Dolar AS Tembus Rp18 Ribu, Lapak Money Changer Cenderung Sepi

Muhammad Aminudin - detikJatim
Selasa, 09 Jun 2026 15:45 WIB
Salah satu money changer di Kota Malang. (Foto: Muhammad Aminudin/detikJatim)
Kota Malang -

Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terus meroket hingga Rp 18.187 ribu hari ini. Kenaikan nilai dollar tidak serta-merta memicu gelombang aksi ambil untung di daerah. Di Kota Malang, aktivitas transaksi di sejumlah jasa penukaran valuta asing atau money changer justru terpantau lesu.

Alih-alih ramai diserbu warga yang ingin menukarkan dolar mereka ke rupiah, sebagian besar masyarakat justru memilih mengambil sikap untuk menunggu dan memperhatikan pergerakan pasar. Imbasnya, volume transaksi harian penyedia jasa penukaran uang mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Staf salah satu money changer di Kota Malang Vera mengungkapkan bahwa lonjakan kurs dolar kali ini belum mampu mendongkrak gairah aktivitas jual beli valas. Ia melihat ada kecenderungan kuat di mana kedua belah pihak, baik calon pembeli maupun penjual sama-sama memilih untuk menahan diri.

"Yang mau tukar dari dolar ke rupiah nunggu harganya naik lagi, sedangkan yang mau beli nunggu harganya turun. Sepertinya kayak gitu kondisinya," kata Vera kepada wartawan, Selasa (9/6/2026).

Vera menjelaskan, perlambatan aktivitas ini mulai terasa sejak kurs dolar AS merayap naik mendekati Rp18 ribu. Pada situasi normal saat kurs bergerak stabil di kisaran Rp16 ribu hingga Rp17 ribu per dolar AS, perputaran uang dari berbagai mata uang asing di tempatnya bekerja dengan mudah menembus angka di atas Rp50 juta per hari.

Pemandangan berbeda terlihat dalam beberapa hari terakhir. Antrean panjang yang biasanya menjadi pemandangan lumrah, kini tampak lengang.

"Justru kemarin hari Sabtu itu sepi. Biasanya banyak yang antre, kemarin nggak seberapa. Mungkin masih pada nunggu juga," ujarnya menambahkan.

Meski penurunan total transaksi belum sampai menyentuh angka 50%, Vera mengakui bahwa rata-rata omzet harian saat ini terkoreksi ke kisaran Rp30 juta dan kesulitan untuk mencapai angka Rp40 juta dalam sehari.

Menurut Vera masyarakat yang memiliki aset dolar AS saat ini lebih memilih untuk menyimpannya di dompet digital atau rekening mereka dengan harapan nilai tukar dollar terus merangkak naik lebih tinggi lagi dalam waktu dekat.

"Orang-orang cenderung menyimpan dolar mungkin ya, jadi nggak mau ditukar ke rupiah. Harapannya dolar masih akan naik lagi," tutur Vera.

Kondisi dilematis ini diperparah oleh sisi permintaan. Warga yang membutuhkan dolar AS untuk berbagai keperluan seperti bisnis atau pendidikan terpaksa menunda pembelian sembari berharap ada koreksi harga atau penurunan kurs dalam beberapa hari ke depan.

Efek domino dari lesunya transaksi ini ternyata tidak hanya memukul dolar AS, melainkan juga merembet ke mata uang regional yang biasanya tinggi peminat seperti dolar Singapura, ringgit Malaysia, dan baht Thailand, yang kerap diburu oleh pelancong lokal ke Asia Tenggara.

Di tengah lesunya pasar domestik, pergerakan transaksi justru sedikit tertolong oleh aktivitas wisatawan mancanegara yang sedang berlibur di Kota Malang. Para turis asing terpantau tetap rutin menukarkan mata uang mereka, seperti euro dan dolar AS, ke dalam rupiah dengan nominal berkisar antara Rp2 juta hingga Rp15 juta per orang.

Hanya saja, kontribusi dari sektor pariwisata ini belum mampu mendongkrak performa money changer secara keseluruhan karena pola kunjungan yang singkat.

"Biasanya mereka ke sini hanya transit, terus lanjut ke Bali atau Banyuwangi. Jadi di sini nggak seberapa banyak," pungkas Vera.



Simak Video "Video: Gubernur BI Siapkan 7 Jurus Agar Rupiah Menguat"

(auh/dpe)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork