Warga Kelurahan Banjar Sugihan, Kecamatan Tandes, Surabaya ini patut diacungi jempol. Bagaimana tidak, mereka mampu menyulap kawasan kumuh menjadi destinasi wisata tematik Kampung Jepang Surabaya.
Perintis Kampung Jepang Surabaya, Komang mengatakan Kampung Jepang berawal saat warga mengikuti berbagai lomba lingkungan. Salah satunya Surabaya Smart City dan lomba kampung tematik. Dari situ, ia lantas merubah pola pikir warga lainnya untuk menata perkampungan.
"Awalnya ini dari lomba. Tapi kami ingin berkelanjutan, bukan sekadar ikut lomba lalu selesai. Tantangan terbesarnya adalah mengubah mindset masyarakat agar peduli dengan lingkungan," ujar Komang kepada detikJatim.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
komang menambahkan, banyak yang mengira awalnya pendirian Kampung Jepang merupakan hasil corporate social responsibility (CSR) atau dana dari pemerintah, namun ia menyebut seluruhnya merupakan inisiatif warga sendiri.
"Semua ini mandiri. Tidak ada CSR sama sekali. Modal kami dari hasil lomba-lomba yang kami menangkan, lalu kami putar untuk pengembangan," jelas Komang.
Untuk menghindari kecemburuan sosial antarwarga, satu wilayah RW kemudian dikembangkan menjadi beberapa kampung tematik yang dikelola masing-masing RT.
Wisata tematik Kampung Jepang di Banjar Sugihan Surabaya (Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim) |
Dari sinilah lahir Wethan Wonderland, yang menaungi berbagai kampung wisata tematik di wilayah tersebut. Konsep Kampung Jepang Surabaya ini kemudian viral di media sosial dan ramai pengunjung.
Kampung Jepang sendiri dikelola secara mandiri oleh warga RT 5, dengan 14 orang tim pengelola. Seluruh pengembangan dilakukan tanpa bantuan finansial pemerintah maupun CSR perusahaan.
Wisata Gratis Berbasis Edukasi dan Kearifan Lokal
Berbeda dengan destinasi wisata pada umumnya, Kampung Jepang Surabaya tidak memungut tiket masuk. Pengunjung bebas datang setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 16.00 WIB.
Sumber pendapatan utama berasal dari penyewaan pakaian bernuansa Jepang yang dibanderol Rp 25 ribu per set. Dalam sebulan, omzet dari penyewaan kostum bisa mencapai sekitar Rp 6 juta.
Wisata tematik Kampung Jepang di Banjar Sugihan Surabaya (Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim) |
Pendapatan tersebut dibagi dengan sistem yang transparan yakni 50 persen untuk pengelola, 25 persen untuk kas perawatan dan pengembangan, serta 25 persen untuk kas RT.
"Hasilnya bisa dirasakan bersama. Ini jadi lapangan pekerjaan warga, dari pengelola, UMKM, parkir, sampai spot-spot foto," ungkap Komang.
Menariknya, lebih dari 85 persen properti kampung dibuat dari barang bekas, termasuk area taman yang dulunya merupakan lokasi pembuangan sampah.
Membangun Kampung Mandiri
Meski mengusung tema Jepang, Komang menegaskan bahwa tujuan utama kampung ini bukan menjual budaya Jepang, melainkan mengangkat kearifan lokal warga yang multikultural.
"Jepang itu hanya kendaraan supaya menarik dan viral. Tujuan akhirnya adalah kampung yang mandiri dan menonjolkan kualitas warganya," jelasnya.
Menurutnya, Kampung Jepang Surabaya direncanakan berkembang sebagai ruang edukasi budaya dan lingkungan, mulai dari pelatihan tari lintas budaya, becak Jepang sebagai transportasi wisata, hingga pengembangan UMKM rumahan di setiap rumah warga.
Kini, Kampung Jepang Surabaya telah terdaftar di Dinas Pariwisata Kota Surabaya sebagai salah satu dari 10 kampung tematik yang direkomendasikan untuk dikunjungi. Komang berharap Kampung Jepang bisa menjadi contoh bahwa perubahan lingkungan dapat dimulai dari dan untuk warga sendiri.
"Kami ingin menunjukkan bahwa di mana pun kita tinggal, yang penting itu kualitas. Kalau kualitas sudah ada, kuantitas akan mengikuti," pungkas Komang.
(auh/abq)


