Suporter Arema Nyalakan Ratusan Lilin di Stadion Gajayana-Desak Panpel Dihukum

Deni Prastyo Utomo - detikJatim
Minggu, 02 Okt 2022 22:10 WIB
Suporter Arema FC menyalakan lilin keprihatinan atas tragedi Kanjuruhan di Stadion Gajayana Malang
Ratusan Aremania nyalakan lilin keprihatinan di Stadion Gajayana. (Foto: Deni Prastyo Utomo/detikJatim)
Malang -

Ratusan suporter Arema menggelar aksi keprihatinan di Stadion Gajayana sisi timur. Ratusan lilin mereka nyalakan sebagai bentuk empati kepada ratusan korban yang meninggal dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan.

Catatan detikJatim, ratusan suporter Arema menggelar aksi itu di sisi timur Stadioan Gajayana, Kota Malang pada Minggu (10/9/2022) malam sekitar pukul 19.30 WIB.

Ratusan suporter Arema FC itu menyalakan lilin sebagai bentuk keprihatinan atas Tragedi Kanjuruhan kemarin Sabtu (1/10)..

Mereka duduk bersila di depan lilin yang mereka nyalakan. Mereka juga sempat berorasi serta mendoakan para suporter yang meninggal dalam kejadian kemarin, di Stadion Kanjuruhan.

"Ini spontanitas dari teman-teman Aremania dari sepuluh korwil yang ada di Malang Raya dan di Blitar, Pasuruan, atau di seluruh penjuru negeri yang merasa bagian dari Aremania. Ini adalah bentuk empati atas meninggalnya ratusan dulur-dulur yang menjadi korban di Kanjuruhan kemarin. Acara ini tidak ada yang menggerakkan dan mengalir apa adanya," kata salah satu Aremania, Dersey di Stadion Gajayana, Kota Malang.

Dersey menambahkan bahwa dalam aksi itu ada perwakilan suporter dari The Jak yang hadir untuk menyampaikan aspirasi dan ucapan duka mendalam atas kejadian di Kanjuruhan kemarin. Dersey pun dengan tegas meminta harus ada yang bertanggung jawab atas kejadian di Kanjuruhan.

"Harus ada yang bertanggung jawab. Siapapun itu namanya, Panpel atau siapa pun sampai terjadi insiden terbunuhnya Aremania harus ada yang bertanggung jawab. Karena tidak mungkin (terjadi) insiden seperti itu apabila tidak ada yang menggerakkan, dan kami betul-betul ingin proses hukum berjalan seadil-adilnya terhadap dulur-dulur kami yang telah meninggal," kata Dersey.

Ia juga menjelaskan, pihaknya tidak akan mundur sampai ada pihak yang dinyatakan bertanggung jawab penuh atas kejadian di Stadion Kanjuruhan, Malang. Sampai mereka ditindak seadil-adilnya hingga ada penetapan tersangka. Dan siapa pun yang terlibat menyebabkan kejadian itu agar dibuka secara terang benderang dan disampaikan kepada masyarakat.

Soal adanya dugaan pelanggaran penggunaan gas air mata di Stadion Kanjuruhan, Dersey mengaku telah melakukan kajian bersama penasihat hukum untuk mencari langkah hukum yang tepat.

"Itu kami kaji bersama penasihat hukum. Karena jelas-jelas itu nyata, bahwa apa yang menjadi statuta FIFA setiap pertandingan di seluruh dunia tidak boleh menggunakan gas air mata. Kenapa itu terjadi di Kanjuruhan yang mengakibatkan terbunuhnya ratusan orang suporter Aremania? Maka itu juga bagian yang kami tuntut dan agar siapa pelaku atau yang memerintahkan terjadinya penembakan gas air mata harus diadili dan bertanggung jawab atas hilangnya nyawa dari saudara-saudara kami," ungkap Dersey.

Lebih lanjut, Dersey menyatakan bahwa dirinya bersama Aremania yang lainnya akan melayangkan guguatan terhadap Panpel berkaitan dengan insiden memilukan yang telah terjadi.

"(Menggugat) Panpel, karena yang bertanggung jawab adalah Panpel. Pada pertandingan itu perangkat keamanan itu hanya sekedar back up yang diminta oleh Panpel dan Panpel yang bertanggung jawab mulai izin, keamanan, pintu gerbang dibuka dan ditutup jam berapa sampai jam berapa, ini kan kemarin pintu gerbang hanya satu, menurut informasi yang kami dapat, yang dibuka. Itu Panpel yang harus bertanggung jawab," kata Dersey.

Dersey mengatakan bahwa selama 7 hari ke depan Aremania akan memasang bendera setengah tiang. Ia juga menegaskan bahwa selama 7 hari itu pula harus ada yang sudah ditetapkan sebagai tersangka.

"Aspirasi temen-temen seperti itu, jika 7 hari tidak ada terdakwa (ditetapkan sebagai tersangka) dalam tragedi Kanjuruhan maka teman-teman akan menggunakan cara-cara yang tidak prosedural. Selama ini kami akomodir teman-teman ini menyampaikan aspirasi secara prosedural, kami didampingi penisehat hukum. 7 hari harus ada tersangka, karena ini bukan hanya tragedi nasional, ini tragedi dunia, kematian ratusan suporter," ujar Dersey.

Lantas bagaimana bila hingga 7 hari tidak ada yang ditetapkan sebagai tersangka atau pelaku yang harus bertanggung jawab atas tragedi yang terjadi? Desrey mengungkapkan tentang konsekuensi yang akan terjadi.

"Sampai 7 hari aparat hukum tidak bisa mencari pelaku, siapa yang harus bertanggung jawab, maka kami tidak akan bertanggung jawab dan kami tidak bisa berbuat apa-apa bila suporter ini bergerak sesuai dengan kekecewaan mereka," kata Dersey.

Lihat video 'Aremania dan Warga Gelar Doa Bersama di Stadion Kanjuruhan':

[Gambas:Video 20detik]



(dpe/dte)