Pengusaha Tahu Pacitan Ancang-ancang Naikkan Harga Jual, Ini Penyebabnya

Pengusaha Tahu Pacitan Ancang-ancang Naikkan Harga Jual, Ini Penyebabnya

Purwo Sumodiharjo - detikJatim
Jumat, 30 Sep 2022 11:03 WIB
Pengusaha Tahu Pacitan Ancang-ancang Naikkan Harga Jual
Pengusaha tahu di Pacitan (Foto: Purwo Sumodiharjo/detikJatim)
Pacitan -

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) membawa dampak beruntun bagi produksi bahan pangan. Salah satunya tahu. Pengusaha pun terpaksa mengambil keputusan menaikkan harga jual produk demi bertahan.

"(Kenaikan harga) ini sudah menjadi kesepakatan teman-teman pengusaha sejumlah 40 orang," kata Doni Winoto, pemilik pabrik pengolahan tahu di Desa Arjowinangun, Jumat (30/9/2022).

Kenaikan dimaksud menurut rencana akan mulai diberlakukan bersamaan awal bulan Oktober. Adapun besarannya sebesar Rp 2 ribu per papan. Yakni dari semula Rp 26 ribu menjadi Rp 28 per papan. Tiap papan biasanya diiris menjadi 35 hingga 85 potong.

Naiknya harga jual tahu, lanjut Doni tak berarti dirinya mengeruk keuntungan lebih banyak. Pasalnya, harga kedelai di pasaran juga sama-sama melambung. Apalagi bahan baku tahu mengandalkan kedelai impor.

"Sebenarnya kalaupun naik Rp 2 ribu untungnya juga ndak banyak, karena bahannya juga semakin mahal," terangnya.

Doni lantas memaparkan lonjakan harga kedelai di pasaran. Saat ini produk pertanian jenis biji-bijian itu dibanderol Rp 12.800 per kilogram. Nominal itu naik Rp 200 dari pekan-pekan sebelumnya.

Bahkan jika dibanding kondisi sebelum pandemi, harga kedelai saat ini terbilang melambung. Kala itu harga kedelai impor hanya Rp 7 ribu per kilogram.

"Padahal setiap harinya di sini membutuhkan sekitar 500 kilogram kedelai untuk diproduksi," katanya.

"Dan seperti kita ketahui biaya BBM juga semakin mahal, belum lagi ongkos lainnya," keluh Doni.

Bagi Doni, menaikkan harga jual tahu merupakan keputusan sulit. Pun solusi itu dianggap yang terbaik untuk saat ini. Sebelumnya dirinya sempat berpikir menekan biaya produksi hingga memperkecil ukuran tahu.

Hanya saja langkah itu batal diambil karena pertimbangan dampak sosial bagi pelanggan.

"Pelanggan sudah kita kasih pengertian jauh-jauh hari dan sebagian besar bisa memaklumi," pungkasnya seraya mengharapkan peran pemerintah menormalisasi harga kedelai.



Simak Video "Para Pengendara Ini Menghindar Karena Dikira Razia, Ternyata..."
[Gambas:Video 20detik]
(fat/fat)