Kisah Rakhmad Basuki: Abaikan Larangan Orang Tua hingga Bela Persepam

Kisah Rakhmad Basuki: Abaikan Larangan Orang Tua hingga Bela Persepam

Dimas Linang Jati Pratondo - detikJatim
Kamis, 04 Jun 2026 09:00 WIB
Pelatih Interim Madura United Rakhmad Basuki.
Pelatih Interim Madura United Rakhmad Basuki. (Foto: Madura United)
Pamekasan -

Perjalanan awal Rakhmad Basuki dalam menekuni sepak bola dipenuhi lika-liku. Sejak kecil hingga remaja, ia selalu dilarang oleh orang tuanya untuk bermain si kulit bundar sebelum akhirnya berhasil membela Persepam Pamekasan, kesebelasan kebanggaannya.

Jauh sebelum akhirnya menjadi salah satu sosok yang berperan penting dalam eksistensi Madura United di kasta tertinggi Liga Indonesia, Rakhmad adalah anak kecil yang sangat menyukai permainan sepak bola.

Pria asal Pamekasan itu mengungkapkan bahwa seluruh keluarganya menggemari olahraga. Namun, sepak bola menjadi pengecualian. Ia tidak diperbolehkan orang tuanya untuk memainkan aktivitas yang menjadi kegemarannya tersebut.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya lahir dan besar di lingkungan yang semua keluarga saya penyuka olahraga. Tapi orang tua saya, terutama bapak, sangat melarang salah satu olahraga yang sangat berisiko yaitu sepak bola," tutur Rakhmad Basuki kepada detikJatim.

Rakhmad mengaku dulu sering mengabaikan larangan orang tuanya. Ia dengan rela menanggung risiko berupa kemarahan ataupun pukulan ketika pulang ke rumah akibat bermain sepak bola.

ADVERTISEMENT

"Ketika saya menginjak sekolah dasar, tiba-tiba saya sangat mencintai sepak bola. Meskipun sempat dilarang oleh orang tua, tetapi tetap saya melakukan itu dengan risiko ketika pulang pasti dimarahi, bahkan tidak jarang juga dipukul," imbuhnya.

Ketika menginjak masa sekolah menengah, sang ayah meninggal. Perasaan kehilangan melingkupinya secara dalam. Namun, itu juga menjadi titik baliknya di dunia sepak bola.

Rakhmad semakin serius menekuni kegemarannya. Ia kemudian bergabung di klub Hizbul Wathon.

"Tapi saya selalu mengabaikan apa yang dilarang bapak saya sepak bola. Saya ikut salah satu klub di Pamekasan yaitu Hizbul Wathon. Saya masuk di klub itu saat kelas 2 SMA, artinya sangat terlambat sebagai pesepak bola. Itu pun karena saat kelas 1 SMA bapak saya meninggal," ungkapnya.

Keseriusannya melakoni jalan hidup sebagai pesepak bola mengantar Rakhmad bergabung dengan Persepam Pamekasan. Ia berhasil turut serta membela klub kebanggaannya berlaga di Divisi Satu sepak bola nasional yang kala itu merupakan kasta kedua.

"Hingga akhirnya saya merasa, ya sudahlah, bismillah saya tekuni sepak bola sampai akhirnya pelan-pelan bisa menjadi pesepak bola yang bisa bermain untuk Persepam, salah satu klub yang menjadi kebanggaan saya," ujarnya menambahkan.

Saat menjadi pemain, ia menyampaikan bahwa posisinya tidak tetap. Pada awal karier, peran striker dimainkannya sebab mencetak gol adalah ambisinya. Namun, Rakhmad juga pernah bermain sebagai winger dan juga gelandang tengah.

"Kalau awal posisi bermain saya adalah striker karena saya suka mencetak gol. Namun pelan-pelan saya pindah ke winger, ke gelandang, hingga akhirnya saya sangat menyukai posisi di gelandang bertahan," jelasnya.

Selama menjalani karier sebagai pemain, Persepam menjadi satu-satunya klub profesional yang ia bela. Setelah itu, Rakhmad memutuskan pensiun di tahun 2005 dan memulai lembaran baru terjun di dunia kepelatihan.

"Terakhir saya bermain itu tahun 2005 di divisi satu. Itu saya berhenti sebagai pemain dan kemudian mengikuti kursus lisensi D di Sidoarjo," tandasnya.

Pilihannya untuk melanjutkan karier sebagai pelatih perlahan membawa Rakhmad naik level. Ia selama empat tahun terakhir dipercaya sebagai asisten pelatih Madura United dan bahkan dua kali menyelamatkan klub tersebut dari degradasi manakala ditunjuk sebagai juru taktik interim.

Kini, Rakhmad Basuki hendak meningkatkan taraf kepelatihannya dengan mengikuti kursus lisensi AFC Pro. Sebuah langkah positif untuk kariernya di kemudian hari.



(auh/abq)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads