Tiga Kawasan Chinatown di Surabaya yang Wajib Dikunjungi Saat Imlek

Tiga Kawasan Chinatown di Surabaya yang Wajib Dikunjungi Saat Imlek

Anastasia Trifena - detikJatim
Kamis, 12 Feb 2026 16:15 WIB
Wisata Kya-kya di Jalan Kembang Jepun Surabaya.
Wisata Kya-kya di Jalan Kembang Jepun Surabaya. Foto: Deny Prastyo Utomo/detikJatim
Surabaya -

Mendekati perayaan Imlek, kawasan Chinatown menjadi destinasi yang wajib dikunjungi. Tak hanya untuk berburu kuliner, tetapi menikmati tampilan-tampilan budaya yang sesekali mengiringi. Surabaya menjadi salah satu wilayah di Indonesia yang masih memiliki kawasan Pecinan yang asri.

Kampung-kampung tersebut bagaikan saksi bisu yang menjaga perjalanan sejarah masyarakat Tionghoa di Surabaya. Karenanya setiap kali Imlek tiba, beberapa kawasan Pecinan merayakannya dengan memasang lampion merah lengkap dengan tarian barongsai ataupun nyanyian berbahasa Mandarin.

Kawasan Chinatown di Surabaya

Destinasi-destinasi ini cocok dikunjungi bersama keluarga ataupun teman. Simak beberapa kawasan Chinatown di Surabaya yang sudah dikumpulkan detikJatim dari beberapa sumber.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

1. Kya-Kya Kembang Jepun

Wisata kuliner Kya-kya di Jalan Kembang Jepun SurabayaWisata kuliner Kya-kya di Jalan Kembang Jepun Surabaya. Foto: Deny Prastyo Utomo/detikJatim

Kya-Kya Kembang Jepun merupakan kawasan Chinatown yang selalu jadi tujuan utama saat ke Surabaya. Di sini, pengunjung bisa menemukan bangunan bersejarah seperti rumah Si He Yuan, pertokoan, hingga Klenteng.

Selain wisata Sejarah, Kya-Kya terkenal dengan kuliner yang menggoda selera. Mulai dari hidangan khas Tionghoa, seperti bakpau dan kue keranjang hingga makanan lokal yang halal, seperti Bakwan Pak Di dan Sate Gulai Kambing Kembang Jepun.

ADVERTISEMENT

Merangkum beberapa sumber, kawasan ini pertama kali diperkenalkan sebagai destinasi kuliner pada 2003. Sayangnya, destinasi wisata ini sempat meredup selama beberapa tahun. Barulah pada 10 September 2022, Pemkot Surabaya meluncurkan Kya-Kya Reborn untuk menghidupkan kembali kawasan Pecinan tersebut.

Kini, selain kuliner dan pertunjukan budaya seperti barongsai dan musik keroncong, Kya-Kya dilengkapi spot foto estetik dan papan nama toko beraksara Mandarin. Hal inilah yang menjadi magnet wisatawan, terutama saat di malam hari.

2. Kapasan Dalam (Kampung Kungfu)

Kampung Pecinan Kapasan Dalam Surabaya.Kampung Pecinan Kapasan Dalam Surabaya. Foto: Surabaya Tourism

Kawasan Kapasan Dalam merupakan salah satu pusat permukiman Tionghoa tertua di Surabaya. Berbeda kelas sosial dengan Kembang Jepun yang dikenal sebagai Pecinan elit.

Terletak di Kecamatan Simokerto, kawasan ini dulu dikenal sebagai Kampung Kungfu dan menyimpan banyak bangunan bersejarah, termasuk Kelenteng Boen Bio, bekas rumah Kapten China yang kini Hotel Ganefo, dan bekas Sectie V Politie van Kapasan Soerabaia yang kini markas Polresta Surabaya Timur.

Kelenteng Boen Bio dibangun dengan arsitektur khas oleh tukang asal Tiongkok, dihiasi ornamen simbolik seperti tanjakan licin di gerbang yang melambangkan kehidupan suci yang tidak mudah dijalani.

Sejak 10 November 2020, Tourism Surabaya mencatat kawasan ini dikembangkan menjadi Wisata Kampung Pecinan Kapasan Dalam. Pengunjung bisa menikmati mural bernuansa kehidupan warga Tionghoa tempo dulu, kuliner khas, serta berfoto di lorong-lorong sempit yang masih mempertahankan arsitektur kolonial.

Kawasan ini juga tetap menjaga tradisi, seperti sedekah bumi tahunan, dan menjadi pusat penelitian serta wisata budaya, sekaligus mendukung pemberdayaan masyarakat lokal dan UMKM.

3. Tambak Bayan

Kampung Pecinan Tambak BayanKampung Pecinan Tambak Bayan. Foto: Raihan Akbar Mahendra/detikJatim

Selain Kya-Kya dan Kapasan Dalam, Surabaya juga memiliki kawasan Pecinan di Kampung Tambak Bayan, yang terletak di Alun-alun Contong, Bubutan, Surabaya. Meskipun sudah berdiri selama satu abad lebih, kampung ini masih ramai dan ditinggali oleh masyarakat Tionghoa setempat.

Merangkum dari beberapa sumber, para penghuni kawasan Tambak Bayan telah lama hidup berdampingan dan membaur dengan berbagai suku. Karenanya, kehidupan sosial di sini termasuk inklusif dan beragam.

Jejak sejarah Tambak Bayan masih dapat dijumpai hingga kini lewat struktur kampung yang padat, gang-gang sempit, serta sisa-sisa bangunan lama yang identik dengan kawasan Pecinan tempo dulu. Kampung ini juga dikenal mempertahankan tradisi budaya Tionghoa yang diwariskan secara turun-temurun.

Menjelang perayaan Imlek dan Cap Go Meh, Kampung Tambak Bayan kerap menggelar perayaan yang meriah. Mulai dari pementasan barongsai hingga wisata kuliner makanan-makanan khas Tionghoa.




(hil/irb)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads