Ini Strategi Pemasaran Sepatu Kulit Made In Mojokerto Digandrungi Gen Z

Ini Strategi Pemasaran Sepatu Kulit Made In Mojokerto Digandrungi Gen Z

Enggran Eko Budianto - detikJatim
Selasa, 14 Jul 2026 20:45 WIB
Mohammad Rizaldi pengusaha sepatu kulit Provillo yang banyak diganrungi Gen Z
Mohammad Rizaldi pengusaha sepatu kulit Provillo yang banyak diganrungi Gen Z (Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim)
Mojokerto -

Sepatu kulit made in Mojokerto yang digandrugi Gen Z pada momen tahun ajaran baru (back to school), ternyata laris manis tidak melalui pemasaran online. Perajinnya memilih strategi pemasaran jejaring reseller di sejumlah daerah.

Sepatu kulit yang digandrugi Gen Z ini diproduksi di Sinoman Gang I Nomor 9, Kelurahan Miji, Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. UMKM alas kaki ini dirintis mendiang H Samsul Huda sejak 1996 silam. Bisnis keluarga ini dilanjutkan putranya, Mohammad Rizaldi (33) sebagai generasi kedua.

Menurut Rizaldi, rata-rata dirinya memproduksi 1.500 pasang sepatu kulit berbagai model, baik untuk acara formal maupun kasual. Pemasaran terbesarnya melalui jejaring mitra reseller.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Saat ini, bapak 2 anak ini mempunyai sekitar 100 mitra reseller di beberapa daerah. Yaitu di Mojokerto sendiri, Magetan, Tulungagung, Sidoarjo, Bali, Surabaya, Pemalang dan Yogyakarta. Dari jumlah itu, sekitar 25 reseller yang aktif repeat order produknya.

"Toko ritel hanya satu di depan tempat produksi ini. Karena kalau buka toko sendiri butuh modal besar, lebih cepat main reseller," terangnya saat berbincang dengan detikJatim, Selasa (14/7/2026).

ADVERTISEMENT

Produksi sepatu kulit merek Provillo ini masih terpusat di Sinoman Gang I Nomor 9. Rizaldi mengakui belum optimal memanfaatkan platform media sosial maupun marketplace untuk memasarkan produknya.

Sebagai contoh Instagram, ia memanfaatkannya untuk mengedukasi pasar terkait desain-desain produk terbarunya. Sedangkan untuk ritel, ia manfaatkan Shopee dan TikTok. Menurutnya, ritel online maupun offline menyumbang sekitar 10% dari total penjualannya.

"Saya juga melayani maklun, sejauh ini ada permintaan dari 2 orang Malang dan Mojokerto, mereka sudah PO dan bayar DP," jelasnya.

Menjelang tahun ajaran baru 2026/2027, Rizaldi kebanjiran pesanan sepatu kulit untuk pelajar jenjang SMP dan SMA, serta mahasiswa baru. Permintaan pun naik sekitar 500% dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Ini menjadi bukti sepatu kulit masih digandrungi Generasi Z.

Saat ini, Rizaldi fokus melayani pesanan untuk momen HUT ke-81 Kemerdekaan RI. "Permintaan sepatu untuk Paskibraka (pasukan pengibar bendera pusaka) dan PDL mulai datang," ungkapnya.

Moncernya bisnis alas kaki yang ditekuni Rizaldi sejak 2011 bukan tanpa batu sandungan. Ya, usahanya sempat mati total selama pandemi COVID-19. Sebab dirinya terlena dengan model pemasaran melalui para pemain besar. Jejaringnya pun sebatas suplier, pelanggan dan tukang.

"Kesalahan saya saat itu tidak belajar. Sehingga pandemi membuat bisnis mati total. Arus barang melalui online, sedangkan saya tidak tahu caranya. Arus distribusi offline mati karena pandemi," cetusnya.

Pasca pandemi COVID-19, Rizaldi belajar strategi pemasaran, manajemen bisnis hingga mengubah mindsetnya sendiri. Yaitu dari mental produksi menjadi mental pemasaran. Jika sebelumnya ia membuat produk, lalu dipasarkan. Kini ia fokus mencerna kebutuhan pasar, baru menciptakan produknya.

Salah satunya memenuhi selera Gen Z, yakni pantofel modern dengan looks kasual. Sehingga cocok dipakai acara formal maupun santai. Salah satunya sepatu kulit dengan kode produksi SSCS dengan desain kasual.

"Kami bisa produksi berbagai model asalkan tidak keluar dari dress code, formal dan casual. Kalau sepatu sport dan running, bahan-bahannya berbeda, alat-alat prodiksi settingannya beda lagi, butuh modal besar lagi," terangnya.

Rizaldi menambahkan, saat ini tidak banyak perajin sepatu kulit yang mampu eksis di Kota Mojokerto. Selain dirinya, perajin sepatu kulit tersebar di wilayah Blooto, Miji, Kedungkwali, Cinde dan Pekayon.

"Tahun 1990an sampai 2000an, Kota Mojokerto sentra produksi alas kaki, baik sepatu kulit maupun sepatu jenis lainnya. Sekarang sudah berkurang drastis dibandingkan dulu," tandasnya.



(auh/abq)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini

Hide Ads