali merupakan tanda cinta dari-Nya.
Isra dan Mi'raj mengajarkan kepada kita bahwa setelah kesabaran yang panjang, Allah menghadirkan pertolongan-Nya dengan cara yang tidak disangka-sangka. Setelah manusia menyakiti dan menolak, Allah sendiri yang memuliakan dan menenangkan hati kekasih-Nya. Inilah sunnatullah yang harus kita Yakini, bahwa kesulitan tidak pernah datang sendirian, tetapi selalu membawa harapan dan rahmat di dalamnya.
Oleh sebab itu, ketika kita menghadapi ujian hidup berupa kegagalan atau penolakan, janganlah kita berputus asa. Jadikanlah penghambaan kepada Allah sebagai sandaran utama. Perbanyak doa, perkuat sujud, dan perkokoh kesabaran. Sebab pertolongan Allah akan senantiasa datang kepada mereka yang paling jujur dalam penghambaan.
Demikianlah khutbah Jumat perihal peristiwa Isra Mi'raj sebagai pelajaran agung tentang ujian, penghambaan, dan anugerah kemuliaan dari Allah ta'ala. Semoga khutbah ini menambah keimanan, menguatkan kesabaran, serta meneguhkan hati kita untuk senantiasa istiqamah dalam penghambaan kepada-Nya. Dan semoga Allah SWT menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang dicintai dan dimuliakan-Nya. Amin ya rabbal alamin.
2. Khutbah Jumat Isra Miraj 2026: Isra Miraj dan Pentingnya Masjid Al-Aqsa
(sumber: laman resmi Muhammadiyah)
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Shalawat dan salam marilah kita limpahkan kepada Nabi kita yakni Nabi Muhammad Saw.
Pada kesempatan yang penuh keberkahan ini, khatib akan menyampaikan khutbah tentang peristiwa Isra' Mi'raj dan pentingnya Masjid Al-Aqsa, simbol kemuliaan yang telah Allah tetapkan bagi umat Islam.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Peristiwa Isra' Mi'raj seharusnya menjadi pengingat akan hubungan spiritual umat Islam dengan Masjid Al-Aqsa. Rasulullah SAW dipindahkan oleh Allah SWT dari Masjidilharam ke Masjid Al-Aqsa dalam satu malam. Ada lima alasan utama mengapa Masjid Al-Aqsa memiliki nilai yang sangat penting bagi kita umat Islam.
Pertama, Masjid Al-Aqsa adalah kiblat pertama umat Islam. Sebelum umat Islam diperintahkan untuk menghadap Ka'bah, mereka menghadap Masjid Al-Aqsa dalam salat mereka. Hal ini diabadikan dalam QS. Al Baqarah ayat 144, Allah berfirman:
قَدْ نَرٰى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى السَّمَاۤءِۚ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضٰىهَا ۖ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۗ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ شَطْرَهٗ ۗ وَاِنَّ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ لَيَعْلَمُوْنَ اَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا اللّٰهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُوْنَ
"Kami melihat wajahmu (Muhammad) sering menengadah ke langit, maka akan Kami palingkan engkau ke kiblat yang engkau senangi. Maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja engkau berada, hadapkanlah wajahmu ke arah itu. Dan sesungguhnya orang-orang yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu, bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan."
Ayat di atas menunjukkan bahwa sejak awal, Palestina telah menjadi bagian dari tata ibadah dan sejarah Islam yang begitu istimewa.
Kedua, Masjid Al-Aqsa adalah tempat terjadinya Isra' Nabi Muhammad SAW, salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam. Dalam perjalanan agung ini, Rasulullah SAW diperjalankan oleh Allah SWT dari Masjidilharam ke Masjid Al-Aqsa, sebelum kemudian diangkat menuju Sidratul Muntaha di langit tertinggi. Peristiwa ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan yang penuh hikmah.
Ketiga, Masjid Al-Aqsa menjadi tempat di mana Rasulullah SAW memimpin salat berjamaah dengan para nabi. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda:
فَحانَتِ الصَّلاةُ فأمَمْتُهُمْ
"Kemudian tibalah waktu salat, maka akun pun mengimami mereka (para Nabi)." (HR. Muslim).
Peristiwa ini menunjukkan persatuan umat dan kesinambungan risalah yang dibawa oleh para nabi dari zaman ke zaman. Dalam momen penuh keagungan ini, Masjid Al-Aqsa menjadi saksi atas kesatuan pesan ilahi yang disampaikan sejak Nabi Adam AS hingga Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi. Kejadian ini menegaskan bahwa Islam adalah kelanjutan dari ajaran tauhid yang telah dibawa oleh para nabi sebelumnya.
Hal ini juga menjadi simbol bahwa Nabi Muhammad SAW tidak hanya sebagai imam dalam salat tersebut, tetapi juga sebagai pemimpin risalah terakhir yang menyempurnakan ajaran-ajaran sebelumnya.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Keempat, tanah di sekitar Masjid Al-Aqsa adalah tempat yang diberkahi. Allah menyelamatkan Nabi Ibrahim dan Nabi Luth ke tanah ini dari ancaman kaumnya, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Anbiya ayat 71.
وَنَجَّيْنٰهُ وَلُوْطًا اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ بٰرَكْناَ فِيْهَا لِلْعٰلَمِيْنَ
Dan Kami selamatkan dia (Ibrahim) dan Luth ke sebuah negeri yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam.
Ayat di atas menunjukkan bahwa bahwa Masjid Al-Aqsa adalah tempat pembebasan dari kezaliman dan tegaknya kebenaran.
Kelima, Masjid Al-Aqsa memiliki keberkahan yang meliputi seluruh wilayahnya. Dengan luas kompleks sebesar 144.000 meter persegi, setiap sudut tanah Masjid Al-Aqsa adalah tanah suci yang dilimpahi keberkahan Allah SWT.
Dalam Al-Qur'an, Allah SWT menegaskan keberkahan Masjid Al-Aqsa, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Al-Isra ayat 1:
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Sebagai umat Islam, kita memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga Masjid Al-Aqsa, baik secara fisik maupun spiritual. Perbanyaklah doa untuk saudara-saudara kita di Palestina yang sedang berjuang mempertahankan Masjid Al-Aqsa dari segala bentuk ancaman. Tingkatkan kesadaran kita terhadap pentingnya tempat suci ini dalam Islam, karena Masjid Al-Aqsa bukan hanya simbol sejarah, tetapi juga bagian dari akidah kita.
Semoga Allah SWT senantiasa menjaga keimanan kita, melindungi Masjid Al-Aqsa, dan mengokohkan ukhuwah Islamiah di antara kita semua. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
3. Khutbah Jumat Isra Miraj 2026: Pelajaran Mulia dari Peristiwa Isra Miraj yang Agung
(sumber: tulisan KH Misbahul Munir SAg MM di situs MUI Digital)
Sidang Jumat yang berbahagia
Dengan diiringi oleh rasa syukur Alhamdulillah kehadirat Allah Subhanahu wata'ala saya ingin menyampaikan wasiat taqwa kepada saudara -saudara sekalian dalam arti dan dengan cara imtitsalul awamir wajtinabun nawahi. Mari kita berusaha untuk melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhkan diri dari segala larangan-Nya, dengan demikian insya Allah kita akan tergolong sebagai orang yang taqwa kepada Allah SWT.
Hadirin rahimakumullah
Tahun ini, peristiwa Isra dan Miraj Nabi besar kita, Muhammad SAW, kembali kita peringati. Peringatan ini tentu saja memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan kita sebagai muslim, tidak hanya untuk mengenang kembali peristiwa itu, tetapi juga guna mengambil hikmah atau pelajaran agar berguna bagi perjalanan hidup kita. Sekurang-kurangnya ada lima hikmah yang bisa kita ambil dari peristiwa Isra dan Miraj itu.
Pertama, perjalanan Isra dan Miraj ini merupakan perjalanan yang berlangsung dari masjid ke masjid, yakni dari Masjidil Haram ke Masjid Al-Aqsa terus naik ke langit hingga ke Arasy Allah dan kembali lagi ke Masjidil haram. Yang Namanya perjalanan tentu maju, ini berarti bisa kita simpulkan bahwa bila kita ingin umat ini mengalami dan mencapai kemajuan serta agar kemajuaannya tetap terarah, maka sumber daya manusia muslim harus mendapatkan pembinaan di masjid.
Oleh karena itu, setiap muslim harus cinta kepada masjid, gemar ke masjid dan mau memakmurkan masjid. Keharusan kita memakmurkan masjid ini karena memang hanya orang-orang yang berimanlah yang pantas melakukannya, Allah SWT berfirman di dalam surat At Taubah ayat 18 :
اِنَّمَا يَعْمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰهِ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ وَلَمْ يَخْشَ اِلَّا اللّٰهَ ۗفَعَسٰٓى اُولٰۤىِٕكَ اَنْ يَّكُوْنُوْا مِنَ الْمُهْتَدِيْنَ
"Sesungguhnya yang (pantas) memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, mendirikan salat, menunaikan zakat, serta tidak takut (kepada siapa pun) selain Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk."
Hadirin Yang kami Hormati
Hikmah kedua, Isra Miraj juga membuktikan luas dan banyaknya ilmu Allah yang dimiliki sehingga apa yang mustahil bila dilihat dari ilmu manusia menjadi mungkin bagi ilmu Allah SWT., ini menggambarkan bahwa ilmu Allah itu amat luas dan amat banyak, sementara ilmu yang dimiliki manusia sangat sedikit, ini sekaligus membenarkan firman Allah:
.......وَمَآ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا
" ... Dan tidaklah kamu diberi ilmu pengetahuan melainkan sedikit." (QS Al Isra' : 85)
Masyiral Muslimin rahimakumullah...
Hikmah ketiga dari Isra dan Miraj adalah memperkokoh loyalitas atau kesetiaan Nabi Muhammad SAW, kepada Allah SWT. Hal ini karena Isra dan Miraj itu terjadi ketika Nabi berada dalam kondisi yang berduka dengan wafatnya Sayyidah Khodijah dan wafatnya pamannya Abu Thalib. Dengan Isra dan Miraj itulah Allah SWT sebenarnya ingin menegaskan kepada Nabi bahwa boleh saja bahwa ada manusia membantu perjuangan nabi, tetapi seorang nabi tidak pantas terlalu tergantung kepada manusia, ketergantungan dan mengharapkan perlindungan ini hanya pantas kepada Allah SWT, bukan kepada manusia. Allah berfirman:
اَللّٰهُ وَلِيُّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا يُخْرِجُهُمْ مِّنَ الظُّلُمٰتِ اِلَى النُّوْرِۗ ......
