Jauh sebelum dipadati pemukiman modern yang sejuk, wilayah Malang Raya diyakini merupakan sebuah danau purba raksasa jutaan tahun silam. Cekungan air raksasa prasejarah ini terbentuk dari aktivitas vulkanik dan tektonik dahsyat yang kemudian menyisakan dataran subur seperti sekarang.
Arkeolog prasejarah sekaligus Dosen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM) Blasius Suprapta mengungkapkan bahwa proses terbentuknya lanskap Malang bermula dari munculnya pegunungan kapur selatan di kawasan Kalipare hingga Pacitan dan Lumajang.
Di saat yang sama, wilayah utara juga mengalami pengangkatan, sementara bagian tengahnya merupakan wilayah laut yang menjorok dari Selat Madura hingga ke ujung Blitar dan Tulungagung.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pergerakan lempeng bumi kemudian memicu rekahan besar yang melahirkan kompleks gunung api purba, seperti Arjuno Purba, Kawi, Kelud, hingga kompleks Tengger-Semeru.
Aktivitas erupsi dari gunung-gunung api inilah yang pada akhirnya mengubah bentang alam tersebut menjadi sebuah cekungan raksasa.
Aliran lava membeku di dasar sungai dan membendung tepi pegunungan kapur, yang kemudian menampung air hujan hingga menjelma menjadi sebuah danau purba yang membentang luas dari Karangkates di selatan hingga wilayah Singosari di utara.
Blasius menjelaskan bahwa sisa-sisa endapan danau purba tersebut sebenarnya masih bisa dibuktikan secara ilmiah hingga saat ini jika masyarakat jeli melihat struktur geologinya.
Bukti konkret mengenai keberadaan aliran lava beku dan material endapan tersebut terhampar jelas di jalur aliran sungai Brantas saat ini.
"Dataran Malang, merupakan bekas danau purba yang mengering dan berubah menjadi dataran tinggi yang luas dan subur," kata Blasius kepada detikJatim, Kamis (21/5/2026).
"Kalau mau membuktikan ada aliran lava di Sengguruh, lava beku yang ada di dasar Sungai Brantas. Baru atas-atasnya itu endapan-endapan bekas danau purba," sambungnya.
Seiring berjalannya waktu, terjadi lagi proses pengangkatan geologis yang membuat aliran Sungai Brantas turun drastis.
Kondisi ini secara otomatis mengeringkan air danau purba dan menyisakan sebuah dataran luas yang sangat rata dan subur.
Karena dilapisi oleh endapan humus serta material vulkanik kaya nutrisi dari lereng-lereng gunung di sekitarnya.
Kesuburan tanah serta melimpahnya sumber mata air di kaki gunung inilah yang memikat makhluk hidup untuk mulai menetap.
Blasius menyebutkan, kehidupan di wilayah Malang sebenarnya sudah dimulai sejak era Pleistosin saat pegunungan kapur selatan wilayah Malang baru terbentuk.
Bahkan jejak fosil kerang purba dari era pliosin atas sempat ditemukan saat pembangunan Bendungan Karangkates.
Kawasan ini kemudian terus berevolusi menjadi tempat tinggal bagi manusia purba jenis Pithecanthropus sekitar 1,3 juta hingga 700.000 tahun yang lalu.
Setelah era manusia purba berlalu, peradaban di Malang terus berganti secara dinamis seiring mengeringnya danau.
Mulai dari manusia masa mesolitik yang hidup semi-menetap di goa-goa seperti Goa Tumpak, disusul masyarakat neolitik yang mulai mengenal budaya bercocok tanam, masa megalitik, hingga masa klasik Hindu-Buddha yang melahirkan Kerajaan Kanjuruhan, Singosari, dan Majapahit.
Menurut Blasius, keunikan geografis Malang yang dikelilingi gunung api namun relatif aman dari bencana besar seperti lahar dan gempa bumi, menjadikannya sebagai tempat tinggal yang sangat ideal sejak zaman kuno.
Struktur alam yang protektif dan mandiri dalam menyediakan sumber pangan ini bahkan diabadikan dalam kitab kuno Pararaton dengan julukan yang sangat istimewa.
"Makanya di Pararaton disebut Sida Bawana. Sida Bawana itu artinya dataran yang suci, luas, dan aman, serta subur. Sehingga awal dari pemukiman memang, orang mencari di dataran tinggi Malang," pungkas Blasius.
(auh/abq)
