Puluhan titik panas atau hotspot terdeteksi di kawasan Pegunungan Wilis yang meliputi wilayah Ponorogo dan sejumlah daerah di sekitarnya. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ponorogo mewaspadai potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) setelah sisa kebakaran sebelumnya kembali menyala akibat angin kencang.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Ponorogo, Masun, mengatakan jumlah titik panas yang terdeteksi mencapai sekitar 30 titik di wilayah Ponorogo. Meski demikian, titik api tersebut tidak terlihat dari wilayah bawah Ponorogo karena lokasinya berada di kawasan puncak gunung.
"Iya, ada 30-an hotspot. Tapi di atas gunung tidak kelihatan dari bawah," kata Masun, Sabtu (24/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan hasil pemantauan pukul 13.00 WIB, terdeteksi 29 titik panas di Desa Pudak Kulon, Kecamatan Pudak, Kabupaten Ponorogo.
Sementara itu, di wilayah Kabupaten Nganjuk terdeteksi sejumlah titik panas yang tersebar di beberapa lokasi, yakni Desa Ngliman dan sekitar Puncak Tapan 11 di Kecamatan Sawahan, Desa Kepel di Kecamatan Ngetos, serta Desa Margopatut di Kecamatan Sawahan.
Data pemantauan itu juga mencatat daya radiasi panas atau Fire Radiative Power (FRP) sebesar 8,99 megawatt dengan tingkat keyakinan deteksi sedang.
Kondisi cuaca saat pengamatan terpantau berawan, dengan suhu udara 29 derajat Celsius, kelembapan 45 persen, dan kecepatan angin 7 kilometer per jam. Sementara hembusan angin tercatat mencapai 29 kilometer per jam.
Masun menjelaskan, berdasarkan hasil koordinasi dengan pihak Perhutani, sisa kebakaran berupa tunggul yang masih membara sejak 21 Oktober 2026 kembali menyala pada malam hari. Kondisi tersebut dipicu angin kencang yang membuat bara api kembali aktif.
"Untuk sisa kebakaran atau tunggul yang masih membara pada 21 Oktober 2026, kembali menyala lagi pada malam hari karena angin kencang," demikian laporan hasil koordinasi dengan pihak Perhutani.
Petugas belum dapat langsung menjangkau titik kebakaran karena lokasinya berada jauh di kawasan puncak dan lembah dengan medan yang terjal. Berdasarkan laporan koordinasi tersebut, perjalanan menuju lokasi diperkirakan membutuhkan waktu sekitar tiga hari dengan berjalan kaki.
Lokasi kebakaran itu berada di kawasan perbatasan Kabupaten Ponorogo, Tulungagung, dan Nganjuk. Karena sulitnya akses menuju lokasi, langkah yang dilakukan saat ini adalah pemantauan untuk mengetahui perkembangan kondisi di kawasan tersebut.
BPBD mengingatkan bahwa titik panas yang terdeteksi satelit merupakan indikasi awal dan belum otomatis memastikan adanya kebakaran aktif di setiap titik. Karena itu, diperlukan pengecekan langsung untuk memastikan kondisi di lapangan.
Masyarakat, pendaki, serta pengelola wisata di kawasan Pegunungan Wilis diminta meningkatkan kewaspadaan, terutama saat angin bertiup kencang. Warga juga diimbau tidak melakukan pembakaran terbuka dan segera melapor kepada petugas apabila melihat asap atau api di kawasan hutan.
Kewaspadaan diperlukan untuk mencegah kebakaran meluas, terlebih jika bara api yang tersisa kembali menyala dan sulit dijangkau petugas akibat kondisi medan pegunungan.