" Allah pelindung orang-orang yang beriman. Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman) ... " (QS. Al Baqarah : 257)
Keempat, hikmah dari Isra dan Miraj adalah memperkokoh semangat dakwah. Hal ini karena sekembalinya Rasul SAW, dari Isra dan Miraj, beliau semakin menunjukkan semangatnya dalam dakwah meskipun orang-orang kafir semakin berani dan biadab dalam menghalang-halangi laju dakwah Rasulullah SAW, hinga puncaknya adalah harus dihindarinya pertumpahan darah, maka Nabi dan para sahabat diperintah oleh Allah untuk hijrah dari Makkah ke Madinah.
Keharusan kita untuk menunaikan tugas dakwah secara serius memang dikemukakan oleh Allah SWT, dalam Alquran:
وَلْتَكُنْ مِّنْكُمْ اُمَّةٌ يَّدْعُوْنَ اِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۗ وَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
"Dan Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS Ali Imran: 104)
Sidang Jumat yang dimuliakan Allah
Terakhir atau yang kelima dari hikmah Isra dan Miraj adalah semakin menumbuhkan Izzah atau harga diri sebagai muslim. Itulah sebagaimana yang ditunjukkan Nabi SAW, setelah Isra dan Miraj dan memang begitulah seharusnya seorang muslim, Allah SWT berfirman:
وَلَا تَهِنُوْا وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
"Janganlah kamu bersikap lemah dan jangan (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang beriman." (QS Ali Imran: 139)
Semoga kita termasuk kedalam kelompok orang-orang yang pandai mengambil hikmah dari berbagai peristiwa yang terjadi pada masa lalu, khususnya yang berkaitan dengan sejarah Rasulullah SAW.
4. Khutbah Jumat Isra Miraj 2026: Isra Mi'raj, Momen yang Tepat Mengenalkan Shalat kepada Anak
(sumber: tulisan Muhaimin Yasin di laman UIM Makassar)
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah
Tidak bosan dan tidak jenuh khatib sampaikan sebagai pengingat bagi diri sendiri dan jamaah sekalian, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah dengan sebenar-benar takwa. Entah itu, ketika berada dalam kesendirian maupun di tengah keramaian. Allah berfirman dalam kitab suci Al-Qur'an, surat At-Taubah ayat 119:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!"
Jama'ah shalat Jumat yang dirahmati oleh Allah
Perintah syari'at untuk mendidik anak agar mampu melaksanakan ibadah shalat sudah jelas disebutkan oleh Rasulullah dalam haditsnya. Dalam hal ini, ada tahapan-tahapan yang perlu dilakukan oleh orang tua untuk mencapai tujuan pendidikan tersebut. Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Daud dalam kitab Sunan-nya:
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَدِّهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مُرُوْا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِيْنَ، وَفَرِّقُوْا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
Artinya: Dari Amr bin Syu'aib, dari bapaknya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah saw bersabda: "Perintahkanlah anak-anak kalian untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun. Kemudian, pukullah mereka untuk mengerjakan shalat ketika mereka berusia sepuluh tahun. Dan pisahkanlah tempat tidur di antara mereka." (HR. Abu Daud).
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah
Dari hadits yang diriwayatkan oleh Abu Daud, kita bisa memahami bahwa ada tahapan dalam mendidik anak untuk melaksanakan ibadah shalat. Tahapan ini dimulai sejak anak berusia tujuh tahun hingga mencapai umur sepuluh tahun.
Menurut Syekh Ali bin Sulthan Muhammad al-Hari dalam kitab Mirqatul Mafatih Syarh Misykatil Mashobih, setiap tahapan yang disampaikan oleh Rasulullah Saw. memiliki alasan tertentu. Di usia tujuh tahun, anak diperintahkan untuk mulai shalat agar mereka terbiasa dan merasakan senang dalam melakukannya.
Ketika anak memasuki usia sepuluh tahun, mereka diperbolehkan untuk diberi teguran lebih tegas, bahkan pukulan yang mendidik, jika meninggalkan shalat. Sebab, usia ini sudah mendekati masa baligh, yang berarti tanggung jawab ibadah mulai melekat. Selain itu, pemisahan tempat tidur diterapkan di usia ini karena anak telah memasuki masa pubertas.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah
Momen Isra dan Mi'raj Nabi Muhammad Saw. adalah saat yang tepat untuk memperkenalkan ibadah shalat, khususnya kepada anak-anak yang masih berada di bawah usia tujuh tahun. Menurut Slamet Suyanto dalam bukunya Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini, masa anak usia dini, yaitu 0-8 tahun, adalah fase di mana mereka mengalami pertumbuhan pesat, baik fisik maupun mental. Ini adalah waktu yang sangat cocok untuk menanamkan nilai-nilai agama, termasuk sejarah Isra dan Mi'raj sebagai asal-usul kewajiban shalat.
