Menikmati buah melon dengan memetik langsung dari pohonnya kini bisa dirasakan warga Sidoarjo. Bukan di lahan pertanian biasa, tetapi di kebun melon hidroponik yang berada di dalam green house milik Titis Amala (33), yang berlokasi di Desa Sidodadi, Kecamatan Candi, Sidoarjo. Destinasi wisata petik buah ini hanya buka saat musim panen, sekitar empat kali dalam setahun.
Berbeda dengan pertanian konvensional, sistem hidroponik di dalam green house membuat area tanam lebih bersih dan rapi. Deretan tanaman melon tersusun elok, membuat pengunjung bukan hanya bisa memetik buah, tapi juga berswafoto sepuasnya.
Titis menceritakan, usaha kebun hidroponik ini berawal dari ketertarikannya terhadap melon impor yang dijual di supermarket seharga Rp 75 ribu per kilogram.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sensasi menikmati buah melon langsung petik dari kebun di SIdoarjo Foto: Suparno/detikJatim |
"Aku suka banget melon. Waktu beli melon impor itu, terus lihat ada mentor hidroponik di Sidoarjo. Awalnya cuma iseng tanya, ternyata bisa belajar dan bermitra. Dari situ mulai serius belajar langsung di lapangan," ujar Titis kepada detikJatim di kebunnya, Sabtu (29/11/2025).
Sebelumnya, Titis sempat menanam melon di lahan sawah. Namun cara itu dirasanya kurang sehat karena banyak perlakuan kimia dari pengepul.
"Lihat sendiri waktu panenan, melon di-spray obat pemanis biar matangnya rata. Dari situ aku nggak minat lagi. Terus cari-cari, ternyata hidroponik organik lebih sehat," jelasnya.
Kini ia membudidayakan tiga jenis melon, yakni Sweet Hami, Ithanon, dan Lavender. Dalam kondisi panas maksimal di green house yang bisa mencapai 45°C, ukuran buah tumbuh optimal.
"Sweet Hami bisa sampai 3 kg kalau musim panas," ujarnya.
Menurut Titis, perawatan melon hidroponik cukup detail. Mulai dari penyemaian benih, pemindahan ke media air, perambatan tanaman, hingga proses polinasi dan seleksi buah.
"Satu pohon diseleksi hanya satu buah terbaik. Dirambatkan pelan-pelan setiap hari, dipolinasi, baru dipilih satu yang paling bagus sampai panen 75 hari," katanya.
Air yang digunakan pun tidak boleh dari PDAM. "Harus air sumur atau bor. PDAM pernah aku coba mati semua tanamannya karena kandungan kimianya," ungkapnya.
Di lahan seluas 500 m², Titis memasang instalasi untuk maksimal 1.850 tanaman. Semua ini ia bangun perlahan, bahkan sempat hanya dibantu ibunya.
Harga melon hidroponik di tempatnya dibanderol Rp 35 ribu per kilogram untuk pembelian langsung di kebun, jauh lebih murah dibanding harga mall, namun tetap lebih tinggi dari melon hamparan.
"Orang kadang marah bilang di pasar cuma Rp 15 ribu. Ya silakan beli di pasar. Petani hamparan saja tahu, mereka jual Rp 5 ribu itu sudah nggak balik modal," kata Titis.
Sensasi menikmati buah melon langsung petik dari kebun di SIdoarjo/Foto: Suparno/detikJatim |
Salah satu pengunjung, Shinta (32) asal Gedangan, datang bersama kerabatnya untuk menikmati libur akhir pekan. Ia mengaku kaget dengan panas di dalam green house.
"Gerah dan panas banget. Sinar mataharinya mantul ke plastik, jadi makin panas," tuturnya sambil mengusap keringat.
Meski begitu, Shinta tetap menikmati pengalaman tersebut
"Seru, bisa foto-foto dan petik sendiri. Tempatnya bersih dan rapi, beda dengan pertanian di lahan terbuka yang kadang kotor. Aku beruntung masih kebagian melon, soalnya di tempat lain pernah kehabisan," ujarnya senang.
Pengunjung juga bisa mencicipi tester melon sebelum membeli. Banyak yang memilih langsung makan di area kebun.
Titis mengaku baru pertama kali membuka kebunnya sebagai wisata petik buah. Namun antusiasme warga cukup tinggi. Pada panen sebelumnya, ia mengaku menjual hingga 2,5 ton melon, dengan 1 ton untuk wisata petik langsung. Baginya, usaha ini bukan hanya untuk saat ini, tapi juga bekal di masa tua.
"Lumayan untuk hari tua. Yang penting sehat, organik, dan orang senang datang ke sini," tutup Titis.













































