Di balik laris manisnya sepatu kulit made in Mojokerto yang digandrugi Gen Z pada momen tahun ajaran baru (back to school), tersimpan kode-kode unik yang patut disimak. Selain menjadi identitas desain dan harga, kode-kode produksi tersebut juga menyiratkan sejumlah cerita.
Sepatu kulit yang digandrugi Gen Z ini diproduksi di Sinoman Gang I Nomor 9, Kelurahan Miji, Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. UMKM alas kaki ini dirintis mendiang H Samsul Huda sejak 1996 silam. Bisnis keluarga ini dilanjutkan putranya, Mohammad Rizaldi (33) sebagai generasi kedua.
Dengan merek sepatu kulit Provillo, Rizaldi melahirkan ratusan desain sepatu formal maupun kasual untuk pria dan wanita. Namun, tidak semua laris manis dipasaran. Sehingga saat ini tersisa sejumlah model dengan berbagai kode produksi yang permintaannya terus mengalir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebut saja model semi boots, Rizaldi mempunyai Forgee Series seharga Rp 325.000, PDHL Rp 250.000, STBT 01 Rp 275.000, PDHP Rp 200.000. Model pantofel bertali (Derby) dengan kode produksi C19 Rp 185.000, PM 01 Rp 250.000, T 01 Rp 170.000, PM 06 Rp 250.000, PC 16 Rp 230.000, STP 01 Rp 260.000, KDI 19 Rp 230.000, serta STP 03 Rp 260.000.
Kemudian model pantofel slip on dengan kode produksi STP 02 Rp 260.000, PC 07 Rp 230.000, PC 10 Rp 230.000, PM 10 Rp 260.000, KDI 42 Rp 230.000, C 42 Rp 210.000, KDI 42, KDI 43, PM 09, C 01, MK 01, KDI 01, dan PC 01. Model loafers dengan kode produksi PM 02 Rp 250.000, Santya Rp 230.000, serta Ananta Rp 325.000.
"Kalau sepatu untuk paskibraka paling laris T 02, T 01, C 19 dan kode PDH. Untuk model kasual kami ada SSCS dengan harga Rp 350.000," terangnya kepada detikJatim di lokasi, Selasa (14/7/2026).
Rupanya banyak cerita di balik pemilihan kode produksi sepatu kulit bikinan Rizaldi. Sebagai contoh C 01 diambil dari kode sol Caledonia dan pola jahitan 01. Kode PDH akronim pakaian dinas harian yang pada awal prodiksinya banyak dipakai polisi.
Kode produksi STBT untuk menyingkat sebutan sepatu model semi boots, lalu PM dari kata Provillo merek sepatu milik Rizaldi dan Maestro kode sol yang digunakan. MK dari pola jahitan Mokasin, T dari model sol trepes atau datar untuk sepatu perempuan, lalu SSCS dari sukses casual dan sol berkode Sukses.
"Provillo nama warisan bapak, akronim dari profesional from viillage. Maknanya bahwa walaupun UMKM mikro tetap profesional menghasilkan produk yang berkualitas," jelasnya.
Menariknya lagi, sebagian kode produksi sepatu kulit ini dibuat asal-asalan. Karena sebatas untuk memudahkan peningkatan. Sebagai contoh PC dari kata Provillo Cantik. Sedangkan kode KDI memang diambil dari reality show Kontes Dangdut Indonesia.
"Kode KDI itu gara-gara sepatu peserta KDI kan kebanyakan pantofel yang unjungnya lancip-lancip," ungkapnya.
Kode produksi sepatu kulit Provillo terus bertambah seiring berkembangnya desain baru yang menyesuaikan selera pasar. Jumlah jauh lebih banyak dibandingkan ketika dikelola mendiang ayahnya sejak tahun 2003. Kala itu, kode produksinya hanya KDI, C, serta SLP dan SL untuk sepatu sandal atau selop.
Kemudian kode produksi mulai beralih menggunakan nama setelah pandemi COVID-19. Desain yang saat ini laris manis sebut saja Forgee dan Forgent Series, serta Santya. Sedangkan Ananta akan dirlis oleh Rizaldi dalam waktu dekat.
Meski begitu, bapak 2 anak ini tetap mempertahankan desain dengan kode produksi lama yang permintaannya terus datang. Sebab butuh waktu dan tenaga lebih untuk rebranding desain-desain lama.
"Kami mau menanamkan nilai-nilai atau cerita di produk itu. Misalnya Santya artinya produk ini kuat dan timeless. Forgee untuk pria eksklusif yang menjunjung tinggi nilai kelaki-lakian, looks-nya gentleman. Ananta artinya tanpa akhir atau timeless," tandasnya.
(auh/abq)
