Gunung Lawu tak hanya dikenal sebagai gunung sakral di Pulau Jawa, tetapi juga lekat dengan berbagai legenda dan mitos yang mengakar di tengah masyarakat. Beragam kisah turun-temurun menyelimuti gunung ini, mulai dari cerita kerajaan, laku spiritual, hingga kisah-kisah mistis yang masih dipercaya sebagian orang.
Di balik pesona alamnya yang memukau, Gunung Lawu dipandang sebagai ruang sakral yang menyimpan sejarah panjang dan kepercayaan masyarakat setempat. Legenda, mitos, serta cerita mistis yang menyertainya terus diwariskan dari generasi ke generasi. Berikut ulasan mengenai legenda dan mitos Gunung Lawu.
Gunung Lawu terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Secara administratif, puncaknya yang mencapai ketinggian 3.265 mdpl berada di antara Kabupaten Karanganyar (Jawa Tengah), Kabupaten Magetan, dan Kabupaten Ngawi (Jawa Timur).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Legenda Gunung Lawu
Legenda Gunung Lawu erat kaitannya dengan Kerajaan Majapahit. Keterkaitan tersebut kerap dihubungkan dengan keberadaan Candi Cetho dan Candi Sukuh yang berada di lereng gunung.
Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, puncak Gunung Lawu menjadi tempat bersemayam raja terakhir Majapahit, Prabu Brawijaya V, yang juga dikenal sebagai Bhre Kertabhumi atau Raden Alit.
Konon, kisah ini bermula saat Kerajaan Majapahit berperang melawan Kerajaan Keling atau Kediri yang dipimpin Raja Girindra Wardhana sekitar tahun 1478. Setelah mengalami kekalahan, Prabu Brawijaya V memilih mengasingkan diri ke Gunung Lawu dan menghabiskan sisa hidupnya sebagai seorang pertapa.
Suatu ketika, salah seorang putra Prabu Brawijaya V datang dari Kadipaten Cepu membawa kabar tentang situasi kerajaan. Mendengar kabar tersebut, sang raja kemudian memerintahkan pasukannya untuk bertempur. Dalam peperangan itu, Wangsa Menggala dan Dipa Menggala turut berperan.
Menurut legenda, peperangan tersebut hanya menyisakan Wangsa Menggala, Dipa Menggala, dan Adipati Cepu. Setelah itu, Prabu Brawijaya V mengangkat Dipa Menggala sebagai patih penjaga Gunung Lawu beserta empat penjuru mata anginnya. Sementara Wangsa Menggala diberi tugas membantu keturunan Prabu Brawijaya V yang mendaki Gunung Lawu.
Usai memberikan amanat tersebut, Prabu Brawijaya V dikisahkan moksa atau menghilang beserta jasad dan raganya di puncak Gunung Lawu. Hingga kini, masyarakat setempat meyakini Wangsa Menggala menjelma menjadi Burung Jalak Lawu yang dipercaya kerap menolong pendaki yang tersesat.
Meski kisah moksa Prabu Brawijaya V merupakan bagian dari legenda, jejak pengaruh Majapahit di kawasan Gunung Lawu kerap dikaitkan dengan keberadaan peninggalan sejarah dan berkembangnya masyarakat beragama Buddha di lereng gunung.
Dalam buku "Madiun dalam Kemelut Sejarah" karya Ong Hok, disebutkan pula bahwa Raden Patah mengutus adiknya, Raden Alkali, untuk menyebarkan agama Islam kepada masyarakat di lereng timur Gunung Lawu.
Mitos-mitos Gunung Lawu
Selain legenda yang dikaitkan dengan Prabu Brawijaya V, Gunung Lawu juga dikenal dengan beragam mitos yang masih dipercaya sebagian masyarakat dan pendaki hingga kini. Berikut mitos-mitos yang berkembang secara turun-temurun dan menjadi bagian dari tradisi serta budaya yang melekat pada gunung ini.
