Keberadaan Erlan, pria yang diduga menjadi pelaku pembunuhan Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Bangkalan, Ruly Yunis Setiawati, hingga kini masih belum terungkap. Meski pencarian telah berlangsung sekitar satu bulan dan diperluas ke berbagai daerah, polisi belum berhasil menemukan jejak pria tersebut.
Di tengah belum adanya perkembangan signifikan, keluarga korban melalui kuasa hukumnya mendesak kepolisian segera menetapkan Erlan sebagai Daftar Pencarian Orang (DPO). Menurut keluarga, langkah itu dinilai penting agar ruang gerak pencarian semakin luas sekaligus membuka peluang keterlibatan masyarakat dalam memberikan informasi mengenai keberadaan terduga pelaku.
Kuasa hukum keluarga korban, Risang Bima Wijaya mengatakan, hingga kini pihak keluarga masih menerima informasi bahwa polisi terus melakukan pencarian. Namun, belum ada titik terang mengenai lokasi persembunyian Erlan.
"Dari informasi yang kami terima, polisi masih terus melakukan pencarian. Namun sampai sekarang belum ada titik terang mengenai keberadaannya," ujarnya kepada detikJatim, Kamis (23/7/2026).
Keluarga korban berharap kepolisian meningkatkan status pencarian Erlan menjadi DPO yang diumumkan secara resmi kepada publik. Menurut Risang, nama Erlan memang telah masuk dalam daftar pencarian internal penyidik, tetapi belum diumumkan sebagai DPO.
Keluarga menilai penetapan status DPO akan memperluas jangkauan pencarian karena masyarakat dapat ikut berpartisipasi memberikan informasi apabila mengetahui keberadaan yang bersangkutan.
"Kami berharap statusnya segera ditingkatkan menjadi DPO agar ruang gerak pencarian semakin luas dan masyarakat juga bisa ikut membantu memberikan informasi," tambahnya.
Selain itu, Risang mengungkapkan pihaknya menerima laporan dari sejumlah perempuan yang mengaku menjadi korban penipuan Erlan. Salah satunya berasal dari Bandung dengan kerugian mencapai Rp144 juta. Ada pula korban di Jakarta yang mengaku sempat dinikahi sebelum akhirnya ditinggalkan setelah hartanya dikuras.
Menurut Risang, kecil kemungkinan Erlan dapat bertahan hidup seorang diri selama berbulan-bulan tanpa bantuan pihak lain. Berdasarkan informasi yang dihimpun keluarga, pencarian telah dilakukan di sejumlah wilayah seperti Jimbaran, Bali, Banyuwangi, Jakarta Selatan, Tasikmalaya, hingga penelusuran ke alamat yang pernah diketahui berada di Makassar, Malang, dan Jimbaran. Namun seluruh upaya tersebut belum membuahkan hasil.
Atas kondisi itu, keluarga menduga Erlan memperoleh bantuan dari orang lain, baik keluarga maupun jaringan yang selama ini berhubungan dengannya. Dugaan tersebut juga dikaitkan dengan munculnya sejumlah pengakuan dari perempuan yang mengaku pernah menjadi korban penipuan dengan modus asmara atau love scam.
"Kami menduga yang bersangkutan disembunyikan oleh jaringan atau kelompoknya. Dugaan kami, dia merupakan bagian dari jaringan penipuan berkedok love scam. Sejumlah orang, mayoritas perempuan, juga mengaku pernah menjadi korban," kata Risang.
Risang menambahkan, pihaknya meyakini Erlan masih berada di Pulau Jawa.
"Logikanya pasti ada yang membantu, baik dari keluarga maupun kelompoknya. Kami meyakini dia masih berada di Pulau Jawa," jelasnya.
Meski demikian, dugaan mengenai keterlibatan Erlan dalam jaringan penipuan maupun perkara lain masih menunggu pembuktian melalui proses penyidikan kepolisian.
Di akhir pernyataannya, keluarga meminta aparat penegak hukum tetap mengusut perkara tersebut hingga tuntas dan memastikan seluruh pihak yang bertanggung jawab diproses sesuai hukum.
"Harapan kami sederhana, kasus ini jangan sampai menjadi kasus dingin. Kami ingin ada kepastian hukum dan semua pihak yang bertanggung jawab diproses sesuai ketentuan yang berlaku," pungkas Risang.
Simak Video "Video Kuasa Hukum: ASN yang Tewas dalam Mobil di Juanda Tak Punya Konflik"
(irb/hil)