Hardiknas 2026, Deretan Tokoh Pendidikan Asal Jawa Timur

Hardiknas 2026, Deretan Tokoh Pendidikan Asal Jawa Timur

Chilyah Auliya - detikJatim
Sabtu, 02 Mei 2026 13:20 WIB
dr Soetomo (Dok Pahlawan Center/Kementerian Sosial)
dr Soetomo. Foto: Dok Pahlawan Center/Kementerian Sosial
Surabaya -

serta berdakwah melalui majelis taklim untuk mendorong peran perempuan di masyarakat.Melalui kitab Risalah Ahl Al-Sunnah Wal Al-Jama'ah, ia menekankan pentingnya menjaga akidah sesuai ajaran ulama terdahulu sekaligus menjawab tantangan zaman.

Jawa Timur (Jatim) tak hanya dikenal sebagai daerah dengan sejarah perjuangan kemerdekaan, tetapi juga melahirkan banyak tokoh yang berperan besar dalam perkembangan pendidikan di Indonesia.

Pada peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026, menarik untuk menengok kembali kiprah para pelopor pendidikan asal Jatim yang gagasan dan warisannya masih terasa hingga kini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tokoh Pendidikan Asal Jatim

Dari Pasuruan hingga Nganjuk, jejak pemikiran dan lembaga pendidikan yang mereka dirikan masih terasa hingga kini. Kiprah para tokoh ini menjadi bagian penting dalam memperluas akses pendidikan di Jawa Timur. Berikut lima pelopor pendidikan asal Jawa Timur yang patut dikenali.

1. Danudirja Setiabudi atau Ernest Douwes Dekker

Satu-satunya anggota Tiga Serangkai yang lahir di Jawa Timur, Danudirja Setiabudi atau Ernest Douwes Dekker dikenal sebagai tokoh yang vokal mengkritik sistem pendidikan kolonial yang diskriminatif. Ia menilai adanya kesenjangan akses antara warga Eropa dan pribumi menjadi penghambat kemajuan bangsa.

ADVERTISEMENT

Pada 1924, ia mendirikan Ksatrian Instituut sebagai sekolah yang lebih inklusif. Meski nasionalis, ia tetap menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar demi membuka peluang ekonomi bagi muridnya di tengah sistem kolonial. Bersama Cipto Mangunkusumo, ia bercita-cita mencetak generasi dengan mentalitas merdeka.

KsatrianInstituut tak hanya menekankan akademik, tetapi juga pendidikan karakter, kesehatan, dan literasi ekonomi. Melalui pendekatan ini, ia menunjukkan bahwa pendidikan inklusif tanpa sekat ras dan sosial menjadi kunci mencetak generasi unggul.

2. Dr Soetomo

dr Soetomo (Dok Pahlawan Center/Kementerian Sosial)dr Soetomo. Foto: Dok Pahlawan Center/Kementerian Sosial

Soetomo lahir di Nganjuk pada 30 Juli 1888 dengan nama Soebroto. Perjalanan hidupnya berubah saat menempuh pendidikan di STOVIA. Kehilangan sang ayah pada 1907 membentuk kesadaran sosialnya, yang kemudian mendorong lahirnya organisasi Budi Utomo pada 1908, yang kini diperingati Hari Kebangkitan Nasional.

Setelah lulus dokter pada 1911, ia melanjutkan spesialis penyakit kulit di Belanda pada 1919-1923. Di sana, ia aktif memimpin Perhimpunan Indonesia. Sekembalinya ke tanah air, Soetomo menetap di Surabaya dan mengajar di NIAS, sambil menggerakkan kaum intelektual untuk terlibat dalam pembangunan masyarakat.

Ia juga mendirikan Intellectueelenbond yang kemudian diubah menjadi Indonesische Studieclub pada 1924, sebagai pelopor gerakan lintas ideologi yang menginspirasi kota-kota lain di Jawa.

Pada 1930, gerakannya berkembang menjadi Persatuan Bangsa Indonesia (PBI), yang kemudian melebur ke dalam Parindra, menandai pergeseran dari perjuangan kedaerahan menuju nasionalisme yang lebih luas.

Salah satu warisan Soetomo yang masih berdiri hingga kini adalah Gedung Nasional Indonesia (GNI), simbol semangat gotong royong di tengah krisis ekonomi masa kolonial.

3. KH Hasyim Asy'ari

KH Hasyim Asy'ari. Foto: PinterestKH Hasyim Asy'ari. Foto: Pinterest Foto: KH. Hasyim Asy'ari. (Foto: Pinterest)

KH Hasyim Asy'ari lahir di Jombang pada 14 Februari 1871 dalam lingkungan keluarga ulama yang memiliki garis keturunan bangsawan. Ia tumbuh dalam tradisi pesantren, belajar dari ayah dan kakeknya sebelum menimba ilmu ke berbagai pesantren di Jawa dan Madura.