Orang tua tidak perlu bingung mencari cara untuk mengenalkan hal ini. Di zaman sekarang, kita punya banyak sumber yang mudah diakses, baik dari media cetak maupun elektronik. Cara yang sederhana bisa dilakukan, seperti membacakan kisah sejarah Isra dan Mi'raj, memutar audio cerita, menunjukkan gambar, atau video animasi yang relevan. Tujuannya adalah menanamkan rasa ketertarikan anak terhadap ibadah shalat dan sejarah penting dalam kehidupan Nabi Muhammad.
Jika anak sudah terbiasa mendengar dan memahami cerita ini sejak kecil, ketika memasuki usia tujuh tahun, mereka sudah memiliki motivasi untuk melaksanakan shalat dengan kesadaran sendiri. Barulah kemudian kita mengajarkan shalat melalui pendekatan fikih secara lengkap.
Jamaah shalat Jumat yang dirahmati Allah
Momen Isra dan Mi'raj ini adalah kesempatan berharga. Marilah kita manfaatkan untuk mendidik anak-anak kita, generasi penerus kita, agar mengenal dan mencintai ibadah shalat. Tidak ada alasan untuk merasa kesulitan, karena di era digital ini, hanya dengan ponsel dan internet, kita bisa mendapatkan materi sebanyak-banyaknya. Jika ingin lebih mendalam, tersedia banyak buku agama yang membahas peristiwa Isra dan Mi'raj.
Mari kita siapkan generasi yang bertakwa dengan mendidik mereka sejak dini. Semoga Allah memberi kemudahan dan keberkahan atas usaha kita semua. Aamiin.
5. Khutbah Jumat Isra Miraj 2026: Peringatan Isra Mi'raj sebagai Momentum Memperbaiki Kualitas Shalat
(sumber: tulisan Muhammad Zainul Mujahid di situs NU Online)
Hadirin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,
Mengawali khutbah pada siang hari yang mulia ini, khatib berwasiat kepada diri pribadi dan kepada seluruh jamaah sekalian. Marilah kita senantiasa berupaya meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Ketakwaan tersebut hendaknya diwujudkan dalam amal perbuatan yang nyata, yaitu dengan imtitsalu awamirillahi ta'ala wajtinabi nawahih, atau melaksanakan seluruh perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Sebab, kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan di akhirat yang merupakan dambaan setiap insan tidak akan pernah dapat diraih kecuali dengan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Allah SWT dalam firman-Nya pada Surat Yunus ayat 63 sampai 64.
{الَّذِينَ آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ (63) لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ}
Artinya, "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi janji-janji Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung."
Hadirin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,
Sebagaimana telah maklum bagi kita semua, salah satu peristiwa besar dan bersejarah yang terjadi pada bulan Rajab adalah peristiwa Isra dan Mi'raj Nabi Muhammad SAW, yang menurut mayoritas ulama terjadi pada malam tanggal dua puluh tujuh bulan Rajab. Dalam perjalanan yang sangat istimewa tersebut, Rasulullah SAW mengalami berbagai peristiwa luar biasa. Dan pada puncaknya, beliau SAW berkesempatan menghadap dan bermunajat secara langsung kepada Allah SWT, Tuhan seluruh alam semesta.
Pada peristiwa itulah terjadi momen yang sangat krusial dalam sejarah Islam, yaitu diturunkannya perintah Shalat. Oleh karena itu, Shalat menempati kedudukan yang sangat istimewa di antara seluruh bentuk ibadah. Berbeda dengan kewajiban-kewajiban lainnya yang diturunkan Allah SWT melalui perantara Malaikat Jibril. Puasa, misalnya, diwajibkan melalui firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 dengan perantaraan Malaikat Jibril. Demikian pula kewajiban zakat, haji, dan berbagai ketentuan syariat lainnya, semuanya disampaikan melalui perantaraan Malaikat Jibril.
Adapun kewajiban Shalat, Allah SWT memanggil langsung Baginda Nabi Muhammad SAW untuk menghadap kepada-Nya, tanpa perantara, guna menerima perintah Shalat lima waktu. Imam Ibnu Hajar Al-'Asqalani dalam kitab Fathul Bari jilid 7 halaman 216 menjelaskan:
وَفِي اخْتِصَاصِ فَرْضِيَّتِهَا بِلَيْلَةِ الإِسْرَاءِ إِشَارَةٌ إِلَى عَظِيمِ شَأْنِهَا، وَلِذَلِكَ اخْتُصَّ فَرْضُهَا بِكَوْنِهِ بِغَيْرِ وَاسِطَةٍ، بَلْ بِمُرَاجَعَاتٍ تَعَدَّدَتْ
Artinya, "Kewajiban Shalat yang secara khusus ditetapkan pada malam Isra dan Mi'raj menunjukkan betapa agung dan mulianya kedudukan Shalat. Oleh karena itu, kewajibannya ditetapkan tanpa perantara malaikat, bahkan melalui beberapa kali dialog yang berulang."
