Menjelang perayaan tahun baru Imlek, perajin barongsai asal Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, kebanjiran pesanan. Bahkan, barongsai buatannya telah dikirim hingga luar Pulau Jawa, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ialah Yulius Setiawan (38), warga Kecamatan Candi, Kabupaten Sidoarjo. Ia mengaku permintaan barongsai tahun ini kembali meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
"Setiap menjelang Imlek memang ramai pesanan. Setelah masa pandemi Covid-19 lewat, pesanan terus naik tiap tahun," kata Yulius saat ditemui detikJatim di tempat kerjanya, Senin (9/2/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam satu tahun terakhir, Yulius menyebut mampu menyelesaikan puluhan unit barongsai. Untuk tahun ini saja, ia mengerjakan sekitar enam unit barongsai dan tiga kepala naga atau leang-leong.
Proses pembuatan barongsai tidak bisa dilakukan secara cepat. Untuk satu kepala barongsai, Yulius membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Sementara untuk kepala naga yang ukurannya lebih besar dan detail, waktu pengerjaan bisa hampir dua bulan.
"Kalau lagi banyak pesanan, saya kerja dari siang, sore, sampai malam. Satu kepala barongsai rata-rata satu bulan, kalau naga bisa lebih lama karena badan dan detailnya panjang," ujarnya.
Dalam proses produksi, Yulius mengandalkan bahan-bahan dari dalam negeri untuk rangka dan sebagian besar material utama. Namun, ia mengaku masih harus mengimpor beberapa aksesori karena belum tersedia di Indonesia.
"Aksesori seperti mata, jenggot, dan pom-pom bulu masih harus impor dari luar negeri, sebagian dari China. Di dalam negeri belum ada yang produksi seperti itu," jelas dia.
Harga satu unit kepala barongsai yang dilengkapi dengan aksesori impor tersebut bervariasi, tergantung kualitas dan ketebalan bahan. Untuk satu set tertentu, biayanya bisa mencapai Rp 4 juta hingga Rp 6 juta.
Meski begitu, Yulius tetap berupaya menekan biaya produksi dengan memanfaatkan bahan lokal untuk bagian lain barongsai. Menurutnya, penggunaan bahan impor sepenuhnya akan membuat harga jual barongsai menjadi terlalu mahal bagi pelanggan.
Terkait pemasaran, pesanan barongsai buatannya tidak hanya datang dari wilayah Jawa Timur. Tahun ini, salah satu barongsai buatannya bahkan dikirim ke NTT.
"Pernah kirim ke luar kota juga, tahun ini ada pesanan sampai NTT. Senang karena barongsai buatan sini bisa dikenal sampai luar daerah," kata Yulius.
Ia berharap tren peningkatan pesanan barongsai ini terus berlanjut seiring makin banyaknya kelompok seni barongsai yang tumbuh di berbagai daerah.
