Tiga siswa di Ponorogo mengembangkan website digitalisasi sejarah lokal kawasan Sendang Beji. Menariknya, situs bersejarah tersebut tidak hanya disajikan dalam bentuk foto dan tulisan, tetapi juga dilengkapi visualisasi tiga dimensi (3D) hingga fitur jelajah lingkungan secara digital.
Ketiga siswa tersebut yakni Auliya Fathiyyatul Maghfiroh dari kelas XI, Ilham Rofi Anugrah dari kelas XI, dan Annisa Tri Yulianti dari kelas XII. Mereka mengembangkan website tersebut untuk mengikuti Lomba Penulisan Sejarah Lokal yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Jawa Timur 2026.
Ilham Rofi Anugrah (16) menjelaskan, website tersebut dirancang untuk mengenalkan sejarah kawasan Sendang Beji melalui media digital yang lebih interaktif. Pengunjung dapat melihat visualisasi patung dalam bentuk 3D, membaca cerita rakyat dan mitos setempat, hingga menelusuri linimasa sejarah.
"Ini website gunanya buat mendigitalisasikan situs dari Beji. Website-nya tidak cuma menampilkan patung dalam bentuk 3D, tetapi juga ada cerita rakyat atau mitosnya, deskripsi lain, linimasa sejarah, dan dokumentasi waktu observasi," kata Ilham, Jumat (30/10/2026).
Tak hanya itu, website tersebut juga menyediakan fitur jelajah lingkungan 3D. Melalui fitur ini, pengguna bisa melihat kawasan Sendang Beji dalam bentuk digital dan menjelajahi lingkungan situs tanpa harus datang langsung ke lokasi.
Ilham mengungkapkan ide penggunaan teknologi 3D muncul karena media digital yang umum digunakan untuk mengenalkan sejarah, seperti foto dan video, dinilai masih memiliki keterbatasan. Menurutnya, media tersebut cenderung satu arah sehingga pengguna tidak bisa melihat objek dari berbagai sisi secara bebas.
"Kalau foto dan video itu kurang interaktif dan sifatnya linear atau satu arah. Pengguna tidak bisa melihat sisi lain yang tidak terekam kamera. Nah, dengan 3D ini objeknya bisa diputar-putar," jelasnya.
Dalam proses pembuatannya, tim memanfaatkan aplikasi Polycam untuk memindai objek menggunakan metode photogrammetry. Pemindaian dilakukan dengan iPhone seri Pro yang memiliki sensor LiDAR. Hasil pemindaian kemudian diolah menggunakan Blender untuk merapikan model tiga dimensi.
"Data mentah dari Polycam itu diproses, kemudian dimasukkan ke Blender untuk dirapikan. Setelah itu disusun dengan skema yang lain," terang Ilham.
Sementara itu, proses desain website dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari Canva, Google Stitch, hingga Figma. Setelah desain selesai, tim memanfaatkan AI Agent atau coding agent untuk mengubah desain tersebut menjadi kode website.
Ilham menegaskan penggunaan kecerdasan buatan dalam proyek tersebut bukan untuk menentukan desain, melainkan membantu menerjemahkan rancangan yang telah dibuat menjadi sebuah website.
"Fungsi coding agent itu cuma mengonversi desain menjadi website, bukan yang menentukan desainnya. Jadi seperti kita desain poster, kemudian dijadikan website, AI itu membantu menulis kodenya," ungkapnya.
Meski demikian, proses pengembangan website tidak sepenuhnya berjalan mulus. Salah satu kendala yang dihadapi adalah hasil pemindaian objek yang belum rapi, terutama pada bagian tepi model 3D.
Tim sempat mencoba menggunakan teknologi Gaussian Splat dengan bantuan drone. Namun, metode tersebut akhirnya tidak dilanjutkan karena hasilnya kurang rapi dan membutuhkan waktu cukup lama untuk proses penyempurnaan.
Sebagai alternatif, mereka membuat model lingkungan secara mandiri menggunakan Blender. Hasilnya memang belum terlalu realistis, tetapi dinilai cukup untuk mendukung fitur jelajah digital.
"Kesulitannya itu hasil scan tidak rapi. Awalnya pakai Gaussian Splat dengan drone, tetapi tidak jadi karena hasilnya kurang rapi dan butuh banyak waktu untuk merapikan. Akhirnya dibuat sendiri di Blender, meskipun bentuknya masih kotak-kotak dan belum terlalu realistis," tuturnya.
Untuk proses pemindaian, Ilham menyebut tim membutuhkan waktu sekitar satu hari. Sementara pengerjaan kode website memakan waktu sekitar dua hari secara intensif.
Ke depan, Ilham berharap website digitalisasi Sendang Beji tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut dan terintegrasi dengan Google Maps. Dengan begitu, masyarakat bisa lebih mudah menemukan lokasi situs sekaligus mengakses informasi sejarahnya.
"Kalau bisa dimasukkan ke Google Maps. Di Beji kan sudah ada peta dan lokasinya. Tapi untuk informasinya nanti harus minta izin dulu, baru dimasukkan," pungkasnya.
Selain menghadirkan digitalisasi sejarah, karya siswa Ponorogo ini juga mengusung konsep inklusivitas. Website tersebut dilengkapi laboratorium 16 sendi biomekanik tangan dalam bentuk 3D yang dirancang ramah bagi pengguna Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo).
Fitur tersebut masih berupa prototipe dan menggunakan daktilologi satu tangan untuk mengeja kata-kata asing atau istilah yang belum tersedia dalam bahasa isyarat.
Salah satu anggota tim, Auliya Fathiyyatul Maghfiroh mengatakan, konsep inklusif tersebut sengaja dihadirkan agar digitalisasi sejarah bisa diakses lebih luas, termasuk oleh teman tuli.
"Biasanya karya-karya sejarah seperti digitalisasi sejarah itu untuk umum. Teman-teman yang memiliki keterbatasan terkadang sedikit tersingkirkan atau terlupakan. Akhirnya kami mengangkat teman tuli karena di sekolah kami juga ada salah satu murid yang memiliki kekurangan tuna rungu," tambahnya.
Melalui karya tersebut, ketiga siswa berharap sejarah lokal Sendang Beji dapat dikenal lebih luas, sekaligus menjadi contoh pemanfaatan teknologi digital untuk menghadirkan pembelajaran sejarah yang interaktif dan inklusif.
Kepala Sekolah MAN 2 Ponorogo, Agung Drajatmono menambahkan pihaknya mendukung siswa-siswinya saat mengikuti ajang perlombaan yang bisa menambah prestasi.
"Apapun langkah anak-anak untuk meraih prestasi kami selalu mendukung penuh," pungkas Agung.
Simak Video "Video: Kemeriahan Larungan Telaga Ngebel, Ikan Nila 3 Kuintal Jadi Rebutan"
(abq/hil)