Di tengah gempuran kuliner modern dan tren makanan kekinian, kue cucur tetap bertahan sebagai salah satu jajanan pasar khas Indonesia yang digemari lintas generasi. Teksturnya yang unik, renyah di pinggir dan lembut di tengah, serta rasa manis gula merah yang khas menjadikan kue ini bukan sekadar camilan, melainkan penanda tradisi kuliner Nusantara yang terus hidup dari masa ke masa.
Bagi pencinta wisata kuliner di Surabaya, kawasan Blauran menyimpan destinasi jajanan legendaris yang tak lekang oleh waktu. Tepatnya di Pasar Blauran Sawangan Gang 4, terdapat lapak kue cucur yang telah bertahan hingga empat generasi. Keberadaannya menjadikan tempat ini sebagai salah satu tujuan kuliner yang paling banyak diburu warga lokal maupun wisatawan.
Kue Cucur Hangat Setiap Pagi di Pasar Blauran
Keistimewaan lapak kue cucur legendaris Blauran terletak pada kesegarannya. Setiap pagi, pengunjung dapat menikmati kue cucur yang digoreng langsung di tempat sehingga masih hangat saat disajikan. Lapak ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB, hingga dagangan habis, dan kerap diserbu pembeli sejak pagi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasar Blauran Surabaya Foto: Nabila Meidy Sugita |
Tak hanya soal rasa, harga kue cucur Blauran juga ramah di kantong, dibanderol mulai Rp 4.000 per buah. Selain cucur, pengunjung juga bisa menemukan beragam kue basah jadul yang membangkitkan nostalgia, seperti klepon, putu ayu, serta berbagai roti pasar yang kerap disebut "ngangenin".
Kue Cucur di Berbagai Daerah Indonesia
Popularitas kue cucur tidak hanya terbatas di Pulau Jawa. Sebagai negara kepulauan, Indonesia mengenal kue cucur dengan penyebutan berbeda-beda di tiap daerah. Salah satunya di Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya di Kota Kupang.
Kue cucur bertopping di Ponorogo Foto: Charolin Pebrianti/detikJatim |
Dikutip dari jurnal berjudul "Pemanfaatan Tepung Kulit Pisang dalam Pembuatan Kue Cucur" karya Ramon Hurdawaty, kue cucur di daerah tersebut dikenal dengan nama "kue solor". Sejarah mencatat, kue ini mulai dikenal setelah kedatangan masyarakat Sulawesi dan Jawa ke wilayah Kupang.
Tradisi Kue Cucur di Bulan Ramadan
Di Kupang, kue cucur memiliki keterkaitan erat dengan tradisi Ramadan. Keberadaannya tercatat sejak sekitar tahun 1980. Karena mayoritas pendatang merupakan muslim, kue cucur awalnya dijajakan khusus pada bulan Ramadan dan hingga kini lebih banyak dijual sebagai menu berbuka puasa.
Kue cucur sebagai makanan untuk buka puasa Foto: iStock/detikfood |
Meski berbeda penyebutan, bahan dasar kue cucur tetap mempertahankan kesederhanaan tradisional, yakni tepung terigu, tepung beras, gula merah cair, serta daun pandan sebagai penambah aroma.
Rahasia Tekstur "Bersarang" Kue Cucur
Daya tarik utama kue cucur terletak pada perpaduan tekstur dan rasa. Pinggirannya garing, sementara bagian tengahnya bersarang dengan tekstur empuk dan lembut. Rasa legit gula merah yang mendominasi membuat kue ini cocok disantap bersama kopi atau teh panas.
Dilansir dari laman detikFood, untuk menghasilkan kue cucur dengan tekstur "bersarang" yang sempurna, diperlukan teknik khusus dalam proses pembuatannya, antara lain sebagai berikut.
- Gula direbus bersama bahan lainnya hingga mendidih, kemudian disaring dan didiamkan sampai dingin.
- Tepung beras, tepung terigu, kayu manis, dan garam dicampur dengan sebagian larutan gula, lalu diaduk menggunakan tangan hingga merata.
- Adonan dipukul-pukul menggunakan telapak tangan selama 30-40 menit hingga terasa ringan. Setelah itu, sisa larutan gula dituang.
Teknik menggoreng: Adonan digoreng dalam minyak setengah tinggi wajan. Saat pinggiran mulai membeku, minyak disiram ke bagian tengah. Bagian tengah kemudian ditusuk lidi agar adonan mengalir ke tepi dan matang sempurna.
Warisan Kuliner yang Tak Lekang oleh Waktu
Dari lapak sederhana di Pasar Blauran Surabaya hingga menjadi bagian dari tradisi berbuka puasa di Kupang, kue cucur membuktikan dirinya sebagai warisan kuliner Indonesia yang tetap eksis di tengah perubahan zaman.
Perpaduan rasa, tekstur, dan nilai tradisi menjadikannya jajanan pasar yang selalu dirindukan. Bagaimana detikers? Tertarik berburu kue cucur legendaris ini saat berkunjung ke Surabaya?
Artikel ini ditulis Muhammad Faishal Haq, peserta magang PRIMA Kemenag di detikcom.



