Krisis pangan pada masa pendudukan Jepang pada era 1940-an membuat masyarakat harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam kondisi tersebut, berbagai olahan makanan sederhana muncul dan sebagian di antaranya bertahan hingga kini.
Kelangkaan bahan pokok membuat masyarakat harus memanfaatkan bahan pangan yang tersedia di sekitar. Selain mengolah ares pisang sebagai pengganti nasi, masyarakat memanfaatkan berbagai jenis sayuran liar. Pada masa itu, sejumlah olahan makanan sederhana turut berkembang untuk memenuhi kebutuhan pangan.
Asal-usul Nama Ledre dan Resep Orisinalnya
Salah satu kuliner yang berkembang di tengah kondisi tersebut adalah ledre. Makanan khas Bojonegoro ini dirintis oleh Mak Min Tjie, seorang perempuan keturunan Tionghoa asal Padangan.
Ia membuat makanan berbahan dasar tepung beras dan campuran gaplek (singkong kering) yang diencerkan, kemudian mencetaknya menggunakan wajan besar.
Proses pembuatannya dilakukan dengan cara di-edre-edre atau, dalam istilah lokal, berarti 'gak karuan diorak-arik'. Dari proses pembuatan tersebut, makanan ini kemudian dikenal dengan nama ledre.
Dilansir dari laman resmi Kabupaten Bojonegoro, Mak Min Tjie telah merintis pembuatan ledre sejak usia 14 tahun, yang diperkirakan sekitar 1932. Pada masa itu, bahan baku ledre masih sederhana, yakni tepung beras, gaplek, garam, dan santan.
Bentuk ledre juga belum digulung memanjang seperti sekarang. Saat itu, ledre berupa lembaran pipih yang dicetak di atas wajan baja, lalu dilipat menjadi dua hingga membentuk setengah lingkaran.
Pada 1943, ledre dijual menggunakan keranjang yang dilapisi kertas dan diikat dengan gedebog (pelepah pisang). Karena mudah melempem, ledre saat itu diproduksi dalam jumlah terbatas setiap harinya.
Pasang Surut Pamor Ledre
Seiring berjalannya waktu, ledre mengalami perkembangan, baik dari segi rasa maupun bentuk. Awalnya, ledre hanya memiliki rasa orisinal gaplek. Kini, tersedia berbagai varian rasa, seperti pisang, pandan, cokelat, stroberi, melon, nangka, dan durian.
Bentuknya pun berubah menjadi gulungan memanjang yang renyah. Ledre juga banyak diproduksi dalam ukuran mini sehingga praktis dijadikan buah tangan. Ledre mengalami masa kejayaan pada 1970-an hingga 1980-an. Pamornya sempat meredup sebelum kembali populer pada era 2000-an dan tetap digemari hingga kini.
Rahasia Wajan Baja dan Pantangan Bahan Baku
Ledre masih dibuat dengan cara tradisional yang dipertahankan para perajin hingga kini. Bahan yang digunakan juga diperhatikan. Rasa manis ledre berasal dari gula pasir tanpa tambahan pemanis buatan.
Proses memasaknya menggunakan arang agar menghasilkan aroma khas. Alat yang digunakan adalah wajan baja khusus. Beberapa perajin menyebut wajan baja yang mereka gunakan merupakan warisan turun-temurun dari keluarga.
Sentra Produksi Ledre di Bojonegoro
Wisatawan bisa menemukan ledre di sentra produksinya di Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro. Ada berbagai varian rasa yang ditawarkan, seperti cokelat, stroberi, kacang hijau, dan lainnya. Harga satu kotak ledre berkisar Rp 15 ribu hingga Rp 100 ribu, tergantung jenis dan ukurannya.
Sebagai salah satu kuliner khas Bojonegoro, ledre ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 7 Desember 2021.
Penetapan ini menjadi bagian dari upaya pelestarian kuliner tradisional yang masih dikenal dan diproduksi hingga kini. Ledre pun menjadi salah satu kekayaan kuliner Bojonegoro yang menarik untuk dicoba. Detikers, sudah pernah mencicipinya?
Simak Video "Nikmatnya Ayam Guling Bumbu Bali dengan Daun Singkong Tumbuk"
(ihc/irb)