Upaya Angkat Kopi Rakyat, Banyuwangi Siapkan Inovasi Kembange Kopi

Ardian Fanani - detikJatim
Kamis, 11 Agu 2022 23:31 WIB
Pembahasan inovasi kopi Banyuwangi
Pembahasan inovasi kopi Banyuwangi. (Foto: Ardian Fanani/detikJatim)
Banyuwangi -

Upaya mengangkat kopi rakyat terus dilakukan Pemkab Banyuwangi. Pemkab bakal mengembangkan kopi instan seduh sachet yang digandrungi masyarakat saat ini.

Persiapan pun dilakukan mulai penanganan hingga pemilihan kopi dengan baik. Tak hanya itu, upaya sertifikasi Indikasi Geografis (IG) kopi Banyuwangi pun dilakukan.

Inovasi ini tertuang dalam program 'Kembange Kopi' atau Kiat Kembangkan Ekonomi Kopi Rakyat.

"Upaya kami mengangkat kopi rakyat Banyuwangi agar lebih dikenal. Termasuk menciptakan inovasi baru dalam minuman kopi sachet, tapi yang benar-benar kopi asli dan mudah dikonsumsi," ujar Ilham Juanda, Kepala Bidang (Kabid) Perkebunan dan Hortikultura Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi.

Ia menyampaikan itu dalam Bimtek Inovasi Kembange Kopi Kegiatan Indikasi Geografis (IG) kopi Banyuwangi, di Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, Kamis (11/8/2022).

Dalam inovasi ini, kata Ilham, Dinas Pertanian dan Pangan (Disperta) Banyuwangi menggandeng Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Jember dan Balai Besar Perbenihan dan Proteksi Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Surabaya.

"Inovasi ini dilakukan dengan cara mengoptimalkan panen dan penanganan pasca panen. Serta menyediakan unit pengolahan hasil panen kopi sehingga petani dapat menghasilkan produk instan kopi lokal siap seduh dalam sachet," tambahnya.

Menurutnya, produk kopi instan memiliki segmen pasar besar dan didominasi oleh produk pabrikan. Pekebun kopi secara umum menjual hasil panen dalam bentuk buah kopi sehingga belum mempunyai nilai tambah produk.

"Dalam inovasi ini kami berupaya meningkatkan produktivitas kebun kopi yang dikelola petani. Kami juga pilih kualitas hasil panen kopi dengan cara penanganan pasca panen kopi dan unit pengolahan kopi yang berstandar. Dan terpenting adalah peningkatan branding melalui sertifikasi IG (Indikasi Geografis) kopi Banyuwangi," tambahnya.

Selain itu dinas juga bakal menyediakan unit pengolahan hasil panen kopi sehingga petani dapat menghasilkan produk instan kopi lokal siap seduh dalam sachet.

"Target kami adalah peningkatan kuantitas dan kualitas produk kopi instan lokal yang disarikan dari biji kopi original tidak menggunakan bahan essence atau perasa kopi," katanya.

Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi pun sudah menyiapkan beberapa kelompok tani kopi. Di antaranya Poktan Kopi Rejo, Kelurahan Gombengsari, Kecamatan Kalipuro; Poktan Ladang Subur, Desa Telemung Kecamatan Kalipuro; Poktan Madusari Desa Tamansari Kecamatan Licin; Poktan Nogo Suci, Desa Bayu Kecamatan Licin dan Poktan Upaya Jaya, Desa Kalibaru Wetan Kecamatan Kalibaru.

"Kami dampingi mereka hingga terbit sertifikasi IG (Indikasi Geografis) Kopi Banyuwangi," pungkasnya.

Dalam kesempatan itu peneliti dari Puslitkoka Jember Djoko Soemarno menyatakan keinginan Banyuwangi dalam penerapan IG untuk mengangkat produk kopi rakyat sangat bagus.

Hal ini sejalan dengan diakuinya pemerintah sistem Indikasi Geografis, sebagaimana tertuang pada Undang-Undang (UU) No.20 tahun 2016 tentang Merek dan Indikasi Geografis.

"Penggunaan sertifikasi Indikasi Geografis pada produk khas suatu wilayah sangat menguntungkan baik bagi masyarakat lokal yang mengembangkan produk tersebut dari budayanya maupun bagi konsumen yang dapat merasa aman membeli produk asli dan berkualitas, serta tidak disesatkan," tegasnya.

Tentunya, sebelum mencapai Indikasi Geografis itu, kata Djoko, dibutuhkan upaya maksimal dalam penanganan tanaman kopi dan hasil panen dengan kualitas yang baik.

"Yang terpenting adalah menciptakan kopi yang nikmat melalui budidaya tanaman kopi berdasar GAP (Good Agriculture Practises) dilakukan oleh petani dengan pendampingan petugas teknis/PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan)," pungkasnya.



Simak Video "Ini Tampang Pelaku Onani di Depan Pendopo Banyuwangi"
[Gambas:Video 20detik]
(dpe/iwd)