Seni Jadi Benteng Pertahanan Kampung Tambak Bayan

Anastasia Trifena - detikJatim
Selasa, 10 Feb 2026 09:15 WIB
Kampung Pecinan Tambak Bayan/Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim
Surabaya -

Jika mural dan goresan cat hanya bermakna indah, lain halnya jika tertuang di tembok Kampung Tambak Bayan. Paduan warna yang tergambar, melambangkan perlawanan yang lahir dari kampung pecinan tertua di Surabaya ini.

Bangunan-bangunan di Kampung Tambak Bayan telah berdiri sejak 1866 dan merupakan peninggalan Belanda. Barulah satu abad kemudian, kampung ini menjadi ruang hidup komunitas Tionghoa lintas generasi. Rumah-rumah tua berdiri rapat di antara gang sempit. Tembok tanpa semen yang mudah mengelupas dan atap seng tua menjadi ciri khas selanjutnya.

Dahulu, wilayah ini dihuni ratusan keluarga. Kini, hanya ada 70 kepala rumah tangga. Bahkan, di wilayah lapangan yang dulunya merupakan permukiman satu Rukun Tetangga (RT), hanya tiga rumah yang tersisa dan menjadi bukti kejamnya permasalahan sengketa.

Mayoritas warga bekerja serabutan. Dulu, Tambak Bayan dikenal sebagai kampung tukang kayu. Setiap rumah memiliki kursi kayu miring sebagai penanda profesi. Namun, identitas itu perlahan hilang karena tidak berlanjut ke generasi berikutnya. Saat ini sebagian besar warga adalah lansia dan pra lansia.

Seni Menjadi Cara Bertahan

Permasalahan sengketa lahan di Kampung Tambak Bayan telah berlangsung puluhan tahun. Konflik bermula sejak 1965, ketika lahan seluas sekitar 3.800 meter persegi yang dikelola komunitas Tionghoa dirampas oleh aparat. Warga dipaksa membuat surat tanah atas nama pihak perampas. Tak lama berselang, aset-aset Tambak Bayan diduga berpindah tangan ke pihak swasta.

Sejak saat itu, warga hidup dalam bayang-bayang penggusuran. Satu per satu rumah hilang. Wilayah yang dulu dihuni ratusan keluarga perlahan menyusut, menyisakan puluhan rumah yang bertahan hingga kini. Sengketa tersebut juga tak kunjung menemui penyelesaian, meski telah melalui berbagai jalur.

Di tengah situasi itulah, warga mulai mencari cara lain untuk bertahan. Sekitar 2011-2012, warga mulai mengenal seni sebagai medium perlawanan. Di tengah sengketa lahan yang tak kunjung selesai, warga Tambak Bayan mendapat dukungan dari akademisi dan komunitas seni. Mereka diajari bahwa perlawanan tidak selalu dilakukan dengan kekerasan.

Perwakilan warga Tambak Bayan, Suseno mengatakan seni mulai digunakan sebagai bentuk perlawanan sejak lebih dari satu dekade lalu. Warga memilih jalur budaya untuk menyuarakan keberadaan kampung yang terus tergerus oleh sengketa lahan.

Sejak saat itu tembok kampung mulai dipenuhi mural. Salah satunya yang paling fenomenal adalah gambar naga yang memakan ekornya sendiri. Simbol itu dimaknai sebagai ironi konflik yang saling meniadakan, padahal kedua pihak yang terlibat sama-sama beretnis Tionghoa.

Kampung Pecinan Tambak Bayan Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim

"Gambar naga memakan ekornya sendiri itu menggambarkan (seorang) keturunan Tionghoa yang 'makan' bangsanya sendiri," urai Suseno secara simbolis kepada detikJatim, Selasa (20/1/2026).

Sayang, gambar yang mengawali perlawanan tersebut kini mulai memudar karena usia.

Selain mural, warga juga membuat berbagai karya instalasi. Lampion dibuat tidak mengikuti pakem tradisional. Bentuknya kotak (damar kurung), segitiga, hingga bebas. Bahkan pernah ada lampion yang dibuat dari fotokopi putusan pengadilan sengketa tanah. Karya itu digantung sebagai pengingat perjuangan kampung.

Namun, lagi-lagi yang tersisa hanya kenangan. Hasil karya satir yang apik itu sudah rusak karena hujan.

"Lampion yang terbuat dari fotokopi kertas hasil putusan pengadilan tentang tanah sengketa itu sudah kena air hujan karena atapnya bocor, sekalipun sudah di resin atau dilapisi, tetep aja," ingat Suseno.

Meski begitu, semangat berkarya tidak pernah padam hingga sekarang. Warga yang sebelumnya tidak bisa menggambar atau membuat kerajinan perlahan ikut terlibat. Mereka belajar membuat lampion hingga menata ruang kampung sebagai ruang seni hidup.

Kampung Pecinan Tambak Bayan Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim



Simak Video "Video: 4 Titik Rawan Kepadatan Saat Libur Imlek di Puncak Bogor"


(irb/hil)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork