Kampung Tambak Bayan yang dikenal sebagai salah satu kawasan Pecinan tertua di Surabaya mulai bersolek menyambut Imlek. Memang tidak mewah, baru beberapa lampion damar kurung, gantungan kipas, serta ornamen-ornamen dari kertas lainnya yang terpasang di Rumah Besar Tambak Bayan.
Wakil Ketua RT Tambak Bayan, Suseno menuturkan, tahun ini dekorasi di Tambak Bayan lebih sederhana dibanding tahun-tahun sebelumnya. Keterbatasan waktu dan kesibukan warga membuat persiapan dilakukan seadanya. Namun, tetap kreativitas tak dilepas.
"Ini (lampion dan hiasan gantung) sudah mulai dibuat sama warga dua minggu lalu. Tapi teman-teman kan lagi banyak kerjaan, jadi kalau nanti nggak bisa, ya kami kumpulkan angpao-angpao bekas lalu direntengi (digabungkan dengan seutas tali) dan dipajang di jalanan begitu," ungkapnya kepada detikJatim, Jumat (30/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kampung Pecinan Surabaya mulai bersolek Foto: Anastasia Trifena/detikJatim |
Selain bentuknya, bahannya pun sederhana. Lampion damar kurung terbuat dari kayu atau stik bambu, kain spunbond, dan cat air atau spidol. Sementara gantungan kipas dibuat dari kertas angpao, hasil kerja sama dengan salah satu bank swasta di Surabaya.
Suseno menambahkan, lokasi pemasangan lampion nantinya akan lebih banyak di area indoor.
"Lampion kertas ini kan tidak bisa kena hujan, jadi penempatannya lebih banyak di area dalam atau indoor," jelasnya.
Setelah memasang berbagai ornamen gantungan, warga menambah sejumlah hiasan di area Rumah Besar Tambak Bayan. Ornamen-ornamen berwarna merah tersebut diletakkan di dinding depan hingga bagian dalam bangunan yang kerap jadi pusat berbagai kegiatan itu.
Macam hiasan yang dipasang beragam. Mulai dari lukisan pemandangan dengan lampion, bunga berwarna emas dan merah, serta ornamen berbentuk spiral. Sama seperti lampion yang dipajang bertahap, sisa hiasan pun juga. Sebagian masih disimpan dan ditata mendekati Imlek karena khawatir akan rusak.
"Hari ini baru saja selesai menghias dan memasang area studio foto. Tetapi masih ada beberapa ornamen termasuk atap jerami yang belum ditata karena takut rusak," ujar Suseno.
Meski dekorasinya lebih apa adanya, perayaan harus tetap istimewa. Pada hari H Imlek, yakni Selasa (17/1/2026) mendatang, pertunjukan barongsai tetap digelar. Selain itu, akan ada Tari Remo yang dibawakan oleh Sanggar Omah Dhuwur sebagai bentuk kolaborasi lintas budaya antara Tionghoa dan Jawa.
Hal ini disesuaikan dengan penduduk Tambak Bayan yang beragam. "Penduduk di sini macam-macam mbak etnis dan kepercayaannya. Kami hidup berdampingan dengan bertoleransi," tandas Suseno.
(irb/hil)












