Puncak perjalanan akademisnya terjadi saat ia bermukim di Makkah selama tujuh tahun. Di sana, ia menjadi murid Syaikh Mahfudh Termas dan memperoleh ijazah mengajar Shahih Bukhari melalui sanad keilmuan. Selain hadis, ia juga mendalami fikih dan astronomi di bawah bimbingan Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi.

Sekembalinya ke tanah air, kontribusinya terlihat dalam dua bidang utama, yaitu mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng pada 1899, serta menjadi penggagas berdirinya Nahdlatul Ulama pada 31 Januari 1926.

Melalui kitab Risalah Ahl Al-Sunnah Wal Al-Jama'ah, KH Hasyim Asy'ari menekankan pentingnya menjaga akidah sesuai ajaran ulama terdahulu, sekaligus menjawab tantangan zaman.

Ia juga berpandangan bahwa tidak semua hal baru (bid'ah) dalam kehidupan otomatis dianggap menyimpang, selama memiliki dasar dan tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Pandangan ini menjadi rujukan penting bagi masyarakat dalam menjaga keseimbangan antara tradisi dan perkembangan zaman.

4. Khoiriyah Hasyim

Khoiriyah Hasyim lahir di Jombang pada 1908 sebagai putri kedua KH Hasyim Asy'ari. Tumbuh di era saat perempuan belum mendapat akses pendidikan formal, ia belajar secara otodidak melalui pengajian sang ayah, serta mendalami kitab-kitab klasik secara mandiri.

Kontribusinya terlihat dari upayanya membuka akses pendidikan bagi perempuan. Bersama suami pertamanya, KH Maksum Ali, ia mendirikan Pesantren Seblak di Jombang, sebagai pusat pendidikan santri putri, bahkan mengajarkan ilmu falak yang saat itu jarang dipelajari perempuan.

Saat bermukim di Arab Saudi, ia bersama suami keduanya mendirikan Madrasah Lil Banat di Makkah, sekolah khusus perempuan yang terbilang maju pada masanya. Ia juga aktif di ruang publik sebagai perempuan pertama yang terlibat dalam forum Bahtsul Masail PBNU.

Tidak hanya itu, Khoiriyah Hasyim pernah menjabat Ketua Fatayat NU pada 1958-1962, serta menduduki jajaran Syuriah NU, posisi yang biasanya didominasi laki-laki. Ia juga berdakwah melalui majelis taklim untuk mendorong peran perempuan di masyarakat.

Pada 1957, atas permintaan Soekarno, ia kembali ke Indonesia untuk mengembangkan Pesantren Seblak dan memperkuat gerakan perempuan. Ia wafat pada 2 Juli 1983, namun kiprahnya menunjukkan keterbatasan pendidikan formal tidak menghalangi perempuan untuk berkontribusi di bidang pendidikan dan sosial.

5. Mayjen TNI (Purn) Moestopo

Moestopo lahir di Kediri pada 13 Juni 1913, dan dikenal sebagai sosok yang menguasai tiga bidang sekaligus, yaitu militer, kedokteran, dan pendidikan. Kariernya bermula dari dunia kedokteran gigi setelah lulus dari STOVIT Surabaya, hingga dipercaya menjadi wakil kepala sekolah kedokteran gigi pada masa pendudukan Jepang sebelum terjun ke dunia militer.

Di bidang militer, Moestopo dikenal sebagai sosok strategis. Ia pernah menjadi komandan PETA di Surabaya dan Gresik, serta menjad Menteri Pertahanan Ad Interim dalam pertempuran Surabaya 1945.

Ia juga membentuk Pasukan Terate, unit khusus yang beranggotakan masyarakat sipil untuk melawan penjajah di berbagai daerah pertempuran. Setelah masa perang, ia kembali ke dunia pendidikan dengan mendirikan Dr Moestopo Dental College pada 1958.

Kampus tersebut kemudian berkembang menjadi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama), yang kini dikenal sebagai perguruan tinggi swasta terakreditasi A. Selain itu, ia dikenal memiliki 18 gelar akademik dan aktif mendorong pengembangan pendidikan di Indonesia.

Pada 1964, ia juga mendirikan Pusat Perdamaian Dunia sebagai bagian dari visinya terhadap perdamaian global. Atas jasa-jasanya di bidang militer dan pendidikan, Moestopo dianugerahi gelar Pahlawan Nasional pada 2007.

Bagi detikers yang sedang belajar maupun berprofesi sebagai pendidik, khususnya di Jawa Timur, semangat para tokoh ini bisa menjadi inspirasi untuk terus berinovasi. Momentum Hari Pendidikan Nasional 2026 dapat dimaknai sebagai pengingat untuk terus meningkatkan kualitas literasi, baik digital maupun akademik.



(irb/hil)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads