Oknum Satpol PP Surabaya yang Jual Barang Sitaan Jalani Sidang Perdana

Oknum Satpol PP Surabaya yang Jual Barang Sitaan Jalani Sidang Perdana

Suparno - detikJatim
Rabu, 28 Sep 2022 19:16 WIB
Sidang dakwaan kasus Satpol PP Surabaya
Sidang dakwaan kasus Satpol PP Surabaya (Foto: Suparno/detikJatim)
Sidoarjo -

Sidang perkara korupsi penjualan barang sitaan Satpol PP Kota Surabaya mulai digelar di Pengadilan Tipikor. Dalam sidang tersebut terdakwa Ferri Jocom dihadirkan dan mendengarkan dakwaan dari jaksa penuntut umum (JPU).

JPU, Nur Rachmansyah mengatakan saat melakukan korupsi, terdakwa berstatus PNS Pemkot Surabaya menjabat Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Satpol PP.

Ia didakwa dengan sengaja menjual barang hasil (sitaan) penegakan peraturan daerah yang disimpan di Gudang Satpol PP Kota Surabaya di Jalan Tanjungsari No 11-15 Surabaya. Perbuatan terdakwa menjual barang hasil penegakan peraturan daerah dilakukan pada 17 Mei 2022 sampai dengan 23 Mei 2022.

Menurut JPU, aksi terdakwa menjual barang sitaan dilakukan dengan modus yakni penyalahgunaan wewenang jabatan (abuse of power) yang dimilikinya. Sehingga dengan wewenang tersebut dipergunakan untuk memperkaya dan menggerakkan orang lain baik itu bawahannya ataupun pihak ketiga.

"Bahwa terdakwa menggelapkan, menghancurkan, merusakkan atau membuat tidak dapat dipakai barang, akta, surat, atau daftar yang digunakan untuk meyakinkan atau membuktikan di muka pejabat yang berwenang, yang dikuasai karena jabatannya selaku Kepala Bidang Ketertiban Umum dan Ketentraman Masyarakat Satpol PP Kota Surabaya," kata JPU Rahcmansyah di PN Tipikor, Rabu (28/9/2022).

Aksi terdakwa dilakukan dengan modus menyuruh saksi Sunadi alias Cak Sup, saksi Yateno alias Yatno, saksi Mohammad S Hanjaya alias Abah Yaya, dan saksi Slamet Sugianto alias Sugi untuk mencarikan pembeli.

"Dengan alasan pembersihan dan dilakukan pemasangan paving, sehingga barang sitaan yang berada di gudang Satpol PP akan dikeluarkan semua," terangnya.

Namun ternyata empat saksi tersebut gagal mendapatkan pembeli seperti yang diinginkan terdakwa. Kemudian terdakwa bertemu saksi Abdul Rahman dan menyepakati jual beli seharga Rp 500 juta untuk seluruh barang sitaan yang berada di gudang Satpol PP.

"Atas dasar kesepakatan tersebut saksi Abdul Rahman memilah dan mengangkut besi-besi dengan menggunakan dua truk, yang kemudian dijual ke PT Raksa dengan harga (sementara dibayar) Rp 45 juta," jelas Rachmansyah.