Nurul Fadillah, Ibu dari Zulkarnain Abdil Aziz (10), anak difabel yang diduga dibully 2 anak tetangga hingga tewas buka suara terkait kabar dugaan KDRT yang dia alami. Dugaan ini muncul usai salah satu akun pengguna Threads @xerxryu menulis sebuah utas bahwa Selaras Abdul, Ayah Zulkarnain sering melakukan KDRT kepada istrinya.
Meski unggahan itu telah dihapus, tangkapan layar utas itu terlanjur beredar di media sosial. Untuk itulah
"He rek, aku entok info A1 rek, Bapak e Zulkarnain iku senengane KDRT ambek bojone, ibuk e Zulkarnain. Sakben bojone kerjo, Zulkarnain iki di deleh njobo. Senengane nggawe ribut iku yo bapak e Zulkarnain, soale sering mendem ambek tatoan kabeh awak e. Krisna iku mek ngalungi tok koyok sapi, Vano iki wes ngandani ojok di ngunu no, sampek akhire kursi roda ne tibo, arek 2 iki mlayu, ga sue krisna iki mbalek gawe ndelok tok dan gong e, si vano vano iki yo arek istimewa," tulis akun @xerxryu yang telah dihapus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengetahui hal itu, Nurul langsung menyampaikan klarifikasi dalam sebuah video yang dikirim oleh suaminya, Selaras kepada detikJatim, Sabtu (24/10). Dalam videonya, Nurul membantah terkait dirinya yang mengalami KDRT yang dilakukan oleh sang suaminya, Selaras.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Saya Nurul Fadillah, istri dari Bapak Selaras. Kami ingin membuat pernyataan mengenai sangkaan netizen kepada Pak Selaras yang katanya Pak Selaras berbuat KDRT kepada saya, sebagai istri," demikian kata Nurul.
Dengan serius dan mata berkaca-kaca, Nurul menyampaikan bahwa KDRT yang dialaminya adalah fitnah seperti yang disebarkan oleh keluarga pelaku dan orang-orang yang berpihak pada pelaku.
"Itu semua bohong, itu adalah fitnah sama halnya dengan fitnah yang disebarkan oleh orang tua pelaku ataupun keluarga pelaku dan orang yang berpihak kepada keluarga kedua pelaku," ungkap Nurul.
Dalam video, Nurul juga menyinggung terkait tuduhan yang mengarah pada suaminya yang disebut membunuh Zulkarnain. Ia menyebut bahwa berita yang beredar itu adalah hoax.
"Pada saat awal setelah kejadian disebarkan berita hoax kalau almarhum dibunuh oleh bapaknya sendiri," katanya.
Ia menjelaskan bahwa suaminya memang menerapkan pola didik yang keras terhadap keluarganya. Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut bukan berarti suaminya melakukan KDRT terhadap dirinya maupun anak-anaknya. Menurut Nurul, sikap suaminya tersebut agar keluarganya terhindar dari siksa api neraka.
"Suami saya memang keras dalam mendidik kami sekeluarga, tapi bukan berarti suami saya berbuat KDRT kepada saya dan anak saya. Karena suami saya hanya ingin dirinya dan keluarganya jauh dari siksa api neraka," jelasnya.
Sebagai penutup, ia juga mengatakan apabila memang terjadi KDRT dalam rumah tangganya, ia merasa hubungan tersebut tidak mungkin dapat bertahan selama 19 tahun.
"Kalaupun ada KDRT di dalam rumah tangga saya, tidak mungkin rumah tangga saya bisa bertahan selama 19 tahun. Mungkin itu dulu penjelasan dari saya warahmatullahi wabarakatuh," pungkasnya.
Melalui klarifikasi dalam video tersebut, detikJatim melakukan verifikasi langsung kepada Selaras. Menurutnya, ia sudah terbiasa menghadapi beredarnya berita yang tidak benar. Ia menilai kebaikan dan keburukan merupakan dua hal yang tidak akan pernah bisa disatukan, sebagaimana air dan minyak yang tidak dapat bercampur.
"Kalo dari saya sendiri itu sudah biasa, antara kebaikan dan keburukan itu tidak akan bisa akur selama dunia ini belum kiamat, ibarat air dicampur dengan minyak tidak akan bisa campur"
Kejadian ini sebenarnya telah berlangsung pada 12 September 2026 di Jalan Tambak Medokan Ayu XI, Surabaya. Pelaku pembunuhan terhadap Zulkarnain ini merupakan dua anak tetangga korban yakni berinisial K (10) dan F (8).
Perkembangan kasus pembulian yang merenggut nyawa Zulkarnain juga telah diusut oleh polisi dengan mengumpulkan bukti, termasuk rekaman CCTV. Satu dari kedua pelaku menjalani pembinaan selama 6 bulan di Rumah Perubahan di bawah naungan Pemerintah Kota Surabaya. Sedangkan pelaku satunya ditempatkan di Pondok Pesantren atas persetujuan orang tuanya.
