Sebuah batu besar di tanah kas desa kawasan Desa Watugede, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, diduga merupakan batu bersejarah di zamannya. Salah satu terindikasi merupakan watu dakon sebagai rujukan menentukan waktu tanam.
Pamong Budaya Ahli Muda Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang Yossy Indra Hardyanto mengatakan batu berukuran besar tersebut diduga merupakan batu batolit yang terbentuk akibat aktivitas vulkanik purba Gunung Arjuna purba.
Di lokasi yang sama juga ditemukan batu bercungkup yang dikenal warga sebagai Watu Dakon dan diduga memiliki nilai sejarah maupun budaya. "Hasil identifikasi batu tersebut peninggalan era megalithic," ujar Yossy saat dikonfirmasi detikJatim, Kamis (11/6/2026).
Yossy mengungkapkan, bahwa keberadaan batu tersebut juga pernah dicatat sebagai punden desa setempat. Nantinya batu akan dibiarkan berada di lokasi, karena menjadi bagian dari kekayaaan sejarah desa setempat.
"Tidak bisa dipindahkan. Karena situs dan menjadi kekayaan sejarah desa setempat. Lokasinya berada di tanah kas desa, dekat area persawahan," ungkapnya.
Selain batu batolit, lanjut Yossy, satu struktur batu lain yang sangat mirip dan diyakini sebagai watu dakon. Watu dakon adalah batu yang biasanya dijadikan rujukan di era megalitikum saat musim tanam.
"Diyakini era megalithic, hal ini diindikasikan karena adanya ceruk di batu. Ceruk yang ada di batu berjumlah 6 titik. Sehingga bisa diidentifikasi sebagai watu dakon," terangnya.
Menurut Yossy, watu dakon biasanya digunakan untuk menentukan masa hitung tanam di area pertanian, termasuk memastikan waktu panen. "Watu dakon biada digunakan sebagai alat hitung masa tanam dan panen," tandasnya.
Meski demikian, seluruh temuan masih memerlukan kajian ilmiah lebih lanjut untuk memastikan asal-usul, usia, serta keterkaitannya dengan sejarah dan geologi kawasan Singosari.
Simak Video "Berkunjung ke Batu Flower dan Berfoto di Coban Rais, Malang"
(auh/abq)