Hadirin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah, Shalat merupakan ibadah yang paling mulia. Ia bukan sekadar rangkaian gerakan dan bacaan, melainkan sarana komunikasi langsung antara seorang hamba dengan Tuhannya. Ketika seorang mukmin menunaikan Shalat, pada hakikatnya ia sedang berdiri menghadap Allah SWT, bermunajat dengan kalam-Nya, serta menyerahkan seluruh urusan hidupnya hanya kepada-Nya. Oleh sebab itu, Shalat sering disebut sebagai Mi'rajnya orang-orang beriman.
Dalam kitab Tafsir Al-Wasith juz 2 halaman 1080, Syekh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan:
أَمَّا الصَّلَاةُ فَهِيَ مِعْرَاجُ الْمُؤْمِنِ، وَصِلَةُ الْوَصْلِ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالِاسْتِمْتَاعُ بِالتَّوَجُّهِ نَحْوَ الذَّاتِ الْعَلِيَّةِ فِي أَوْقَاتٍ مُنْتَظِمَةٍ
Artinya: Adapun Shalat, maka ia adalah mi'rajnya orang beriman, penghubung antara seorang hamba dengan Allah SWT, serta sarana menikmati kelezatan beribadah dengan menghadapkan diri kepada Zat Yang Mahatinggi pada waktu-waktu yang telah ditentukan.
Oleh karena itu, ketika melaksanakan Shalat, kita dituntut untuk benar-benar menghayati setiap bacaan dan gerakan yang kita lakukan. Pada saat itu, sesungguhnya kita sedang berhadapan dan bermunajat kepada Allah SWT, sebagaimana Rasulullah SAW bermunajat dan berkomunikasi langsung dengan Allah SWT pada peristiwa Mi'raj.
Dalam sebuah hadis qudsi, Allah SWT menegaskan bahwa Shalat adalah media dialog antara Allah dan hamba-Nya. Ketika seorang hamba membaca Surah Al-Fatihah dalam Shalat, Allah SWT menjawab setiap ayat yang dibacanya.
Ketika hamba membaca:
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Allah SWT berfirman: "Hamba-Ku telah memuji-Ku."
Ketika membaca:
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Allah SWT berfirman: "Hamba-Ku telah menyanjung-Ku."
Ketika membaca:
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ
Allah SWT berfirman: "Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku."
Ketika membaca:
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ
Allah SWT berfirman: "Ini adalah antara Aku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia mohonkan."
Dan ketika membaca:
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Allah SWT berfirman: "Ini adalah milik hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta." (HR. Muslim)
Hadirin Jamaah Shalat Jumat Rahimakumullah,
Demikianlah khutbah singkat yang dapat khatib sampaikan pada kesempatan yang mulia ini. Semoga kita semua senantiasa diberikan hidayah dan kekuatan oleh Allah SWT untuk terus memperbaiki dan meningkatkan kualitas Shalat kita. Aamiin, aamiin ya Rabbal 'alamin.
6. Khutbah Jumat Isra Miraj 2026: Isra M'raj dan Pelajaran Keimanan dari Abu Bakar
(sumber: tulisan Muhammad Shodiq Ma'mun SSos di situs NU Banyumas)
Ma'asyiral hadirin rahimakumullah,
Marilah kita senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah SWT dengan menjalankan perintah-Nya sekaligus menjauhi larangan-Nya. Hanya dengan itulah kita akan selamat di dunia fana maupun akhirat abadi.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Isra Mi'raj merupakan mukjizat supranatural yang melampaui batas akal manusia: Nabi Muhammad SAW menempuh ribuan kilometer dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dalam semalam, bahkan naik ke langit tujuh, melewati alam mulk, alam jabarut, alam malakut, alam gaib, hingga alam izzah-dimensi yang tak sanggup dipahami oleh logika empirik kita.
Dalam hadits riwayat 'Aisyah RA, ketika Nabi SAW telah menyelesaikan perjalanan Isra Mi'raj, keesokan harinya kabarnya menyebar luas di Madinah. Sebagian mukmin langsung beriman penuh, tetapi ada pula yang ragu hingga murtad karena merasa mustahil manusia bisa bepergian sejauh itu dalam semalam. Mereka mendatangi Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dan berkata, "Wahai Abu Bakar, bagaimana pendapatmu tentang sahabatmu yang mengaku diisra'kan dalam waktu semalam ke Baitul Maqdis?"
Abu Bakar menjawab dengan penuh keyakinan, "Dia benar-benar mengatakan itu?" Mereka pun menjawab, "Ya." Lantas Abu Bakar berkata tegas, "Jika dia mengatakan demikian, maka sungguh dia telah berkata benar."
Mereka bertanya lagi, "Apakah engkau benar-benar mempercayainya, bahwa dia pergi dalam semalam ke Baitul Maqdis dan kembali sebelum subuh?" Jawaban Abu Bakar ternyata di luar dugaan, mencerminkan kedalaman iman siddiqiyyah:
نَعَمْ، إِنَّنِي لَأُصَدِّقُهُ فِيمَا هُوَ أَبْعَدُ مِنْ ذَلِكَ
"Ya, aku percaya. Bahkan hal yang lebih mustahil daripada itu sekalipun, aku mempercayainya."
