Di sudut sunyi Dusun Sono, Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret, Nganjuk tampak gagah berdiri patung perunggu setinggi 3 meter. Patung pria itu tampak tengah duduk menatap buku yang terbuka menggambarkan bagaimana dirinya membidani Pergerakan Nasional pertama di Tanah Air. Dialah Dokter Soetomo.
Jejak Pahlawan Nasional dr Soetomo abadi di monumen dan museum tersebut karena tanah Nganjuk itulah tokoh pergerakan itu lahir sebelumnya akhirnya dibawa oleh kakeknya ke Surabaya.
Ya, tokoh sentral di balik berdirinya Boedi Oetomo pada 20 Mei 1908 ini lahir di Kota Angin. Di usia 8 tahun ia kemudian dibawa R. Ng. Singawijaya, kakeknya ke Surabaya, hingga mendedikasikan hidupnya untuk memberikan pengobatan gratis bagi rakyat miskin.
"Dulu nama lahir beliau (dr Soetomo) adalah Soebroto. Lahir di sini, kemudian umur 8 tahun dibawa kakeknya ke Surabaya," ungkap Arik Setiawan, Juru Pelihara Monumen dan Museum dr Soetomo Nganjuk saat ditemui detikJatim, Jumat (23/10/2026).
Menurut Arik, kompleks museum seluas 2 hektar ini dulunya merupakan rumah kakek R. Ng. Singawijaya, kakek dr Soetomo. Di mana, sang pahlawan itu lahir pada 30 Juli 1888.
Di halaman museum, berdiri monumen perunggu setinggi 3 meter. Patung ini menggambarkan dr. Soetomo yang sedang duduk menghadap buku terbuka. Menurut Arik, monumen ini diresmikan Harmoko yang saat itu menjabat sebagai Menteri Penerangan, tepatnya pada 6 Mei 1986.
"Di bawah monumen itu, ada ari-ari beliau," tambah Arik.
Sementara di dalam museum, terdapat koleksi peralatan medis kala itu. Semua alat itu merupakan peninggalan sang dokter saat lulus dari STOVIA.
Arik pun membeberkan sejumlah koleksi dr Soetomo yang masih terawat dengan baik, meliputi stetoskop lawas, meja periksa pasien, nierbeken (wadah ginjal), hingga perlengkapan operasi kuno.
"Kalau ini, koleksi buku tentang kulit dan janin, tapi berbahasa Belanda dan Inggris," ujar Arik sembari menunjukkan lemari besar berisi puluhan buku tebal.
Arik menyebut, Museum dr Soetomo ini sekarang dikelola Dinas Kepemudaan, Olahraga, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disporabudpar) Kabupaten Nganjuk. Museum itu dibuka untuk umum, mulai pukul 07.00 WIB sampai pukul 15.00 WIB kecuali hari Minggu. Namun bila ada acara di sini, hari Minggu pun tetap buka.
"Pengunjung rata-rata anak-anak sekolah hingga mahasiswa. Dari berbagai daerah di Jawa Timur. Tapi kalau pas mudik lebaran atau tahun baru, malah ramai dikunjungi warga Nganjuk yang mudik dari berbagai wilayah di Indonesia," beber Arik.
Diketahui, dr Soetomo meninggal 30 Mei 1938 di Surabaya, di usia 49 tahun, dan juga diabadikan dalam sebuah museum di Jalan Bubutan. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 27 Desember 1961 melalui Surat Keputusan Presiden (Keppres) RI No. 657 Tahun 1961.
Semasa hidupnya, dr. Soetomo sempat menikah dengan perawat asal Belanda, Everdina Bruring, yang ia kenal saat membuka pengobatan gratis di Blora, Jawa Tengah.
Dalam kiprah politiknya, ia mendirikan Indonesische Studieclub pada 1924 yang kemudian bertransformasi menjadi Partai Indonesia Raya (Parindra), bergerak di bidang politik, ekonomi, serta sosial.
Kini, nama dr Soetomo juga diabadikan sebagai nama jalan dan fasilitas kesehatan di berbagai daerah di Jawa Timur maupun daerah lain di Tanah Air.
Simak Video "Video: Ahli Waris Pahlawan Nasional Dapat Tunjangan Rp 50 Juta/Tahun"
(auh/dpe)