Cagar Budaya eks gedung Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang dibongkar PT Pos Indonesia dan PT POS Property di kawasan Heritage Gresik, ternyata memiliki nilai sejarah tinggi.
Bangunan yang kini rata dengan tanah itu menjadi titik awal Belanda mendirikan loji dagang. Bangunan itu disebut merupakan bentuk kekuatan kerajaan Giri saat itu.
Arkeolog Pelesrari Cagar Budaya Gresik Khairil Anwar mengatakan, gedung eks asrama VOC itu didirikan tahun 1603, tidak lama setelah Belanda melalui VOC datang ke Gresik. Namun, pembangunan gedung tersebut tidak berjalan mulus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pembangunan gedung loji dagang itu dibangun saat Kerajaan Giri dipimpin Sunan Prapen. Saat itu, Sunan Prapen memiliki berbagai syarat agar Belanda bisa mendirikan Loji tersebut. Jadi bukan hanya sekedar pusat perdagangan internasional, tapi ini perwujudan kedaulatan Giri yang bisa mendikte kekuatan asing," kata Khairil Anwar, Senin (2/2/202).
Dari beberapa persyaratan yang diberikan Sunan Prapen saat bernegosiasi dengan VOC, berdirilah gedung pertama yang berada di sebelah utara Jalan Basuki Rahmat. Meski demikian, Sunan Prapen masih mengontrol stabilitas lokal.
"Izin yang diberikan Sunan Prapen itu pun tidak bersifat mutlak, tapi ada berbagai syarat untuk mengontrol stabilitas lokal," tambahnya.
Khairil menambahkan, bangunan yang sudah rata dengan tanah itu merupakan stadia awal dari bangunan atap kopel yang kini dikenal sebagai kantor pos. Sebagai stadia awal, bagian bawah bangunan itu digunakan untuk gudang dengan konstruksi ala kolonial dengan material didatangkan langsung dari Belanda.
"Kemudian lantai dua berkonstruksi kayu jati yang berlanggam vernakuler nusantara. Walaupun ini bangunan Belanda, untuk membangunnya Belanda harus merunduk sopan meminta izin ke Sunan Prapen. Bukti betapa hebatnya Gresik saat itu. Dari kaca mata saya, bangunan itu saya kasih skor tertinggi," ujarnya.
Namun sayang, Gedung yang memiliki nilai sejarah tinggi itu, kini sudah rata dengan tanah yang akan dibangun oleh PT POS Properti sebagai tempat parkir Wisata Bandar Grissee. Alasannya, pembongkaran untuk optimaliasi aset yang akan dikomersilkan.
Sebelumnya, publik Gresik dihebohkan dengan ratanya gedung eks VOC dengan tanah. Ironisnya, pembongkaran ini terjadi di tengah gencarnya penataan kawasan Bandar Grissee yang menjadi ikon wisata sejarah 'Kota Santri'.
Langkah pembongkaran ini dinilai kontradiktif dengan semangat pelestarian sejarah. Para penggiat budaya pun dibuat geram. Salah satu yang bersuara lantang adalah Budayawan Gresik, Kris Adji AW, yang sangat menyayangkan hilangnya jejak sejarah tersebut.
(auh/hil)
