Jumlah korban tewas dalam demo besar-besaran menentang pemerintah di Iran. Kelompok hak asasi mansuai, HRANA, menyatakan berdasarkan data terbaru, 2.571 orang kehilangan nyawanya yang sebagian besar disebut terjadi akibat penindakan keras oleh otoritas Iran.
Dilansir detikNews, diketahui unjuk rasa antipemerintah itu mulai terjadi pada 28 Desember 2025 di Grand Bazaar Teheran. Ketika itu, para demonstran, yang sebagian besar pedagang dan pemilik toko, memprotes soal memburuknya kondisi ekonomi, dengan mata uang Rial Iran mengalami depresiasi tajam.
Demontrasi kemudian meluas ke sejumlah wilayah dan berubah menjadi gerakan lebih luas, yang menentang pemerintahan teokratis di Iran, yang menancapkan pengaruhnya sejak revolusi 1979 silam. Beberapa hari terakhir, unjuk rasa itu diwarnai kerusuhan serta rentetan kekerasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Human Rights Activists News Agency (HRANA), yang berbasis di Amerika Serikat (AS), seperti dilansir Reuters, Rabu (14/1/2026), mengatakan bahwa sejauh ini pihaknya telah memverifikasi kematian 2.403 demonstran, 147 individu yang berafiliasi dengan pemerintah Iran, 12 anak berusia di bawah 18 tahun, dan 9 warga sipil non-demonstran.
Secara total, menurut data terbaru HRANA, sedikitnya 2.571 orang tewas selama gelombang unjuk rasa menyelimuti Iran.
Data yang disampaikan HRANA terbukti akurat dalam kerusuhan yang terjadi Iran beberapa tahun silam. HRANA menghimpun laporannya berdasarkan pelaporan dari para pendukungnya di Iran, dan melakukan pemeriksaan silang terhadap informasi yang berkembang.
Data HRANA ini dirilis setelah seorang pejabat Iran, yang enggan disebut namanya, mengungkapkan pada Selasa (13/1) bahwa sekitar 2.000 orang tewas dalam unjuk rasa besar-besaran yang melanda negara itu beberapa waktu terakhir.
Pejabat Iran itu menyalahkan para "teroris" atas kematian warga sipil dan personel keamanan selama unjuk rasa berlangsung.
Pernyataan pejabat Iran itu menjadi momen pertama kalinya otoritas Teheran memberikan jumlah korban tewas secara keseluruhan, setelah unjuk rasa yang diwarnai kerusuhan berlangsung selama lebih dari dua pekan terakhir.
Unjuk rasa yang berlangsung di Iran menarik perhatian Presiden AS Donald Trump, yang beberapa waktu terakhir menyatakan dukungan untuk para demonstran dan mengancam akan melakukan intervensi terhadap negara Syiah tersebut.
Dalam pernyataan terbaru pada Selasa (13/1), Trump menyerukan warga Iran untuk terus berunjuk rasa dan mengatakan bahwa "bantuan akan segera datang".
Namun, para pejabat Iran menuduh AS dan Israel sebagai pemicu kerusuhan. Teheran menyalahkan angka kematian yang besar pada "agen-agen teroris" yang disebut menerima instruksi asing untuk melakukan penghasutan di Iran.
(apu/alg)












































Komentar Terbanyak
Fakta-fakta Anggota Joxzin Dibunuh Saat Tidur Bersama Anak-Istri di Bantul
Perjalanan Eks Kapolresta Sleman Didemosi Buntut Gaduh Kasus Hogi Minaya
Ali Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel di Iran, Ini Sosoknya