1. Pasar Setan
Di balik keindahan Gunung Lawu, tersimpan kisah mistis yang telah lama berkembang. Salah satu lokasi yang kerap dikaitkan dengan cerita tersebut adalah Hargo Dalem. Menurut kepercayaan setempat, puncak ini merupakan tempat sakral dan sering digunakan untuk berdoa, bermeditasi, atau melakukan laku spiritual.
Selain Hargo Dalem, terdapat Hargo Dumilah yang merupakan puncak tertinggi Gunung Lawu. Puncak ini juga dianggap memiliki nilai spiritual dan kerap dikaitkan dengan berbagai legenda yang berkembang di kalangan masyarakat maupun pendaki.
Salah satu mitos yang paling populer adalah keberadaan Pasar Setan di kawasan Gunung Lawu. Konon, sejumlah pendaki mengaku pernah mendengar suara riuh layaknya aktivitas jual beli, meski tidak melihat siapa pun.
Ada pula cerita tentang suara yang menawarkan barang atau meminta pendaki mengambil benda-benda di sekitar, seperti daun maupun ranting. Kisah-kisah tersebut menjadi bagian dari cerita rakyat yang terus diwariskan dan menambah kesan mistis Gunung Lawu.
2. Larangan Baju Warna Hijau
Seperti halnya tempat-tempat yang dianggap sakral, Gunung Lawu juga memiliki sejumlah pantangan yang dipercaya masyarakat. Salah satu mitos yang paling dikenal adalah larangan mengenakan pakaian berwarna hijau saat mendaki.
Konon, pendaki yang memakai pakaian hijau berisiko "dipanggil" atau diculik Ratu Pantai Selatan. Meski tidak ada bukti yang mengaitkan Gunung Lawu dengan Pantai Selatan, kepercayaan ini masih dipegang sebagian masyarakat dan pendaki sebagai penghormatan terhadap tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Ada pula mitos yang menyarankan agar pendakian tidak dilakukan dengan jumlah anggota ganjil. Walaupun tidak ada aturan resmi mengenai hal tersebut, sebagian masyarakat setempat meyakini rombongan pendaki yang berjumlah ganjil lebih rentan mengalami gangguan atau kejadian mistis selama perjalanan.
Baca juga: Cerita Gunung Penanggungan Memaku Pulau Jawa |
3. Diikuti Penunggu Setempat
Sejumlah pendaki mengaku pernah mengalami pengalaman yang dianggap mistis saat mendaki Gunung Lawu. Pengalaman ini umumnya terjadi di Pos 4. Konon, lokasi ini menjadi rute pendakian paling angker. Para pendaki sering merasakan perbedaan suhu yang aneh atau perasaan mereka sedang diikuti makhluk gaib.
4. Mitos Sendang Drajat
Sendang Drajat adalah sumber mata air di sekitar Gunung Lawu. Masyarakat setempat meyakini bahwa siapapun yang meminum air dari sendang ini akan mendapat manfaat tetap awet muda. Sendang Drajat tidak hanya sekedar sumber air, tetapi menjadi tempat spiritual yang mencerminkan hubungan alam dan manusia.
5. Burung Kyai Jalak
Burung Kyai Jalak sering dikaitkan dengan legenda Prabu Brawijaya V. Masyarakat setempat percaya, Kyai Jalak merupakan sosok penunggu setia yang berubah menjadi seekor burung jalak. Konon, burung ini hanya akan menampakkan diri pada mereka yang sopan dan mempunyai niat baik.
6. Berperilaku Sopan
Pendaki harus menjaga etika dan tidak merusak lingkungan selama di Gunung Lawu. Beberapa kisah pendaki yang hilang atau tersesat dikaitkan dengan perilaku kurang sopan atau tidak mematuhi etika. Meremehkan keberadaan Gunung Lawu hingga bersikap tidak sopan dipercaya menyebabkan kejadian yang tidak diinginkan.
7. Aktivitas Spiritual
Terdapat tiga puncak utama di Gunung Lawu yang dinilai sakral. Ketiga tempat ini sering digunakan masyarakat untuk melakukan aktivitas spiritual. Puncak pertama adalah Harga Dalem, puncak kedua adalah Harga Dumiling, dan puncak ketiga adalah Harga Dumillah.