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,
Sungguh keimanan Abu Bakar tidak ada yang dapat menandinginya. Dalam sebuah riwayat disebutkan:
لَوْ وَزِنَ إِيمَانُ أَبِي بَكْرٍ بِإِيمَانِ أَهْلِ الْأَرْضِ لَرَجَّحَتْ كَفَّةُ أَبِي بَكْرٍ
"Seandainya keimanan Abu Bakar ditimbang dengan keimanan penduduk bumi, maka timbangan beliau lebih berat."
Dari penjelasan di atas, ibrah mendalam yang dapat kita ambil adalah: mari napak tilas jejak Abu Bakar. Jadikan bulan Rajab sebagai momen sakral untuk memperkuat keimanan kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, agar tak tergoyahkan oleh keraguan modern.
Kini Nabi telah tiada dan kita tidak hidup di zamannya. Maka pedoman abadi kita adalah warisannya: Al-Qur'an dan As-Sunnah, yang menjamin keselamatan hingga tujuan akhirat. Sebagaimana sabda Nabi SAW:
تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُمَا مَا تَعْتَصِمْتُمْ بِهِمَا: كِتَابَ اللَّهِ وَسُنَّةَ رَسُولِهِ
Artinya: "Aku tinggalkan kepada kalian dua perkara yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya." (HR. Malik)
Mari kuatkan iman kita sebagaimana Abu Bakar yang tak tergoyahkan oleh keraguan akal. Jadikan Al-Qur'an dan Hadits sebagai kompas hidup yang tetap, panduan pasti melewati lautan dunia yang fana menuju pelabuhan akhirat yang abadi dan mulia.
7. Khutbah Jumat Isra Miraj 2026: Memahami Peristiwa Isra' dan Mi'raj Nabi Muhammad
(sumber: tulisan Drs Kh Junaedi Hidayat di laman Tebuireng Online)
Maasiral Muslimin Jamaah Jumah Rahimakumullah
Melalui khutbah ini, marilah kita secara sungguh-sungguh meningkatkan amal ibadah kita kepada Allah SWT, dengan melaksanakan apa yang telah diperintahkan oleh Allah secara imtitsal. Artinya adalah kepatuhan yang bersifat mutlak dan tidak bersyarat. Dalam situasi apa pun dan keadaan apapun, kita senantiasa di dalam ketakwaan kepada Allah. Inilah yang menjadi inti dari kebersamaan kita di hari Jumat ini, karena ketakwaan ini menjadi modal yang paling berharga dalam kehidupan kita ini.
Maasiral Muslimin Rahimakumullah
Hari-hari ini kita sedang memperingati peristiwa yang bersejarah dalam kehidupan umat manusia, khususnya umat Islam yaitu peristiwa Isra' dan Mi'raj nabiyullah Muhammad. Dua peristiwa tapi dilakukan dalam satu paket perjalanan. Isra' dalam perjalanan dari masjidil Haram ke masjidil al-Aqsa. Mi'raj adalah perjalanan menuju ke Sidratul Muntaha.
Isra' berdasarkan dalil yang sifatnya qha'iyyu ad-dilalah karena berdasarkan surah Isra' ayat satu. Sedangkan mi'raj, para ulama berbeda pendapat terkait dengan landasan terjadinya mi'raj. Di dalam al-Quran menyebutkan di dalam surah an-Najm, juga ada di dalam hadis ahad tapi tidak sampai kepada hadis mutawatir. Sehingga posisi dalilnya adalah dzonniyyu ad-dilalah. Tetapi dua peristiwa itu diyakini telah terjadi oleh para ulama. Kejadian yang tentu diluar logika manusia. Oleh karena itu disebut dengan mukjizat.
Merupakan sesuatu yang khoriqatun li al-'adah. Yang luar biasa, yang keluar dari kebiasaan. Dalam hidup ini Allah mempunyai hak untuk menciptakan segala sesuatu. Terjadinya itu bisa karena sebab yang 'adiyyah, bisa karena sebab yang ghoiru 'adiyyah. Kehidupan yang normal seperti yang kita lakukan ini, segala sesuatu terjadi karena sebab yang 'adiyyah. Setiap kejadian yang sabab 'adiyyah itulah hidup kita ini akan bisa menjadi tertib. Bisa memungkinkan kita untuk membuat sebuah perencanaan, agenda, yang harus kita lakukan dalam tahapan-tahapan kehidupan ini.
Sabab al-'adiyyah ini, orang biasa menyebut sebagai apa yang didasarkan dari Allah dalam hukum-hukum alam atau sunnatullah. Kalau mau pintar, maka untuk menjadi pintar tentu sabab 'adiyyah-nya adalah dengan belajar. Belajar itu mendengarkan, membaca, merenungkan, mengkaji, itu namanya sababun 'adiyyah. Kalau orang mau sehat, tentu harus bisa menjaga keseimbangan dalam pola hidupnya. Baik dalam segi makanan, pola istirahat, dan lain-lain. Hal-hal seperti ini adalah sababun 'adiyyah.
Kalau orang mau mendapat duit, maka harus bekerja. Sababun 'adiyyah ini diberikan oleh Allah kepada siapapun. Dalam hidup di dunia ini, siapapun berhak (dalam sababun 'adiyyah). Selama dia mampu melewati dan menjalani sababun 'adiyyah tersebut. Mau mengikuti proses kejadian dalam alam semesta ini. Maka siapapun dia, baik muslim ataupun non-muslim, baik orang Indonesia maupun orang luar negeri, siapapun punya hak untuk mendapatkan sesuatu yang dia inginkan itu.
Orang Islam berhak untuk pintar kalau dia belajar dengan baik. Orang Islam berhak untuk kaya, kalau dia berkerja dengan baik. Ukuran baik itu ada sunnatullah-nya, ada ukuran-ukuran yang tentu harus memenuhi standar pekerjaan, standar usaha yang mesti dilakukan di dalam proses kehidupan ini. Itu namanya sababun 'adiyyah. Jika kanjeng Nabi mengatakan,
إِنَّ اللهَ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّهُ وَمَنْ لَا يُحِبُّهُ
Allah memberikan persoalan yang menyangkut dunia ini kepada siapapun, baik orang itu dicintai oleh Allah maupun orang yang tidak disukai oleh Allah. Semua (orang) ini dikasih di dunia. Orang yang dibenci oleh Allah, dia bisa kaya dan sukses. Sebagai seorang pemimpin, dia bisa menjadi seorang pejabat.
Hal ini semua, ketika seseorang itu mampu melakukan sesuatu sesuai dengan hukum-hukum yang berlaku dalam memperoleh hal yang dia inginkan tersebut. Tetapi untuk di akhirat, wa yu'thi ad-din li man yuhibbuhu. Untuk urusan agama dan akhirat, Allah memberikan kepada orang yang dicintai oleh Allah. Tentu yang dicintai oleh Allah adalah orang yang beriman dan senantiasa taat kepada-Nya. Itulah yang berhak mendapatkan kehidupan yang bahagia di akhirat nanti.
Di dunia ini berlaku hukum alam itu dan ia disebut sebagai sababun 'adiyyah. Ada rumusan, kaidah, konsep, managemen, yang harus dilakukan di dalam setiap kita ingin mencapai sebuah apa yang kita inginkan.
Yang kedua, sesuatu itu bisa terjadi karena sababun ghoiru 'adiyyah. Kedua hal ini jaizun fi haqqihi ta'ala. Sesuatu yang menjadi hak penuh dan kewenangan Allah untuk melakukan atau tidak melakukan itu. Mukjizat ini adalah sesuatu yang khoriqatun li al-'adah. Isra' dan mi'raj ini terjadi di luar jangkauan akal pikiran manusia.
Itu bisa terjadi karena asro bi 'abdihi. Yang menghendaki terjadinya perjalanan itu adalah gusti Allah. Jangankan dua pertiga malam, lebih cepat dari itu pun Allah itu bisa ketika Dia menghendaki. Karena hal itu masuk dalam wilayah jaizun. Tetapi tidak kemudian sesuatu yang ghoiru 'adiyyah, aneh-aneh itu semua terjadi secara berulang-ulang. Itu tidak bisa terjadi terlalu sering apalagi terus-menerus, nanti namanya bukan lagi ghoiru 'adiyyah.
Dan tentu jika terjadi maka akan mengacaukan terhadap sistem kehidupan itu sendiri. Tuhan ingin menunjukkan saja (melalui isra' dan mi'raj) bahwa Dia itu Maha Kuasa. Makanya ada Nabi Isa as. yang lahir tanpa seorang ayah. Ada Hawa yang lahir tanpa seorang ibu. Ada Nabi Adam as. yang lahir tanpa ayah dan ibu.
Itu semua menunjukkan bahwa "sebab" bagi Allah bukanlah sebuah keharusan. "Sebab" bagi Allah adalah jaizun fi haqqihi ta'ala. Merupakan sebuah pilihan, bisa sababun 'adiyyah maupun ghoiru 'adiyyah. Tetapi untuk kenormalan hidup manusia, supaya manusia mempunyai planning yang jelas, supaya hidup ini menjadi jelas, maka hidup itu bertumpu kepada sababun 'adiyyah yang disebut dengan hukum-hukum alam yang terjadi pada kehidupan kita ini.
8. Khutbah Jumat Isra Miraj 2026: Shalat dan Kemaslahatan Sosial
(sumber: tulisan H Muhammad Faizin di situs NU Online)
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah
Pada kesempatan yang penuh berkah ini, khatib mengajak jamaah sekalian, wabil khusus kepada diri khatib sendiri untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah ta'ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi seluruh larangan-Nya. Salah satu perintah Allah yang wajib kita laksanakan adalah perintah menjalankan ibadah shalat yang merupakan 'oleh-oleh' paling berharga dari perjalanan Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW.
Perlu kita lebih sadari lagi bahwa shalat bukan hanya menjadi tiang agama, tetapi juga menjadi sarana membentuk karakter dan menguatkan hubungan kita dengan Allah ta'ala. Karena itu, peringatan Isra Mi'raj di bulan Rajab ini seharusnya tidak berhenti pada seremonial dan cerita perjalanan Nabi semata, melainkan menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas shalat kita.
Shalat yang benar dan khusyuk sejatinya akan melahirkan dampak nyata dalam kemaslahatan sosial. Nilai-nilai kedisiplinan, kejujuran, kesetaraan, dan kepedulian yang terkandung dalam shalat akan tercermin dalam sikap dan perilaku kita di tengah masyarakat. Shalat yang baik dan benar akan mencegah kerusakan dan kemungkaran di tatanan kehidupan sosial.
