Harga Sepatu Kulit Made In Mojokerto yang Ramai Digandrungi Gen Z

Harga Sepatu Kulit Made In Mojokerto yang Ramai Digandrungi Gen Z

Tim detikJatim - detikJatim
Minggu, 12 Jul 2026 17:20 WIB
Sepatu kulit made in Mojokerto digandrungi Gen Z
Sepatu kulit made in Mojokerto/Foto: Enggran Eko Budianto/detikJatim
Mojokerto -

Di balik ramainya tren back to school, sepatu kulit produksi perajin Mojokerto menjadi salah satu buruan generasi Z. Tak hanya mengandalkan bahan kulit sapi dan daya tahan, produk lokal ini juga diminati karena harganya yang ramah di kantong, mulai Rp 150 ribu per pasang.

Musim masuk sekolah tahun ajaran 2026/2027 menjadi berkah bagi para perajin sepatu di Kota Mojokerto. Lonjakan permintaan sepatu sekolah membuat sejumlah pelaku usaha kebanjiran pesanan hingga harus memberlakukan lembur demi memenuhi kebutuhan pasar.

Salah satu yang merasakan dampaknya ialah Mohammad Rizaldi (33), perajin sepatu asal Kelurahan Miji, Kecamatan Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Sejak libur akhir tahun ajaran dimulai pada 21 Juni 2026, pesanan sepatu sekolah terus berdatangan dengan peningkatan yang jauh di atas hari biasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Di momen tahun ajaran baru atau back to school, permintaan naik 500%. Yang diminati saat ini sepatu pantofel bertali untuk pelajar SMP, SMA dan anak kuliah yang mau Ospek," kata Rizaldi kepada wartawan di tempat usahanya, Kamis (9/7/2026).

ADVERTISEMENT

Rizaldi merupakan perajin sepatu berbahan kulit sapi asli maupun kulit sintetis. Dalam kondisi normal, usahanya memproduksi dan menjual sekitar 1.500 pasang sepatu berbagai model setiap bulan, mulai pantofel, kasual, sneaker hingga loafers.

Namun, menjelang tahun ajaran baru, permintaan melonjak drastis hingga mencapai sekitar 7.500 pasang sepatu. Produk tersebut dipasarkan menggunakan merek miliknya, Provillo, maupun merek para mitra reseller yang tersebar di berbagai daerah.

"Penjualan online belum kencang, kebanyakan pembeli datang ke sini dan permintaan dari mitra reseller kami di Yogyakarta, Magetan, Surabaya, Bali, Tulungagung sampai Pemalang," terangnya.

Lonjakan permintaan membuat proses produksi berlangsung lebih padat dari biasanya. Rizaldi mengaku harus meminta para karyawannya bekerja lembur agar seluruh pesanan dapat selesai tepat waktu.

Sepatu pantofel bertali atau model Derby menjadi produk yang paling banyak dicari. Menurut Rizaldi, model tersebut masih menjadi pilihan pelajar SMP, SMA hingga mahasiswa yang akan mengikuti orientasi atau ospek.

Untuk menjaga kualitas, ia menggunakan kulit sapi lokal asal Magetan sebagai bahan utama. Sementara bagian sol menggunakan bahan thermo plastic rubber (TPR) yang diklaim memiliki daya tahan tinggi dan tidak licin saat digunakan.

"Solnya berbahan TPR, campuran plastik untuk kekuatan dan karet untuk kelenturan. Cocok untuk medan lantai keras dan antiselip juga. Upper-nya kulit karena lebih awet," ungkapnya.

Seluruh proses produksi dilakukan di bengkel kerjanya, mulai dari pembuatan pola, pemotongan bahan, penjahitan, perakitan bagian atas sepatu dengan sol, pengepresan, proses finishing, hingga pengemasan.

Meski sebagian besar dikerjakan secara manual, Rizaldi tetap menggunakan mesin pengepres sesuai standar industri agar kualitas produknya tetap terjaga.

"Kelebihan produk kami, bahannya kulit asli, solnya TPR yang teruji awetnya. Walaupun produksi kami manual, pengepresan kami gunakan mesin sesuai standar pabrik. Sehingga durabilitasnya lebih tinggi," jelasnya.

Sepatu produksi Rizaldi dijual dengan harga yang relatif terjangkau. Untuk sepatu pantofel bertali perempuan dibanderol Rp 150 ribu hingga Rp 180 ribu per pasang, sedangkan model pria dijual mulai Rp200 ribuan.

Setelah momentum tahun ajaran baru berakhir, Rizaldi bersiap menyambut musim produksi berikutnya. Saat ini ia mulai mengerjakan sepatu Derby yang diperuntukkan bagi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) menjelang peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan RI.

"Menjelang Nataru momennya sepatu pantofel formal untuk bekerja bagi pelajar yang lulus sekolah atau kuliah, juga sepatu untuk ke gereja," cetusnya.

Usaha sepatu tersebut merupakan bisnis keluarga yang telah dirintis sejak 1996. Awalnya, ayah Rizaldi memproduksi sandal anak-anak sebelum akhirnya beralih ke produksi sepatu pada awal 2000-an karena dinilai memiliki permintaan yang lebih stabil sepanjang tahun.

"Mulai produksi sepatu setelah krisis moneter, tahun 2000-an. Karena sandal ramai menjelang lebaran saja, sedangkan sepatu, momennya sepanjang tahun," tandasnya.



(irb/hil)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads