Akademisi UB Minta Pemerintah Pikirkan Matang Rencana Kenaikan Cukai Rokok

M Bagus Ibrahim - detikJatim
Kamis, 29 Sep 2022 22:54 WIB
Tarif cukai & harga jual eceran rokok 2022
Ilustrasi cukai rokok. (Infografis detikcom/M Fakhry Arrizal)
Malang -

Peneliti dari Pusat Penelitian Kebijakan Ekonomi (PPKE) Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya (UB) Imania Eka Dalilah menyorot soal wacana kenaikan cukai rokok tahun depan. Menurutnya, pemerintah perlu berpikir secara matang sebelum benar-benar menerapkan kebijakan tersebut. Misalnya, dampak ekonomi dan sosial ke masyarkat.

"Pemerintah perlu memutuskan kenaikan cukai rokok itu secara berimbang dengan melakukan rembug bersama dengan semua pemangku kepentingan," ujar Imanina, Kamis (29/9/2022).

Dengan begitu, kata Imanina, dampak ekonomi dan sosial atas kebijakan kenaikan cukai nantinya jadi bisa dikendalikan. Sebab, kebijakan cukai ini bukan soal pendapatan negara maupun kesehatan semata. Banyak yang bakal terdampak dalam kebijakan cukai di Indonesia, mulai dari tenaga kerja, industri, hingga pertanian.

Menurut Imanina, kenaikan cukai yang diputuskan secara tidak berimbang akan berpotensi besar mendorong angka inflasi di Indonesia menjadi semakin dalam.

"Saya kira semua setuju, kenaikan BBM dan kondisi ekonomi global berpotensi menaikkan angka inflasi, karenanya harus ada upaya sungguh-sungguh menahannya," kata dia.

Bank Indonesia (BI) memprediksi inflasi 2022 bisa tembus 6% pascakenaikan harga BBM. Dikatakan Imanina, Kebijakan menaikkan cukai rokok bakal menambah beban berat inflasi yang ditanggung masyarakat.

"Di sini lah prinsip-prinsip keberimbangan diperlukan, besaran angka potensi angka inflasi itu seharusnya jadi pertimbangan," imbuhnya.

Imanina merasa perlu mengingatkan lagi pemerintah soal IHT (Industri Hasil Tembakau) yang memiliki peran strategis di dalam perekonomian Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan kontribusinya terhadap penerimaan negara yang mencapai 11% dari total penerimaan pajak dan mampu menyerap tenaga kerja sekitar 6 juta tenaga kerja.

IHT juga memiliki keterkaitan yang besar pada penyerapan tenaga kerja di sektor lainnya, yaitu sebanyak 2,9 juta pedagang eceran, 150 ribu buruh pabrik rokok, 60 ribu karyawan pabrik, 1,6 juta petani cengkeh dan 2,3 juta petani tembakau.

Imanina mengakui, kenaikan cukai rokok memang tak terhindarkan karena beberapa hal untuk kondisi saat ini. Selain guna mengejar target pendapatan negara, juga seiring upaya pemerintah mengendalikan konsumsi rokok di tengah masyarakat.

Namun, dia mengingatkan, kenaikan cukai yang berlanjut pada naiknya harga rokok tidak serta-merta berimplikasi langsung pada menurunnya prevalensi perokok. Hal itu seiring dengan hasil riset lembaganya beberapa waktu lalu.

"Dampak kenaikan harga rokok itu ternyata justru lebih besar terhadap peningkatan peredaran rokok ilegal dan penurunan pabrik rokok, itu yang juga perlu diketahui," terang Imanina.

Peredaran rokok ilegal dan penurunan pabrik rokok, imbuh dia, yang menjadi dekat dengan dampak sosial jika cukai rokok dinaikkan di angka yang tidak seimbang. Dia menyinggung insiden pembakaran tembakau di Pamekasan, Madura, beberapa waktu lalu.

Menurut Imanina, insiden itu tak perlu terjadi apabila tembakau di Indonesia mampu terserap dengan baik oleh produsen rokok. "Tak heran jika pada akhirnya petani tembakau di Madura berupaya melindungi hasil pertanian mereka, hal-hal begini perlu jadi perhatian pemerintah," tuturnya.

Sementara itu, Ketua DPP Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Achmad Baidowi, menyampaikan bahwa pemerintah harus benar-benar serius melakukan kajian sebelum memutuskan menaikkan kembali cukai rokok tahun depan.

"Jangan hanya karena mengejar target pendapatan, nasib petani diabaikan. Buat kebijakan yang sebijak-bijaknya, apalagi mengingat tantangan ekonomi ke depan juga akan semakin berat pascapandemi. Perlu jalan tengah. Dan itu tidak bisa hanya mempertimbangkan satu sisi saja," kata dia.

Pria yang menjabat sebagai sekretaris Fraksi PPP di DPR RI itu menambahkan bahwa publik telah dikejutkan dengan insiden pembakaran truk bermuatan tembakau di Madura beberapa waktu lalu. Anggota dewan dari dapil Madura itu berharap kejadian tersebut tidak sampai terulang, apalagi hingga ada aksi balasan dari daerah lain.

Lanjut Baidowi, Insiden itu harus jadi momentum pemerintah untuk membenahi industri tembakau secara menyeluruh dengan mempertimbangkan nasib para pelaku industri tembakau.

"Terus terang kami sangat prihatin dengan terjadinya insiden tersebut. Kami menangkap ada kegelisahan yang kuat dari para petani atas nasib dan masa depan mereka ke depan. Terutama, terkait beberapa kebijakan maupun rencana kebijakan yang telah dan akan dibuat pemerintah terkait pertembakauan," tandasnya.



Simak Video "Pemerintah Naikkan Cukai Rokok 10% Tahun Depan!"
[Gambas:Video 20detik]
(dpe/dte)