Allah berfirman:
اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
Artinya: "Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur'an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah salat. Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (salat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS Al-'Ankabut: 45)
Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah
Di tengah tantangan kehidupan modern yang diwarnai individualisme, konflik sosial, dan krisis moral saat ini, peringatan Isra Mi'raj harus menjadi momentum refleksi bersama. Kita diajak untuk meninjau kembali kualitas shalat yang telah kita jalankan selama ini.
Kita perlu bertanya pada diri kita sendiri, apakah shalat kita telah mampu membentuk pribadi yang jujur, adil, dan peduli terhadap sesama? Ataukah masih sebatas rutinitas dan gerakan-gerakan semata tanpa ada pengaruh dan dampak sosial?. Di sinilah pentingnya memahami keterkaitan antara momentum Isra Mi'raj, shalat, dan kemaslahatan sosial secara utuh dan komprehensif.
Isra Mi'raj membawa pesan bahwa shalat adalah ibadah yang menghubungkan dua dimensi yakni dimensi langit dan bumi. Shalat merupakan media komunikasi langsung secara vertikal antara kita dengan Allah SWT yang kemudian diwujudkan dengan komunikasi harmonis secara horizontal dengan sesama manusia.
Kemaslahatan sosial lahir ketika nilai-nilai shalat diinternalisasi dalam jiwa kita secara baik. Dalam shalat, kita diajarkan nilai-nilai sikap disiplin waktu, kesetaraan derajat, dan kepatuhan pada aturan. Ketika nilai-nilai ini dibawa ke ruang sosial, maka akan tumbuh budaya saling menghormati, keadilan, dan kepedulian terhadap kelompok yang lemah.
Shalat berjamaah, misalnya, bukan hanya simbol persatuan, tetapi juga latihan konkret untuk membangun kebersamaan dan tanggung jawab sosial. Jangan sampai shalat yang kita lakukan hanya sebatas gerakan semata tanpa ada keterikatan hati dengan Sang Pencipta dan tidak berdampak sosial sehingga malah akan menjauhkan kita dari Allah ta'ala.
Terdapat sebuah riwayat, yang meskipun dinilai dha'if oleh sebagian ulama, namun maknanya mengingatkan kita akan pentingnya merefleksikan shalat-shalat yang telah kita laksanakan seumur hidup kita, dalam Musnad Asy-Syihab disebutkan:
مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلَاتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، لَمْ تَزِدْهُ مِنَ اللَّهِ إِلَّا بُعْدًا
Artinya: "Barang siapa yang shalatnya masih belum dapat mencegah dirinya dari mengerjakan perbuatan keji dan munkar, maka tiada lain ia makin bertambah jauh dari Allah."
Lebih jauh, shalat yang berangkat dari spirit Isra Mi'raj mendorong lahirnya kesalehan sosial. Kesalehan ini tampak dalam kepekaan terhadap penderitaan orang lain, semangat menegakkan keadilan, serta keberanian menolak kemungkaran. Semakin baik shalat kita, maka kita tidak akan mudah melakukan tindakan-tindakan negative seperti korupsi, menindas sesama, atau merusak tatanan sosial.
Hal ini karena shalat senantiasa mengingatkan bahwa setiap tindakan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT. Rasulullah juga mengingatkan dalam haditsnya:
أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلاَتُهُ، فَإنْ صَلُحَتْ، فَقَدْ أفْلَحَ وأَنْجَحَ، وَإنْ فَسَدَتْ، فَقَدْ خَابَ وَخَسِرَ
Artinya: "Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi." (HR. Tirmidzi).
Oleh karena itu, Ma'asyiral Muslimin rahimakumullah
Peringatan Isra Mi'raj hendaknya tidak berhenti pada seremonial dan perayaan simbolik semata. Momentum ini harus menjadi momentum memperbaiki kualitas shalat, baik secara lahiriah maupun batiniah, sehingga benar-benar melahirkan kemaslahatan sosial.
Kita harus menjadikan shalat sebagai sumber nilai dalam kehidupan sehari-hari seperti jujur dalam bekerja, adil dalam memimpin, santun dalam berinteraksi, dan peduli terhadap sesama.
Mari kita jadikan shalat sebagai energi moral yang membimbing langkah sosial kita, serta menjadikan spirit Isra Mi'raj sebagai inspirasi membangun masyarakat yang beradab, damai, dan berkeadilan. Dengan shalat yang hidup dan membumi, kemaslahatan sosial bukanlah sekadar cita-cita, melainkan keniscayaan yang dapat kita wujudkan bersama. Amin.
Nah, itulah 8 teks khutbah Jumat Isra Miraj 2026 yang singkat, tetapi penuh pesan dan hikmah. Semoga bermanfaat!

Komentar Terbanyak
Saran Pakar UGM soal Polemik Jogja Last Friday Ride
Daftar Negara Lolos Semi Final Piala Dunia 2026: Isinya Rank 1-4 FIFA!
Pekerja Tewas Tertimpa Tembok Saat Bongkar Rumah di Sleman